Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara menghadiri peluncuran buku berjudul

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara menghadiri peluncuran buku berjudul "Jagat Digital - Pembebasan dan penguasaan" karya Agus Sudibyo, di Wisma Antara, Jakarta, 17 September 2019. Foto: Beritasatu.com / Herman

Buku Jagat Digital Ajak Masyarakat Berpikir Kritis akan Arus Digitalisasi

Herman, Selasa, 17 September 2019 | 22:58 WIB

JAKARTA, investor.id – Anggota Dewan Pers (2019-2022) Agus Sudibyo meluncurkan buku berjudul “Jagat Digital – Pembebasan dan Penguasaan”. Buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia ini merupakan buku berbahasa Indonesia pertama yang menelaah secara kritis dimensi-dimensi ekonomi politik digitalisasi.

Dalam bukunya ini, Agus juga mencoba melakukan “demitologi” atas klaim-kalim yang selama ini begitu lekat dengan media sosial, mesin pencari atau situs eCommerce, bahwa media sosial bukan semata-mata sarana interaksi sosial, melainkan juga sarana modifikasi, komersialisasi, bahkan sarana surveillance. Bahwa tidak ada yang benar-benar gratis dari semua layanan digital yang selama ini dinikmati pengguna internet, media sosial, percakapan sosial, surat elektronik, mesin pencari, dan lain-lain.

Hal lainnya yang disoroti Agus adalah bahwa platform mesin pencari atau media sosial bukan hanya telah memberikan cara baru yang lebih efektif dalam kerja jurnalistik dan pendistribusian berita, melainkan juga menghadapkan para pengelola media jurnalistik pada iklim persaingan usaha media yang sangat timpang dan tidak sehat. Namun, Agus menegaskan kalau buku ini tidak dimaksudkan untuk menawarkan sikap antipati terhadap fenomena digitalisasi, tetapi lebih ditujukan untuk menstimulus sikap kritis terhadap digitalisasi.

“Buku ini tidak bermaksud untuk bersikap antipati terhadap digitalisasi, tetapi lebih sebagai ajakan untuk bersikap kritis. Sikap ini penting agar kita sebagai bangsa dan masyarakat tidak larut dalam arus digitalisasi yang besar sekali, tetapi harus mampu menangkap, memetakan persoalan, dilema, kontradiski dan paradoks yang mengikuti arur digitalisasi ini,” kata Agus Sudibyo, di acara peluncuran buku tersebut yang digelar di Wisma Antara, Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Buku ini disajikan dalam 13 bab. Sesuai dengan bidang yang digelutinya, Agus juga menulis dua bab tentang nasib media massa di era disrupsi digital.  Dengan bertolak pada apa yang terjadi di Inggris dewasa ini, Agus berkesimpulan bahwa masa depan media massa jurnalistik selain tergantung pada kemampuan pengelolanya dalam beradaptasi dengan perubahan, juga sangat tergantung pada kemauan negara untuk membuat regulasi yang menopang daya hidup media massa jurnalistik. 

Menurutnya, negara harus hadir menciptakan persaingan usaha yang sehat antara media massa jurnalistik dan media baru seperti media sosial dan mesin-pencari atau agregator konten. Misalnya jika media massa harus bertanggungjawab atas konten jurnalistik yang mereka sebarkan, media sosial semestinya juga bertanggungjawab atas konten yang mereka sebarkan.  Jika perusahaan media massa harus membayar berbagai pajak, perusahaan platform media sosial dan mesin pencari semestinya juga membayar pajak.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara juga menyambut baik hadirnya buku ini. Apalagi selama ini Rudiantara melihat kita masih mengalami kekurangan pegangan akademis ketika harus berhubungan dengan derasnya terjangan digitalisasi. Pegangan akademis menurutnya bisa memberikan perspektif yang lebih luas, sehingga dapat bertindak dengan dasar yang tidak parsial.

“Akhirnya kita mempunyai buku yang ditulis oleh orang Indonesia dan berbahasa Indonesia yang berkaitan dengan digital secara ilmiah. Buku ini memang bukan satu-satunya, tapi salah satunya yang memiliki kadar ilmiah yang tinggi,” kata Rudiantara.

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA