Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Jenderal Aptika Kemenkominfo Semuel A Pangerapan. (IST)

Direktur Jenderal Aptika Kemenkominfo Semuel A Pangerapan. (IST)

Kemenkominfo Temukan Ribuan Hoaks Covid-19

Senin, 19 Oktober 2020 | 20:13 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah menjaring lebih dari 2.000 konten hoaks terkait pandemi Covid-19 di Indonesia melalui media sosial pada sepanjang periode Januari-Oktober 2020.

Data Kemenkominfo mencatat, sejak 23 Januari hingga 18 Oktober 2020, terdapat 2020 konten hoaks terkait Covid-19 di medsos yang berhasil dipantau dan dijaring. Sementara itu, sebanyak 1.759 konten hoaks tersebut sudah diblokir (take down).

“WHO telah memunculkan suatu istilah baru, yaitu infodemi (terkait hoaks Covid-19). Infodemi menjadi satu masalah baru, selain Covid-19 itu sendiri,” kata Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika (Aptika) Kemenkominfo Semuel A Pangerapan, melalui virtual conference, Senin (19/10).

Menurut Semmy, sapaan akrab Semuel, pihaknya mengidentifikasi tiga jenis infodemi yang beredar di Indonesia. Pertama, berupa disinformasi, yaitu infromasi yang sengaja dibuat salah dengan tujuan untuk mendestruksi informasi yang sudah beredar.

Kedua, malinfromasi. Jenis ini berupa infromasi faktual, tetapi dibuat oleh orang dengan tujuan tertentu. Ketiga, misinformasi yang merupakan informasi tidak tepat, namun dibuat tanpa kesengajaan dari pembuat informasi.

Kemenkominfo terus berusaha untuk meluruskan infromasi sesat tersebut. Harapannya, informasi tidak tepat yang beredar tidak menimbulkan keresahan di tengah kehidupan masyarakat.

“Kami berusaha melakukan pengendalian, bukan membatasi kebebasan masyarakat untuk berekspresi dan menyatakan pendapat. Di tengah situasi pandemi ini, perlu kami meluruskan infromasi yang salah, sehingga tidak meresahkan masyarakat,” tegas Semmy.

Dia menyampaikan, dalam menangani informasi yang berpotensi hoaks, Kemenkominfo senantiasa melakukan pengujian fakta, atau verifikasi informasi yang masuk ke beberapa pihak.

Jika informasi yang masuk tidak benar setelah diverifikasi, atau tidak sesuai dengan fakta, Kemenkominfo akan langsung memberikan stempel hoaks pada konten hoaks tersebut.

Di sisi lain, untuk mengatasi berbagai konten hoaks yang beredar, Kemenkominfo terutama juga melakukan pendekatan melalui literasi digital, yakni memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait ruang digital dan sistem interaksi di dalamnya untuk kegiatan dan tujuan positif, melalui Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi.

Sementara itu, jika ada oknum yang memiliki motif untuk membuat keonaran dan meresahkan masyarakat, seseorang/kelompok tersebut akan berurusan dan diserahkan kepada pihak penegak hukum (Polri).

Langkah tersebut akan diambil jika hoaks sudah membuat keonaran dan meresahkan masyarakat. “Jika ada orang yang bertujuan untuk membuat keonaran akan berhubungan dengan polisi,” tegas Semmy.

Pemblokiran Medsos

Terkait platform medsos yang sering dimanfaatkan untuk penyebaran konten hoaks, Semmy menuturkan, sudah ada aturan yang mengatur apabila terbukti menjadi media penyebaran hoaks.

Pemerintah disebutnya juga tidak bisa bertindak sewenang-wenang untuk memblokir tanpa alasan yang jelas. “Ada tahapannya. Kami tidak bisa serta merta memblokirnya,” ungkap Semmy.

Menurut dia, platform medsos hanya akan diblokir oleh pemerintah jika pengelola tidak mau berkolaborasi dengan pemerintah untuk memberantas hoaks di platformnya.

Namun, pemblokiran medsos juga harus dilakukan dengan pengumpulan bukti-bukti yang kuat bahwa hoaks tersebut telah meresahkan masyarakat. Sementara itu, pengelola platform tidak melakukan tindakan apa pun untuk mengatasinya.

 

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN