Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Head of Southeast Asia Consumer McAfee, Shashwat Khandelwal. ( Foto: Istimewa )

Head of Southeast Asia Consumer McAfee, Shashwat Khandelwal. ( Foto: Istimewa )

Ini Tips Aman McAfee dalam Bertransaksi Digital

Selasa, 29 September 2020 | 08:39 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Sistem pembayaran digital di Indonesia telah mengalami perubahan pesat selama beberapa tahun terakhir, dan sudah menjadi gaya hidup konsumen saat ini. Hal itu terlihat dalam catatan transaksi e-payment atau pembayaran elektronik di Indonesia, yang mana pada 2020 mengalami lonjakan 173%, sejak 2019. Kenaikkan tersebut sebagai imbas dari tren masyarakat yang semakin banyak menggunakan kartu debit sebagai metode pembayaran utama, dan menghindari penggunaan tarik tunai di anjungan tunai mandiri (ATM).

Walau kemudahan dari pembayaran digital merupakan poin plus bagi konsumen, namun mereka juga harus berhati-hati dalam bertransaksi supaya terhindar dari kejahatan siber. Menurut laporan terbaru McAfee tentang Covid-19 Threat Report: July 2020, McAfee Labs menemukan adanya 375 ancaman baru setiap menitnya melalui aplikasi jahat, kampanye phishing, malware, dan lainnya. Selain itu, jumlah serangan siber yang memanfaatkan konten Covid-19 di Indonesia mencapai 88 juta, sejak Januari hingga April. 

“Pelaku kejahatan siber bergerak sangat cepat untuk memanfaatkan pembayaran non-tunai atau cashless dengan menggunakan teknologi, dan keterampilan yang canggih guna menciptakan cara penipuan yang mudah dipercaya. Perkembangan, dan penggunaan pembayaran digital memudahkan para penjahat siber menipu pengguna dan mengambil uang mereka. Masyarakat Indonesia perlu mengetahui berbagai tips keamanan bertransaksi secara digital untuk menghindari penipuan,” ujar Head of Southeast Asia Consumer McAfee Shashwat Khandelwal dalam siaran pers, Senin (28/9).

Ditambahkan oleh Shashwat, bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia yang beradaptasi dengan perubahan digital merupakan sasaran utama penipuan atau kejahatan siber. Tingginya penggunaan teknologi digital yang berperan penting di kehidupan sehari-hari pengguna telah meningkatkan kemungkinan adanya penipuan, dan serangan siber.

Namun bagi pengguna digital baru, informasi mengenai penipuan dan cara mengenali tanda-tanda penipuan masih sulit untuk diperoleh. Generasi yang lebih tua kemungkinan besar merupakan digital immigrants, artinya banyak pengguna digital dari generasi ini yang kesulitan dalam proses digitalisasi, serta pengertian dasar mengenai aplikasi seluler dan situs daring (online). Oleh karenanya, untuk memastikan seluruh segmen pengguna dapat bertransisi ke pembayaran non-tunai atau cashless secara aman, harus ada pemahaman yang lebih mengenai risiko keamanan siber. 

Berikut tips aman McAfee dalam menggunakan layanan digital:

1. Pelajari hal-hal dasar mengenai keamanan siber:

  • Langsung akses ke sumber yang dituju ketimbang mengklik tautan di dalam email atau SMS.

  • Gunakan perangkat lunak keamanan yang lengkap.

  • Tidak menyebar data pribadi atau keuangan.

  • Gunakan kata sandi yang kuat, dan aktifkan otentikasi multi-faktor untuk menjaga akses ke akun-akun daring.

  • Jangan pernah memberikan kata sandi atau one time password (OTP) apabila diminta oleh orang yang tidak dikenal melalui telepon, email, atau situs yang mencurigakan.

  • Menjaga perangkat lunak dan aplikasi tetap mutakhir dengan pembaruan otomatis, yang mana dapat menyertakan tambahan keamanan penting untuk mengatasi kerentanan dalam perangkat lunak.

  • Tetapkan pemberitahuan atau notification untuk limit transaksi di e-wallet sehingga transaksi yang mencurigakan dapat terdeteksi sebelum terlambat.

Hal-hal dasar tersebut dapat disampaikan oleh orang yang paham teknologi digital untuk menjadi mentor bagi yang kurang akrab dengan konsep keamanan siber, seperti orang tua dan kaum lansia. Melalui cara penyampaian sesuai dengan pengertian mereka, semisal bagaimana cara menjaga dompet supaya tidak dicuri atau cara menjaga rumah, maka pemahaman mereka mengenai pentingnya keamanan siber dapat ditingkatkan.

2. Amankan perangkat digital Anda.

Orang Indonesia harus mempertimbangkan untuk melindungi diri dengan solusi keamanan yang mumpuni, yang dapat melindungi pengguna – terutama bagi orang tua dan lansia – dari berbagai risiko keamanan siber saat menjelajah dunia daring, seperti saat menggunakan situs jejaring sosial, berbelanja, atau bahkan membuka email. Solusi ini dapat melindungi pengguna dari serangan malware, menghindari situs web berbahaya, dan memastikan keamanan aplikasi yang diunduh.

Sebagai tambahan, dengan mengaktifkan fitur penelusuran yang aman sebagai salah satu cara memastikan keamanan perangkat, ini dapat membantu pengguna untuk menghindari website palsu berbahaya yang didesain untuk mencuri identitas dan data pengguna. Solusi ini juga melakukan pemindaian berkala guna melindungi dari serangan malware, dan memastikan pengunduhan yang aman.

3. Senantiasa mempelajari fakta tentang penipuan digital: 

Dengan meningkatnya jumlah orang Indonesia yang mengakses internet karena pandemi, hal ini telah menciptakan lebih banyak peluang dan titik kontak bagi penjahat dunia maya untuk memanfaatkan situasi yang ada, yang mengakibatkan banyak korban baru. Secara khusus, para lansia perlu berhati-hati, karena mereka cenderung menjadi target yang menarik mengingat jumlah simpanan mereka yang banyak dan tidak terbiasa dengan lanskap digital. Untuk menghindari menjadi korban, masyarakat perlu mempelajari tentang jenis penipuan daring yang umum, berupa penipuan identitas; penipuan phishing; dan penipuan e-comerce, serta pengetahuan tentang jenis penipuan baru, dan langkah-langkah yang perlu diambil ketika menemukan kasus.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN