Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Dua Empat Tujuh (S247) Beno Kunto Pradekso (kiri), Direktur PT Envy Technologies Indonesia Tbk Mohammad Nadzaruddin bin Abd Hamid (tengah), dan Mahendra MSC (kanan), usai penandatanganan kerja sama dan peluncuran Indonesian Big Data for Sustainable Well Being Initiative di Surabaya, Selasa (19/11). (Foto: Amrozi Amenan/ID)

Direktur Utama PT Dua Empat Tujuh (S247) Beno Kunto Pradekso (kiri), Direktur PT Envy Technologies Indonesia Tbk Mohammad Nadzaruddin bin Abd Hamid (tengah), dan Mahendra MSC (kanan), usai penandatanganan kerja sama dan peluncuran Indonesian Big Data for Sustainable Well Being Initiative di Surabaya, Selasa (19/11). (Foto: Amrozi Amenan/ID)

Envy dan S247 Garap Pasar Big Data Lokal

Amrozi Amenan, Rabu, 20 November 2019 | 11:30 WIB

SURABAYA, investor.id - Dua penyedia jasa solusi teknologi informasi, PT Envy Technologies Indonesia Tbk dan PT Dua Empat Tujuh (Solusi 247) berkolaborasi untuk menggarap dan memperbesar pangsa pasar big data lokal hingga ke negara-negara kawasan Asia Tenggara (Asean).

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Direktur Envy, Mohammad Nadzaruddin bin Abd Hamid dan Direktur Utama Solusi 247 (S247) Beno Kunto Pradekso di sela acara Konferensi Big Data Indonesia 2019 di Bumi Surabaya City Resort, Selasa (19/11). Pada kesempatan tersebut, Envy dan S247 juga meluncurkan Indonesian Big Data for Sustainable Well Being Initiative.

Direktur Envy, Mahendra mengatakan, kerja sama itu bertujuan untuk mendesain, mengembangkan, dan mengimplementasikan teknologi big data berkecerdesan buatan (artificial intelligence/AI), internet of thing (IoT), teknologi blockchain, keamanan siber untuk big data (big data cyber security), serta mempromosikan hasil produk kerja sama ke negara anggota Asean.

“Untuk saat ini, negara Asean yang sudah dekat komunikasinya adalah Malaysia, Singapura, Pilipina, dan Thailand,” kata Mahendra.

Menurut dia, adopsi big data oleh pelaku bisnis di Indonesia saat ini tidak kalah dengan pelaku bisnis di negara-negara maju. Mereka sudah memahami bahwa adopsi big data, AI, IoT, dan lainnya bisa menghemat hingga 25% biaya operasional.

Saat ini, hampir 65% komunitas bisnis skala menengah ke atas, terutama dari perbankan dan pembiayan, sudah mengadopsinya dan mendorong pertumbuhan permintaan pasar berkisar 14-18% per tahun.

“Pertumbuhan kebutuhan big data memberi peluang dan kerja sama dengan S247 dan juga ITS untuk memaksimalkan upaya bersama untuk membantu produk-produk dan kreasi big data anak bangsa, sehingga pangsa pasarnya lebih besar. Kerja sama ini juga memberikan skala kompetitif perusahaan kami di bidang data,” tambahnya.

Mahendra menjelaskan, Envy menyediakan infrastruktur data, persiapan dan integrasi data, platform data, visualisasi data, serta analisis data dengan teknologi keamanan data dan kecerdasan buatan terkini untuk menemukan wawasan yang dapat memiliki dampak bisnis yang nyata dan positif, seperti meningkatkan operasional bisnis, peningkatan kinerja, dan pengambilan keputusan lebih baik.

Sementara itu, S247 merupakan perusahaan penyedia lT solution dari Indonesia yang berbasis di Jakarta dan berfokus pada pemrosesan data skala besar, sistem manajemen basis data relasional (RDBMS), serta pemrosesan file data paralel dan terdistribusi secara massif.

“Kombinasi antara big data dan keahlian untuk menganalisis data akan membantu perusahaan dalam menemukan kunci guna meningkatkan akurasi dalam analisis masalah bisnis dan efektivitas dalam berbagai keputusan strategi bisnis,” tuturnya.

Pasar

Sementara itu, lanjut Mahendra, seiring pertumbuhan permintaan pasar, penerapan AI dan big data lokal oleh industri maupun lembaga nasional mengalami perkembangan signifikan. 

"Jika pada lima tahun lalu, TKDN (tingkat komponen dalam negeri) big data masih kecil, atau bisa dikatakan ketergantungan pada big data buatan luar negeri bisa menguasai sekitar 95%, saat ini, bisa ditekan tinggal 25%. Artinya, TKDN AI dan big data kita sudah sekitar 75%," ungkapnya.

Menurut dia, selain harganya yang jauh lebih terkangkau dibandingkan dengan menggunakan big data luar negeri, semangat untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional, termasuk dari sisi cyber security lebih terjamin jika menggunakan big data lokal.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN