Menu
Sign in
@ Contact
Search
John Riady (ist)

John Riady (ist)

John Riady: Startup Solutif akan Bertahan

Senin, 15 Agustus 2022 | 13:01 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Belakangan ini, banyak usaha rintisan berbasis teknologi digital yang berguguran, sehingga terpaksa dilakukan sejumlah efisiensi untuk bertahan. Gejala ini diistilahkan sebagai tech winter, lantas bagaimana nasib ke depan usaha rintisan?

Direktur Eksekutif Lippo Group sekaligus pendiri Venturra Capital John Riady menilai situasi tech winter belakangan ini  sebagai badai yang menghempas usaha rintisan di hampir semua lini. Gelembung pecah usaha rintisan tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di pasar global.

Baca juga: Upturn Bagikan Strategi Startup di Tengah Sulitnya Pendanaan

“Kondisi indikator makro ekonomi yang masih melemah hingga guncangan geopolitik akibat ketegangan di Eropa dan Asia Timur menggoyahkan fondasi usaha rintisan. Pasalnya, usaha rintisan masih sangat membutuhkan likuiditas yang tebal sebagai kapital, serta stabilitas pasar,” kata John di Jakarta, Senin (15/8/2022).

Dia mengatakan, saat ini, tren usaha rintisan melantai di bursa makin marak sebagai jalan ke luar dari krisis pendanaan. Tren serupa terjadi di Indonesia, berbagai usaha rintisan berbasis teknologi informasi melakukan Initial Public Offering (IPO) saham. Exit strategy usaha rintisan meretas jalan IPO menjadi mulus, seiring regulasi yang memungkinkan startup menjaring dana masyarakat.

Sebagai bentuk new economy, otoritas bursa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menggelar karpet merah bagi usaha rintisan melangsungkan IPO. Bursa Efek Indonesia (BEI) juga sedang mempersiapkan papan pencatatan baru yang didedikasikan bagi barisan new economy. Harapannya, melalui strategi itu, gairah pasar tetap terjaga bagi usaha rintisan setara dengan papan utama.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan POJK Nomor 22/POJK.04/2021 terkait Multiple Voting Shares (MVS), yang membuka jalan perusahaan rintisan untuk masuk ke pasar modal. MVS yang berlaku dalam jangka waktu tertentu itu diharapkan memproteksi visi dan strategi inovasi usaha rintisan yang digagas para pendiri, meskipun startup telah dimiliki publik.

“Langkah otoritas, baik bursa maupun OJK saling melengkapi. Satu sisi pasar akan tetap bergairah dengan habitat khusus new economy, usaha rintisan pun semakin percaya untuk melantai karena tidak kehilangan kendali inovasi,” kata John.

Baca juga: Lanjutkan Investasi Startup, Telkom (TLKM): Ini Kebutuhan Ekosistem

Persoalannya, walau banyak dilakukan usaha rintisan di luar negeri, IPO saham hanya satu dari berbagai cara usaha rintisan menopang pendanaan. IPO masih menyisakan problem mendasar saham startup yang harus bertarung dengan ekspektasi publik, serta likuiditas pasar. “Persoalan fundamental lainnya yakni seberapa besar impact inovasi yang terus diciptakan oleh startup tersebut,” simpul John.

Berdasarkan indeks S&P 500 Information Technology Sector outperform, selama 2014—2021, saham perusahaan teknologi mengantungi kenaikan sekitar 422% atau 22,9% per tahun). Torehan itu lebih tinggi, dibandingkan indeks S&P 500 yang naik 158% (12,6% per tahun).

Namun, reli saham teknologi mulai memudar sejak akhir 2021 hingga sepanjang tahun berjalan 2022. Kini, kesenjangan kinerja saham teknologi dengan penghuni indeks S&P 500 semakin melebar.

Hal serupa, kata John, juga terjadi di dalam negeri. Dari IPO saham beberapa perusahaan teknologi dengan status unicorn, malah menghadapi koreksi pasar yang dalam. Di sisi lain, kenyataan demikian memang tak dapat dihindarkan. “Yang terpenting, usaha rintisan itu tetap memiliki prospek dan inovasi yang menjanjikan serta memberikan solusi,” jelas John.

Forecasat Future

Dia mengungkapkan sebagai investor startup melalui Venturra Capital, hal terpenting dari usaha rintisan adalah valuasi serta forecast future.

Disebutkan, Lippo Group dalam upaya mengembangkan berbagai usaha rintisan, prinsip mendasar yang diterapkan adalah mencari dan menyeleksi mitra yakni para founder serta startup yang mempunyai visi menyelesaikan persoalan masyarakat.

Baca juga: Usaha Rintisan Berguguran, John Riady: Justru Ini Musim Semi untuk Start-up Berkinerja Baik

“Artinya, selama startup itu menawarkan solusi kepada masyarakat dan mengembangkan inovasi yang selalu relevan, maka akan tetap memiliki prospek cerah. Usaha rintisan seperti itu sudah bisa digambarkan melalui visi atau mimpi para founder-nya,” kata John.

John bersama Venturra Capital telah lama menerapkan empat pilar investasi, meliputi seed funding, investasi pre-IPO, kemitraan, hingga kolaborasi. Dari strategi investasi itu, Lippo Group pun telah melahirkan berbagai usaha rintisan seperti Ruangguru, OVO, Sociola, bahkan unicorn Grab.

“Saya meyakini Tech Winter ini hanya sementara, seluruh dunia merasakannya. Lebih dari itu, IPO saham perusahaan rintisan harus selalu didukung, karena digitalisasi ini adalah keniscayaan, terlebih lagi yang memiliki prospek cerah karena memiliki kekuatan solusi bagi masyarakat,” kata John.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com