Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Grab. Foto: IST

Grab. Foto: IST

Layanan Grab Hasilkan Surplus ke Konsumen Rp 46 Triliun

Emanuel Kure, Selasa, 23 Juli 2019 | 21:19 WIB

JAKARTA, investor.id - Centre for International and Strategic Studies (CSIS) dan lembaga riset Tenggara Strategics melakukan studi terhadap layanan Grab untuk mengukur peningkatan kesejahteraan masyarakat dari sisi konsumen. Hasilnya, layanan Grab berkontribusi sekitar Rp 46,14 triliun terhadap surplus konsumen untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) pada 2018.

Perinciannya, surplus konsumen yang diperoleh konsumen GrabBike senilai Rp 5,73 triliun dan GrabCar Rp 40,41 triliun. Studi sengaja difokuskan pada surplus konsumen yang dirasakan oleh konsumen GrabBike dan GrabCar di wilayah Jabodetabek. Riset yang dilakukan selama 2018 itu dinilai penting untuk mengevaluasi dampak teknologi terhadap perekonomian secara lebih komprehensif.

Kepala Departemen Ekonomi CSIS Yose Rizal mengatakan, surplus konsumen merupakan manfaat yang diperoleh konsumen dari membeli barang, atau jasa pada harga yang lebih rendah dari jumlah harga maksimal yang sebenarnya harus mereka bayar. Artinya, surplus konsumen adalah harga tertinggi yang bersedia dibayar konsumen dikurangi harga pembelian dari suatu transaksi.

Sebagai contoh, seseorang sebenarnya bersedia membayar Rp 200 ribu untuk sebuah perjalanan dari rumahnya ke Bandara Soekarno-Hatta. Sementara itu, harga yang diberikan oleh Grab untuk perjalanan tersebut hanya Rp150.000, sehingga konsumen memperoleh surplus konsumen senilai Rp 50.000.

Layanan Grab pun memungkinkan pelanggan menghemat uang yang awalnya telah dipersiapkan untuk melakukan perjalanan dari titik A ke titik B. Uang yang dapat disimpan dari sebelumnya dialokasikan untuk melakukan perjalanan pun dapat digunakan untuk membeli barang-barang lainnya.

“Artinya, pelanggan dapat memanfaatkan surplus yang dinikmati untuk membeli barang, atau jasa yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya,” kata Yose di Jakarta, Selasa (23/7).

Yose menuturkan, studi surplus konsumen Grab tersebut merupakan penelitian ekonomi digital pertama di kawasan Asia Tenggara yang menggunakan mahadata (big data) untuk menghitung surplus konsumen.

Penelitian memberikan nuansa baru kepada studi yang telah ada dengan mencangkup implementasi dari strategi hyperlocal, yaitu GrabBike, perbedaan yang signifikan dari segi harga transaksi, volume, dan metode pembayaran, serta perbedaan dari perilaku dan pilihan-pilihan moda transportasi bagi konsumen.

Teknologi digital Indonesia pun mempunyai potensi besar untuk menjadi landasan pembangunan ekonomi inklusif di Indonesia. Penerima manfaat terbesar dari perkembangan ekonomi digital adalah pelaku dunia usaha, terutama usaha kecil dan menengah (UKM), dan konsumen.

“Formulasi kebijakan terkait ekonomi digital seharusnya mempertimbangkan kesejahteraan seluruh pihak terkait agar manfaatnya bisa dirasakan secara optimal,” tambahnya.

Menurut Yose, studi itu juga mencoba untuk menghitung kontribusi teknologi Grab, sebagai salah satu pelaku paling inovatif teknologi digital, terhadap perekonomian Indonesia. Studi ini tidak hanya mengungkapkan berbagai manfaat yang didapatkan oleh mitra Grab, seperti mitra pengemudi maupun mitra usaha, tetapi juga manfaat bagi pelanggan sebagai pengguna jasa.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN