Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rudiantara. Foto: IST

Rudiantara. Foto: IST

RUDIANTARA:

Kunci Pengembangan IoT, Penataan Frekuensi dan Kepastian Bisnis Para Makers

MAN, Kamis, 9 Mei 2019 | 13:13 WIB

JAKARTA- Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara telah menandatangani Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tentang penggunaan spektrum frekuensi radio berdasarkan izin kelas belum lama ini. Peraturan tentang ijin kelas frekuensi tersebut bertujuan untuk pengembangan Internet of Things (IoT). Pasalnya, kunci pengembangan IoT terletak pada frekuensi yang ditata dan kepastian bisnis bagi para makers (pembuat aplikasi).

“Ijin kelas sudah tanda tangan. Kita akomodasi Narrow Band (NB IoT) yang kebanyakan operator inginkan, maupun yang tanpa izin (unlicense) seperti WiFi. Aturan yang diatur mengenai izin kelas frekuensi. Karena kunci dari pengembangan IoT bukan meregulasi frekuensinya, tetapi memastikan frekuensi ditata dan bisnisnya itu di makers (yang buat aplikasi),” kata Rudiantara dalam acara buka puasa bersama media di Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Menurut Rudiantara, penandatanganan RPM ini juga merupakan wujud dukungan kementerian terhadap penerapan teknologi IoT di Indonesia. Tidak hanya itu, RPM ini memiliki urgensi untuk memenuhi ketersediaan spektrum frekuensi radio sebesar 350 MHz untuk mobile broadband yang menjadi target Rencana Strategis Kementerian Kominfo tahun 2015-2019, melalui penetapan pita frekuensi radio dan ketentuan teknis penggunaan alat atau perangkat telekomunikasi Licensed Assisted Access (LAA).

“Dukungan tersebut berupa penetapan pita frekuensi radio dan ketentuan teknis penggunaan alat dan/atau perangkat telekomunikasi Low Power Wide Area (LPWA) Nonseluler,” ujar Rudiantara.

Adapun mengenai inti subtansi RPM ini adalah menetapkan alat-alat atau perangkat telekomunikasi yang beroperasi pada spektrum frekuensi radio berdasarkan izin kelas yaitu, Wireless Local Area Network (WLAN), Peranti Jarak Dekat (Short Range Device), Low Power Wide Area Nonseluler (LPWA Nonseluler), Licensed Assisted Access (LAA), Dedicated Short Range Communication (DSRC) dan alat-alat yang beroperasi pada pita frekuensi radio yang digunakan berdasarkan Izin kelas yang sejenis sesuai tingkat teknologi dan karakteristiknya.

Rudiantara menambahkan, IoT akan menjadi industri yang luar biasa di Indonesia. Dia mencontohkan, saat ini penerapan IoT memungkinkan setiap perangkat dan benda terhubung melalui jaringan online.

“Orang bisa simpan di chip mulai dari kacamata, baju, celana, jam tangan, sepatu, dan sebagainya. Satu orang bisa memiliki 10 chip. Kalau kita punya 200 juta orang tinggal dikali berapa, itu baru orang,” jelas Rudiantara.

Tidak hanya itu, Rudiantara juga mencontohkan penggunaan IoT pada listrik, peternakan, dan pertanian. “Aplikasi yang sekarang sedang dikembangkan adalah telemeter untuk listrik. Artinya harus ada chip yang dipasang di alat ukur listrik di rumah agar tidak lagi juru ukur yang melihat, yang menulis berapa harus dibayar tiap bulanan,” ujar Rudiantara.

Bahkan, lanjut Rudiantara ada yang bisa digunakan untuk bidang pertanian dan peternakan. “Yang punya peternakan, memberi makan sekarang sapinya diberi chip karena kita tahu panas badan dan sebagainya, kapan harus memberi makan kepada sapi,” pungkas Rudiantara.

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN