Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sekjen Kemenkominfo Niken Widiastuti program literasi privasi dan keamanan digital di Jakarta, Senin (18/11). (Foto: Emanuel Kure/ID)

Sekjen Kemenkominfo Niken Widiastuti program literasi privasi dan keamanan digital di Jakarta, Senin (18/11). (Foto: Emanuel Kure/ID)

Kemenkominfo dan WhatsApp Luncurkan Program Literasi Privasi

Emanuel Kure, Senin, 18 November 2019 | 21:30 WIB

JAKARTA, investor.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama ICT Watch, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), dan WhatsApp meluncurkan program literasi privasi dan keamanan digital.  Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat (awareness) tentang pentingnya data pribadi dan keamanan dalam menggunakan platform media sosial.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenkominfo Niken Widiastuti mengatakan, kita harus meningkatkan kepedulian terhadap data pribadi. Apalagi, data sekarang merupakan aset yang luar biasa, sehingga setiap orang harus menjaga data pribadinya masing-masing.

“Bahkan, Presiden beberapa lalu mengatakan, data adalah sumber daya baru di Indonesia dan dunia. Maka, gunakanlah data-data kita untuk tujuan positif. Hindari hal-hal negatif, misalnya penyebaran hoaks, provokasi, dan sebagainya. Kalau ada yang kita ragu-ragu, sebaiknya delete saja,” kata Niken di Jakarta, Senin (18/11).

Menurut dia, pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 171 juta, atau sebanyak 64,4% dari jumlah populasi di Tanah Air. Sementara itu, sebanyak 83% dari 171 juta pengakses internet merupakan pengguna WhatsApp.

Sisi positifnya, aplikasi WhatsApp bisa saling menghubungkan antarmasyarakat dalam berkomunikasi. Tetapi, aspek negatifnya, alpikasi perpesanan tersebut juga perlu diwaspadai sebagai wahana penipuan, penyebaran hoaks, profokasi, dan lainnya.

“Pemerintah perlu memberi literasi ke masyarakat agar tidak pernah memberikan data-data pribadi ke siapa pun. Untuk itu, pemerintah berkolaborasi dengan dunia bisnis dan lembaga swadaya masyarakat untuk bisa memberikan literasi ini,” ujarnya.

Niken melanjutkan, data kini menjadi hal yang sangat penting, sehingga perlu dilindungi. Karena itu, Kemenkominfo juga tengah mempersiapkan kelahiran UU Perlindungan Data Pribadi yang diharapkan bisa diberikan ke DPR pada akhir tahun 2019, atau awal 2020, untuk segera dibahas dan disahkan.

Plt Direktur Eksekutif ICT Watch Widuri mengatakan, program literasi tersebut menyasar 1.800 peserta dalam rangkaian seminar dan workshop di lima kota di wilayah Indonesia. Kelima kota terdiri atas Jakarta, Cianjur, Aceh, Samarinda, dan Kupang.

Pada 2020, program tersebut diharapkan bisa menjangkau lebih banyak pihak dan wilayah lainnya di Tanah Air. Harapannya, dengan program ini, lebih banyak masyarakat memiliki kapasitas mengenai privasi.

Upaya WhatsApp

Sementara itu, Direktur Kebijakan APAC WhatsApp Clair Deevy menuturkan, WhatsApp fokus untuk melakukan program literasi untuk penggunanya di Indonesia. Hal ini tak terlepas dari jumlah pengguna WhatsApp yang cukup banyak di Indonesia.

“WhatsApp 90% dipakai untuk komunikasi pribadi, sangat sedikit yang dipakai untuk obrolan grup. Oleh karenanya, kami fokus melakukan edukasi privasi pengguna. Kami juga fokus bermitra dengan mitra lokal, salah satunya dengan ICT Watch,” kata Deevy.

Dia menambahkan, selain memperbarui tools privasi di platform, edukasi pengguna merupakan hal yang penting dilakukan. “Kami targetkan ke komunitas-komunitas di Indonesia, termasuk juga anak-anak muda,” tambah Deevy.

Pada kesempatan tersebut, Deevy juga mengungkapkan tentang sejumlah terobosan WhatsApp dengan meluncurkan berbagai fitur untuk melindungi privasi penggunanya.

Pertama, fitur Block dan Report. “Kalau kita mendapatkan pesan dari orang tak dikenal, secara otomatis WhatApp akan memberikan pilihan, apakah ingin kita laporkan kontak itu, atau mau kita blokir,” jelas Deevy.

Kedua, tanda untuk pesan forward. Tahun lalu, WhatsApp telah memberikan transparansi kepada pengguna terkait pesan yang mereka terima, apakah merupakan pesan yang ditulis sendiri, atau hasil forward. “Kami berikan tanda jika pesan tersebut merupakan hasil forward,” ungkap Deevy.

Ketiga, batasi jumlah forward. WhatsApp pun melangkah lebih jauh dengan membatasi jumlah pesan yang pengguna forward. “Jumlah pesan yang pengguna bisa forward paling banyak lima kali," imbuh Deevy.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA