Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dari kiri ke kanan: Ketua Program Studi Telekomunikasi ITB Tutun Juhana, Country Director Indonesia Qualcomm Shannedy Ong,  serta Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika  Ismail, dalam seminar 5G yang digelar Qualcomm di Jakarta, Kamis (22/8). (Foto: Qualcomm/IST)

Dari kiri ke kanan: Ketua Program Studi Telekomunikasi ITB Tutun Juhana, Country Director Indonesia Qualcomm Shannedy Ong, serta Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Ismail, dalam seminar 5G yang digelar Qualcomm di Jakarta, Kamis (22/8). (Foto: Qualcomm/IST)

Kemenkominfo Bentuk Gugus Tugas 5G

Abdul Muslim, Jumat, 23 Agustus 2019 | 08:00 WIB

JAKARTA, investor.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah membentuk Gugus Tugas 5G (5G Task Force). Gugus tugas dibentuk untuk mendiskusikan model kemitraan (partnership) antara industri dan pemerintah agar benar-benar mempersiapkan landasan teknologi seluler generasi kelima (5G) dengan baik, sehingga implementasinya nanti sukses dilaksanakan di Tanah Air.

Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI) Kemenkominfo Ismail mengatakan, sekarang, pertanyaannya bukan kapan Indonesia siap untuk mengimplementasikan 5G, tapi Indonesia harus siap mengadopsinya.

Untuk mengimplementasikan 5G, lanjut dia, Indonesia pun harus mempersiapkan tidak hanya alokasi spektrum/frekuensi, tapi juga mulai dari teknologi dasar seperti optical fiber dan kompetensi teknis pembangunan, hingga akses terhadap pelanggan.

Transformasi digital pun bukan hanya tentang teknologi, namun mencakup transformasi kultur dan pola pikir (mindset). Beragam isu tersebut adalah prasyarat yang perlu dipenuhi. Pemerintah dan rekan-rekan industri juga perlu bekerja sama agar 5G yang nanti diterapkan di Indonesia benar-benar bermanfaat.

“Kami pun membentuk 5G Task Force karena kami ingin mendiskusikan model partnership antara industri dan pemerintah untuk benar-benar mempersiapkan landasan 5G agar investasi kita tepat sasaran dan sukses,” ujar Ismail, di Seminar on Telecommunication in Indonesia on Welcoming 5G Roadmap, Benefit and Challenge yang digelar oleh Qualcomm Technologies Inc di Jakarta, Kamis (22/8).

Menurut dia, Pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan kebijakan untuk 5G dan persiapan spektrum. Indonesia juga akan berpartisipasi dalam Konferensi Radio Dunia (WRC) 2019 pada November mendatang dan akan membawa isu spektrum 5G.

Teknologi 5G serta beragam teknologi dan pelayanan terdepan yang menyertai diyakininya akan menjadi penggerak penting untuk menjalankan strategi Industri 4.0 dan inisiatif pemerintah Making Indonesia 4.0.

Indonesia saat ini memiliki pasar dan industri yang unik, termasuk sektor-sektor prioritas tersendiri, sehingga membutuhkan aplikasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya. Salah satu masalah di Indonesia saat ini adalah belum memanfaatkan secara penuh data dalam pembangungan, baik untuk infrastruktur maupun industri komersial.

“Padahal, kita dapat meraih kesejahteraan melalui konektivitas dan pemanfaatan data,” tambah Ismail.

Ketua Laboratorium Telekomunikasi Radio dan Gelombang Mikro STEI-ITB Ridwan Effendi melanjutkan, untuk mendukung kebutuhan konektivitas yang terus bertambah, peningkatan kapasitas jaringan seluler sangat diperlukan. Hal ini dapat dicapai melalui tiga cara, yaitu penambahan base transceiver station (BTS), penambahan frekuensi, dan perbaruan teknologi.

Namun, karena penambahan BTS terbatas oleh jumlah yang diakibatkan oleh batas interferensi maksimum antarperangkat, kunci perkembangan jaringan adalah dengan memanfaatkan teknologi baru dan penambahan frekuensi.

“Di sinilah, 5G menjadi jawaban kunci teknologi yang membutuhkan spektrum frekuensi untuk segera ditetapkan,” jelas Ridwan.

Country Director Indonesia Qualcomm Shannedy Ong menuturkan, dengan spesifikasi 5G New Radio (NR) yang telah distandarisasi oleh 3GPP, kumpulan organisasi penetapan standar global yang bertanggung jawab atas teknologi 2G, 3G, 4G, dan 5G, para pemimpin teknologi globa, yaknil Qualcomm, Ericsson, Huawei, Nokia, dan perusahaan lainnya telah bekerja sama dengan pemerintah di seluruh dunia untuk memungkinkan penerapan 5G skala besar sejak awal 2019.

Negara-negara, antara lain Amerika Serikat, Korea Selatan, Tiongkok, Eropa, dan Australia. telah meluncurkan jaringan 5G komersial. Ada juga negara di Asia Tenggara, yakni Singapura, Vietnam, Thailand, dan Malaysia sedang merencanakan jaringan 5G komersial pada 2019 dan 2020.

“Ketika spektrum telah ditetapkan dan dialokasikan, para pemain industri dapat bekerja lebih lanjut untuk meraih peluang yang dipersembahkan oleh 5G di seluruh vertikal, terutama Industrial Internet of Things (IIoT) untuk memicu revolusi Industri 4.0,” ujar Shannedy.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA