Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo BRTI. sumber: majalahict.com

Logo BRTI. sumber: majalahict.com

BRTI Larang Penggunaan BTS Tiruan

GR, Jumat, 19 April 2019 | 09:56 WIB

JAKARTA - Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengimbau kepada semua pihak untuk tidak memperdagangkan dan menggunakan perangkat tiruan, atau disebut (Fake) Base tranceiver Station ( Fake BTS).

Alasan pelarangan dilakukan karena perangkat tersebut mampu berfungsi dan disalahgunakan untuk mengirimkan layanan pesan singkat (short message service/SMS) kepada pelanggan tanpa izin komersial.

Selama ini, Fake BTS sering dimanfaatkan untuk penyebarluasan konten negatif, antara lain informasi palsu (hoaks), provokasi, ujaran kebencian, dan pelanggaran konten informasi negatif lainnya dengan menggunakan media SMS.

Ketua BRTI Ismail mengatakan, pihaknya menemukan adanya penggunaan SMS Blaster, atau Mobile Blaster, atau Fake BTS untuk penyebaran SMS yang berisi konten negatif.

Tindakan tersebut pun dinilainya telah melanggar Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (UU Telekomunikasi) dan UU Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Eelektronik (UU ITE).

“Kami minta semua pihak terkait untuk berhenti menggunakan perangkat yang tanpa sertifikasi Kemenkominfo semacam itu,” kata Ismail, yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) seperti dikutip dari laman kominfo.go.id, Selasa (16/4).

Menurut dia, pihaknya juga telah meminta kepada para vendor perangkat dan toko-toko untuk tidak lagi melakukan penjualan perangkat SMS Blaster/Mobile Blaster/Fake BTS yang tidak sesuai ketentuan.

Ada pun kepada platform penyedia perdagangan secara elektronik (e-commerce) dan toko dalam jaringan (online) juga diminta untuk menutup iklan yang menawarkan dan penjualan perangkat Fake BTS.

“Penggunaan perangkat semacam itu untuk penyebaran konten negatif melanggar UU Telekomunikasi dan UU ITE, sehingga dapat dikenai sanksi sesuai hukum yang berlaku,” tegas Ismail.

Tim dari Ditjen SDPPI bersama Balai Monitor Frekuensi Radio dan Korwas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Kemenkominfo juga terus melakukan monitoring penjualan SMS Blaster/Mobile Blaster/Fake BTS ke toko-toko fisik (offline) berdasarkan informasi dari operator seluler maupun penelusuran di dunia maya.

Selain terkait dengan Fake BTS, penyebaran konten negatif melalui SMS ditengarai terkait dengan para penyedia konten SMS yang melakukan pengiriman SMS dalam jumlah besar (blasting) namun menutupi identitas pengirimnya (masking). Hal semacam ini dapat dilakukan oleh penyedia konten SMS yang memiliki kerja sama dengan operator seluler.

“Kami juga mengingatkan kepada para operator seluler untuk melakukan peran pengawasan dan pengendalian dengan cara memberi penegasan dan mengingatkan para mitranya agar tidak menyalahgunakan tujuan kerja sama tersebut,” pungkas Ismail.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA