Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Netflix. Foto: Andr

Ilustrasi Netflix. Foto: Andr

Budaya Kerja Adaptif a la Netflix Yang Inovatif, Cepat dan Lincah

Sabtu, 19 September 2020 | 22:17 WIB
Fajar Widhiyanto

Ketika virus Covid-19 merebak dari kota Wuhan provinsi Hebei di Tiongkok akhir tahun lalu, dan berikutnya menyebar ke seluruh dunia sebagai pandemi, dunia telah dipaksa beradaptasi dengan cara yang tak terduga sebelumnya. Di masa depan, begitu pandemi bisa diatasi oleh terciptanya vaksin anti covid-19, maka tercipta sebuah kebiasaan baru, ketika jutaan orang mulai terbiasa bekerja dari rumah. Perusahaan tak lagi begitu mengontrol cara kerja karyawannya, tak lagi birokratis.

“Sehingga (perusahaan) bisa lebih cepat beradaptasi sekaligus menambah kewenangan dan kelonggaran kepada karyawan,” demikian dikatakan Reed Hastings, pendiri dan co-CEO Netflix dalam bukunya “No Rules Rules” yang ia tulis bersama Erin Meyer. Buku “No Rules Rules” baru saja diterbitkan pada 8 September 2020 lalu.

Seperti diketahui, Netflix adalah salah satu penyedia layanan media streaming digital global, berkantor pusat di Los Gatos, California. Netflix didirikan pada tahun 1997 oleh Reed Hasting dan Marc Randolph di Scotts Valley, California, Amerika Serikat.

Disampaikan Hastings, perubahan seperti yang tengah “dipaksa” oleh pandemi Covid-19 saat ini, sejatinya telah dilakukan oleh Netflix dalam perjalanannya selama 20 tahun terakhir. Dari sebuah perusahaan yang awalnya menjalankan usaha dengan mengirim kepingan DVD film lewat pos, kemudian menjadi layanan streaming.

“Dari sebelumnya membeli hak siar program televisi dan film, kini memproduksi sendiri. Kemampuan Netflix untuk bersaing di sebuah industri yang sedang berubah drastis melawan perusahaan yang lebih besar dan mapan, tak lain merupakan berkah dari besarnya rasa percaya yang kami berikan kepada seluruh karyawan,” papar Hastings.

Hastings menyebut proses dan budaya kerja yang berlangsung di Netflix sebagai “kebebasan dan tanggung jawab”. Dengan kata lain, perusahaan mendorong karyawan untuk berpikir mandiri ketimbang hanya melakukan yang dianggap benar oleh atasan.

Untuk mewujudkannya, Netflix pun menghapus aturan terkait pengeluaran (spending) dan perjalanan, jam kerja wajib, serta cuti. “Saat kami mendirikan Netflix, kami tak secara khusus berniat menghapus semua peraturan di atas. Kami hanya mendorong staf agar berani mengambil risiko karena mereka adalah bagian penting dalam perusahaan. Itu pula sebabnya karyawan kami dapat mengakses semua informasi yang biasanya tertutup di perusahaan lain, seperti kontrak atau kinerja bisnis harian,” tuturnya

Begitu wabah corona mulai diakui oleh badan kesehatan dunia WHO pada bulan Maret, banyak negara menerapkan karantina wilayah. Saat itu Netflix mulai meminta ribuan karyawan dan mitra kerja di bagian layanan pelanggan, animasi, efek visual, hingga sulih suara untuk bekerja jarak jauh tanpa perlu meminta persetujuan manajemen atau direksi.

Dikatakan Hastings, hal itu bukan berarti pihak manajemen atau direksi tidak sanggup memberi arahan, namun staf Netflix bebas menjalankan keputusan berdasarkan pertimbangan mereka sendiri. “Saya yakin (meski belum terjadi) bahwa Netflix akan sangat sukses justru ketika saya sebagai CEO tidak perlu mengambil keputusan sama sekali,” ujarnya.

Menurut Hastings, sejak Revolusi Industri terjadi, yang memungkinkan manusia manusia memproduksi barang dalam skala besar, pada dasarnya model bisnis yang dijalankan masih bergantung pada keputusan hierarkis dari atas ke bawah, dengan aturan dan proses ketat demi meniadakan kesalahan.

Namun, pada era ekonomi kreatif dewasa ini yang menjadi prioritas adalah inovasi, kecepatan, dan kelincahan. “Risiko terbesar kita bukanlah membuat kesalahan, melainkan kegagalan menciptakan produk baru atau mengubah arah saat lingkungan berubah. Secara alamiah, inovasi lahir dari proses mencoba-coba. Tak mungkin ada kemajuan tanpa kegagalan. Itulah sebabnya banyak perusahaan hierarkis yang gagap saat teknologi berubah. Nokia, misalnya, gagal meramal kehadiran telepon cerdas. AOL tidak beradaptasi dari Internet lambat (dial-up) ke broadband, dan Blockbuster tidak beralih ke streaming,” paparnya.

Menurutnya banyak yang memandang pendekatan bisnis yang diterapkan Netflix sebagai pendekatan yang radikal. Ia pun tidak membantahnya. Sebuah usaha memang tidak bisa menghilangkan kendali dan proses untuk memacu inovasi dan pengambilan risiko jika tidak memiliki karyawan yang tepat.

Namun sebaliknya jika sebuah perusahaan sudah memiliki karyawan yang tepat, maka perlu dipertimbangkan untuk tetap menerapkan kebijakan hukuman bagi karyawan nakal yang menyalahgunakan pengeluaran atau mementingkan kepentingan pribadi atas perusahaan, misalnya.

Padahal jika karyawan diperlakukan layaknya orang dewasa, dipastikan akan mendatangkan manfaat besar. “Kami tidak punya aturan busana saat bekerja, tapi toh tidak ada staf yang telanjang datang ke kantor,” kata Hastings setengah bergurau.

Mencermati apa yang terjadi saat pandemi, menurutnya jelas bahwa perubahan tidak terelakkan. Banyak perusahaan kini menghapus aturan lama, mencari cara agar tetap produktif meski tanpa karyawan di kantor, atau beralih berjualan online.

Melihat kerja keras pemerintah sejumlah negara, sejumlah perusahaan farmasi, serta para ilmuwan untuk menemukan vaksin COVID-19, pemulihan, diharapkan akan segera terwujud. Menurutnya ada hikmah yang bisa diambil dari pandemi, dalam kaitannya memulihkan ekonomi dan mendorong inovasi.

“Melihat sejarah 20 tahun terakhir, keadaan memang tak pernah pulih sepenuhnya seusai krisis. Sejarah menunjukkan bahwa perubahan, meski tak nyaman, akan tetap terjadi, tapi justru bermuara pada peluang baru bagi terciptanya sebuah kemajuan,” kata Hastings.

Ia mencontohkan, e-commerce yang melejit di Asia selama pandemi SARS di 2002 ketika masyarakat harus berdiam diri di rumah. Sharing economy seperti Uber dan AirBnB juga bertumbuh usai krisis finansial 2009 di saat orang mencari sumber pendapatan baru yang amat diperlukan. “Seiring kita menanti masa depan yang lebih aman dan ramah, kita mungkin tetap akan melihat sejumlah peraturan bakal ditulis ulang, namun kali ini, jumlahnya akan makin berkurang,” ujarnya.

 

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN