Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi kejahatan  siber. (Sumber: blog.rackspace.com)

Ilustrasi kejahatan siber. (Sumber: blog.rackspace.com)

Literasi Digital Tingkatkan Keamanan Siber

Rabu, 26 Agustus 2020 | 09:28 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Upaya untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang dunia internet dan teknologi informasi (literasi digital) bagi masyarakat dinilai merupakan salah satu cara yang penting untuk meningkatkan kesadaran guna menjaga privasi informasi dan keamanan siber di Tanah Air.

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Henri Subiakto mengungkapkan, penjahat siber seringkali memanfaatkan ketidakpahaman setiap anggota masyarakat tentang dunia digital untuk menyerang perangkat yang digunakan dan mencuri datanya.

“Oleh karena itu, butuh edukasi yang memadai kepada masyarakat untuk memahami ancaman kemanan siber di dunia maya,” ujar Henri, saat jumpa pers secara virtual bersama BSA The Software Alliance, Selasa (25/8).

Karena itu pula, lanjut dia, literasi digital merupakan salah satu hal yang juga penting dilakukan di masa pandemi Covid-19 ini. Karena, penggunaan internet naik seiring dengan anjuran untuk bekerja dan belajar dari rumah untuk mengurangi penyebaran virus tersebut.

"Ketika pandemi, penggunaan internet naik signifikan, tapi, infodemik juga berkembang. Ada risiko lain juga, seperti serangan siber," imbuhnya.

Pada kesempata itu, dia juga mengingatkan pengguna internet harus memahami tidak boleh sembarangan memberikan data pribadi, seperti nama, alamat, dan nomor ponsel. Langkah membagikan data-data tersebut secara sembarangan akan menimbulkan risiko seperti pencurian data dan serangan siber.

Henri berharap, pengetahuan tentang keamanan siber akan menjadi budaya di masyarakat Tanah Air. Mereka perlu mengganti kata sandi secara berkala dan menggunakan kata sandi yang tidak mudah ditebak.

Masyarakat pun diimbaunya untuk tidak membuka pesan, atau tautan yang mencurigakan, atau yang dikirim oleh orang yang tidak dikenal.

Dia melanjutkan, para penjahat siber menargetkan peretasannya demi mendapatkan data pribadi yang berkaitan dengan reputasi. Hal ini akan berhasil dilakukan ketika masyarakat kurang edukasi mengenai risiko dan pentingnya menjaga data pribadi.

“Salah satu cara menghindarinya juga dengan menggunakan perangkat lunak legal agar tidak terhindar dari malware (aplikasi jahat) dan tidak memberikan data pribadi hanya karena tergiur adanya tawaran marketing,” tegas Henri.

Dia menegaskan, penggunaan perangkat lunak yang berlisensi akan sangat membantu keamanan siber karena perangkat akan mendapatkan pembaruan keamanan berikut instruksi tentang keamanan siber secara berkala.

Selain itu, masyarakat di Tanah Air dimintanya untuk menggunakan koneksi internet dan protokol yang aman. Misalnya, tidak sembarangan menyambungkan perangkat ke jaringan Wi-Fi publik yang terbuka karena rawan kejahatan siber.

Software dan Pandemi

Sementara itu, BSA The Software Alliance, lembaga advokasi perangkat lunak global, juga berpendapat bahwa salah satu cara agar perangkat terlindung dari serangan siber adalah dengan menggunakan perangkat lunak (software) yang legal.

"Serangan siber bisa terjadi karena menggunakan perangkat lunak yang tidak berlisensi," kata Direktur Senior BSA Tarun Sawney, dalam diskusi virtual yang sama.

Data dari anggota BSA seperti IBM dan McAfee menunjukkan bahwa ancaman keamanan siber diperparah dengan luasnya penggunaan perangkat lunak tidak berlisensi di Asia Tenggara yang sering mengandung malware, atau memiliki keamanan yang rentan dan membuat perangkat mudah untuk diserang.

Data dari IDC, yang dikutip BSA juga menunjukkan bahwa satu perangkat yang diserang malware membutuhkan biaya sekitar US$ 10.000 agar bisa dipulihkan. Rata-rata perusahaan pun harus mengeluarkan dana US$ 2,4 juta untuk memulihkan semua perangkatnya akibat serangan malware.

Disebutkan pula, saat ini, sebanyak 83% perusahaan besar di Indonesia diperkirakan menggunakan perangkat lunak tidak berlisensi. “Sejak pandemi Covid-19 secara dramatis mengubah cara kerja kita, BSA telah menjadikan keamanan siber sebagai fokus utama di kawasan Asean,” tambah Tarun Sawney.

Karena itu, BSA mengadakan kampanye Legalize and Protect untuk kawasan Asia Tenggara, berupa ajakan untuk menggunakan perangkat lunak legal di Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Filipina, selama enam bulan ke depan.

Salah satu program dalam kampanye Asean Safeguard tersebut berupa konsultasi gratis untuk memfasilitasi perusahaan legalisasi perangkat lunak yang mereka gunakan. BSA menargetkan, kampanye ini dapat menjangkau 40.000 perusahaan.

“Kampanye BSA Legalize and Protect berupaya untuk mengedukasi penggunaan perangkat lunak berlisensi bagi perusahaan-perusahaan, memandu mereka selama proses melegalkan perangkat lunak dan membantu pencegahan kerusakan keamanan siber,” ujarnya.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN