Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengguna Internet berdasarkan wilayah

Pengguna Internet berdasarkan wilayah

Industri Broadband Internet Berkibar di Tengah Covid-19

Emanuel Kure/Abdul Muslim, Selasa, 5 Mei 2020 | 11:18 WIB

JAKARTA, investor.id – Pandemi Covid-19 yang mengharuskan masyarakat bekerja dan belajar dari rumah telah mendorong permintaan yang tinggi terhadap broadband internet dan layanan televisi berbayar (pay TV). Itulah sebabnya, jumlah pelanggan di industri ini justru melonjak dengan diberlakukannya kebijakan jaga jarak dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Maret-April lalu.

Tidak mengherankan jika perusahaan yang bergerak di sektor information and communication technology (ICT), termasuk bisnis broadband internet dan pay TV, justru berkibar dengan adanya wabah corona ini. Karena itu, mereka banyak menganggarkan belanja modal untuk ekspansi.

CEO & President Director Link Net Marlo Budiman
CEO & President Director Link Net Marlo Budiman

Menurut CEO & President Director PT Link Net Tbk Marlo Budiman, potensi broadband internet di Indonesia masih sangat besar. Mengacu data Media Partner Asia (MPA), kata Marlo, penetrasi fixed broadband di Indonesia masih sangat rendah, baru 12,8%.

“Penetrasi itu akan terus meningkat dan pada 2023 diprediksi mencapai 15,9%,” kata Marlo dalam konferensi video dengan redaksi Beritasatu Media Holdings (BSMH) di Jakarta, Kamis (30/04/2020).

Penetrasi yang rendah merupakan peluang besar bagi Link Net dan perusahaan sejenis untuk terus berkembang. Karena itu, Link Net terus konsisten melakukan roll-out jaringan, khususnya ke kota-kota potensial di Jawa, dengan mengoptimalkan infrastruktur Java backbone yang dimiliki.

Marlo Budiman optimistis target pasar yang dicanangkan pada tahun ini akan tercapai. Jumlah pelanggan baru justru melonjak sepanjang Maret-April.

“Tim marketing juga sudah melakukan studi internal dan memakai beberapa konsultan untuk melakukan assessment terhadap pangsa pasar yang kita masuk. Kita must go on walaupun ada Covid-19. Tapi kami akan lihat ini lagi enam bulan ke depan,” ujarnya.

Menurut Marlo, capex perseroan terus meningkat setiap tahun. Pada 2017, Link Net masih membelanjakan modal sekitar Rp 900 miliar untuk ekspansi sebagian besar di sekitar Jabodetabek, Medan, dan Batam. Tahun 2018 ada sedikit peningkatan capex menjadi Rp 1,15 triliun dan Link Net. Lalu pada 2019, Link Net kembali meningkatkan capex menjadi Rp 1,55 triliun untuk ekspansi ke lima kota, yakni Solo, Semarang, Serang, Cilegon, serta Bali.

Link Net terus lakukan ekspansi
Link Net terus lakukan ekspansi

Marlo menjelaskan, capex tahun ini melonjak ke level Rp 2 triliun, karena Link Net tengah mencanangkan untuk beroperasi di kota-kota besar di Pulau Jawa. Sebab, 70% perputaran ekonomi di Indonesia berpusat di Pulau Jawa, didukung populasi dan daya beli yang tinggi.

Alasan lain Link Net agresif ekspansi di Jawa adalah faktor jaringan (network ink Net saat ini memiliki Ultiplus Java Backbone, yakni lima ring backbone yang menghubungkan 45 kota di Jawa.

“Pelebaran sayap bisnis ke kota-kota di Jawa sudah didukung ring backbone tersebut, sehingga akan lebih cepat daya ekspansinya,” kata Marlo.

Link Net sangat percaya diri akan meraih pangsa pasar tinggi ketika masuk ke kota-kota baru walaupun sudah ada pemain lama dan pemain regional lainnya. Sebab, produk yang dijual superior, premium, menawarkan banyak channel, dengan layanan yang bagus.

Jumlah pengguna internet di Indonesia
Jumlah pengguna internet di Indonesia

Marlo menegaskan, ekspansi Link Net lebih mengutamakan pengembalian modal dan keuntungan (payback return) yang lebih cepat. “Kota yang punya potensi payback return maksimum tiga tahun akan langsung dikerjakan, sedangkan jika payback return-nya 3-4 tahun, eksekusinya akan dilihat kasus per kasus,” kata dia.

Yang menarik, kata Marlo, bisnis internet service provider (ISP), atau fix broadband dan pay TV, berbeda dengan industri telekomunikasi seluler. Jika di industri seluler diwarnai perang tarif (price war) dan harga layanan senderung turun, di bisnis ISP harga layanan justru naik setiap tahun. Tapi yang pasti, operator broadband internet lebih mengutamakan produk dan kualitas layanan.

“Kenapa kita naikkan harga tiap tahun, karena konten yang kita beli dalam dolar AS dan dijual ke rupiah. Belum lagi, kita impor equipment dari Tiongkok yang juga menggunakan dolar AS,” tuturnya. (hg)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN