Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anggota Komisi I DPR RI Sjarifuddin Hasan. Foto: Humas Kominfo

Anggota Komisi I DPR RI Sjarifuddin Hasan. Foto: Humas Kominfo

Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Transformasi Digital Harus Sampai ke Desa

Rabu, 5 Mei 2021 | 13:11 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Anggota Komisi I DPR RI Sjarifuddin Hasan mengungkapkan, langkah transformasi digital yang dicanangkan oleh pemerintah harus menjangkau hingga ke pelosok dan desa-desa. Pasalnya, pembangunan partisipatif sebagai paradigma pembangunan menekankan keberdayaan dan kemajuan desa sehingga akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurut Syarief, membangun desa adalah membangun Indonesia. Sehingga, pembangunan desa yang meniscayakan adanya transformasi digital, dapat mendorong pelaku usaha memanfaatkan potensi yang ada di desa dengan lebih optimal.

“Jika masyarakat desa sudah optimal memanfaatkan internet dan teknologi digital, maka sumber daya di desa dapat lebih berdaya saing dan terpasarkan lebih cepat,” kata Syarif melalui siaran pers, Rabu (5/5).

Syarif juga meminta kepada pemerintah untuk mengurangi kesenjangan digital yang masih terjadi di sebagian wilayah Indonesia. Ini tentu menjadi pekerjaan terberat pemerintah karena dengan geografi Indonesia yang luas dan beragam, diperlukan percepatan transformasi digital guna menyosong Indonesia Emas 2045.

“Pada tahun 2045, PDB Indonesia diperkirakan mencapai US$ 9,1 Triliun, dengan ekonomi terbesar ke-4 di dunia. Ini harapan, sekaligus tantangan, digitalisasi pedesaan tentu sebuah keniscayaan” ujar Syarif.

Smart Village

Sesditjen Aplikasi Informatika  Kemkominfo Slamet Santoso.  Foto: Humas Kominfo.
Sesditjen Aplikasi Informatika Kemkominfo Slamet Santoso. Foto: Humas Kominfo.

Sementara, Sesditjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Slamet Santoso mengungkapkan, pihaknya terus berupaya mempercepat penatakelolaan aplikasi informatika dalam mewujudkan pembangunan digital di Indonesia.

Salah satunya adalah, smart village. Smart village adalah salah satu bentuk manisfestasi desa yang telah melakukan transformasi digital, yakni interaksi komunitas secara optimal memanfaatkan jaringan internet dan teknologi digital.

“Membangun smart village memang sebuah tantangan. Diperlukan infrastruktur yang solid dan kesiapan sumber daya dalam mewujudkan desa digital ini. Kami sangat fokus dalam melakukan penatakelolaan e-government, e-business, keamanan informasi, peningkatan teknologi dan infrastruktur aplikasi informatika, serta pemberdayaan informatika,” ungkap Slamet.

Di sisi lain, Danny J. Ismawan, Direktur Layanan Telekomunikasi dan Informasi untuk Pemerintah dan Masyarakat Badan Aksesibilitas Telekomunikasi Indonesia (BAKTI) Kemkominfo, mendukung upaya percepatan dan realisasi desa digital.

Sebagai bagian dari organisasi pemerintah yang berfokus pada pengurangan kesenjangan digital, pembangunan infrastruktur, serta percepatan transformasi digital, BAKTI telah membangun ekosistem digital, termasuk inklusi finansial sehingga sumber daya di desa lebih bernilai tambah dan berdaya saing.

“Sampai saat ini, BAKTI telah berhasil menyediakan layanan akses internet di 11.817 lokasi yang terintegrasi, satelit multifungsi, penyediaan dan pengembangan solusi digital di beberapa sektor prioritas, serta pembangunan destinasi wisata yang terintegrasi secara digital,” tutur Danny.

Sementara, Direktur Pembangunan Sarana dan Prasarana Desa dan Perdesaan Kemendes & PDTT Sugito mengungkapkan, pihaknya juga bterus berupaya mengurangi kesenjangan digital di Indonesia.

Dengan jumlah desa tertinggal dan sangat tertinggal di Indonesia yang masih cukup banyak, serta akses digital yang masih minim, percepatan dan sinergi adalah sebuah keharusan. Sampai akhir 2020, jumlah desa yang belum memiliki akses internet sebanyak 12.548 desa, dimana mayoritas penduduk miskin ada di desa sebanyak 27,55 juta jiwa.

“Kami berupaya melakukan upaya koordinasi dan sinergi untuk mewujudkan desa digital. Pembangunan infrastruktur digital adalah salah satu prasyarat utama guna mendorong keberdayaan desa, sehingga pelaku usaha baru dapat tumbuh dan usaha yang telah ada dapat berkembang lebih cepat lagi. Apalagi sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sebagian besar ada di desa-desa,” tandas Sugito.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN