Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi manfaat IoT. (Dok mitechnews.com)

Ilustrasi manfaat IoT. (Dok mitechnews.com)

Manufaktur Percepat Adopsi Teknologi Digital

Selasa, 10 Desember 2019 | 09:30 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Sektor manufaktur di Indonesia mulai gencar dan mempercepat adopsi teknologi digital dalam revolusi Industri 4.0, terutama untuk teknologi kecerdasan buatan (aritificial intelligence/AI), pembelajaran mesin (machine learning), dan internet of things (IoT) yang berbasis komputasi awan (cloud).

Teknologi digital terbaru itu digunakan untuk menopang inovasi manufaktur, sehingga meningkatkan efisiensi sekaligus menggenjot produktivitas, serta mampu mengatur skalabilitas produksi untuk mencapai fleksibilitas dan kegesitan operasional.

Hal tersebut merupakan benang merah yang terangkum dalam diskusi Digital Innovation in The Manufacturing Sector dalam acara Manufaktur Indonesia 2019 di Jakarta Internal Expo Kemayoran, akhir pekan lalu.

VP Product Management Cloud & UC Telkomtelstra Arief Rakhmatsyah menjelaskan, dalam revolusi Industri 4.0, sektor manufaktur telah menggunakan IoT dan memanfaatkan banyak sensor di seluruh lini produksi.

“Kehadiran sensor yang terhubung dengan IoT memungkinkan perusahaan manufaktur untuk mencapai efisiensi operasional, skalabilitas produksi, kegesitan, sekaligus meningkatkan produktivitas di saat peak season,” ujar dia, dalam keterangannya, Senin (9/12).

Berdasarkan riset perusahaan teknologi informasi Gartner IoT Forecast Tools 2018, akan ada 153 ribu benda yang terkoneksi IoT di Indonesia hingga 2020. Pertumbuhan IoT di Tanah Air mencapai rata-rata tahunan majemuk (compounded annual growth rate/CAGR) 19% sampai akhir 2022.

“Dengan banyaknya inovasi-inovasi dan dibutuhkan agility ketika harus men-develop banyak hal, itu lebih mudah kita melakukannya di cloud daripada perusahaan harus berinvestasi di data center yang besar, itu jatuhnya mahal,” tambah Arief.

Karena itu, menurut dia, dibutuhkan solusi-solusi terdepan untuk menjawab tantangan tersebut. Telkomtelstra sebagai cloud provider pun menyediakan sistem berbasis Azure yang sangat lengkap dengan keunggulan end-to-end dari cloud hingga edge computing.

“Edge computing adalah perpanjangan dari cloud yang diletakkan di sisi customer. Sebab, setiap perangkat IoT mengirim data/informasi terus-menerus, kalau langsung ke cloud bisa berat. Terlalu jauh komunikasinya, maka cloud juga perlu perpanjangan tangan. Keunggulannya, edge computing sudah ada machine learning di dalamnya,” paparnya.

Dia menlanjutkan, sektor manufaktur seperti industri pesawat terbang, otomotif, dan lainnya telah menggunakan solusi terdepan tersebut. Implementasi pada industri pesawat, banyak sensor dipasang di setiap pesawat, sehingga dapat mendeteksi risiko dari kerusakan dan perawatan.

Demikian juga, pada industri otomotif, mobil seri mahal dipasang penuh sensor, sehingga ban kempis sedikit saja sudah ketahuan. “Mobil yang dipasangi berbagai sensor itu, datanya kemudian dikumpulkan di edge computing untuk dianalisis dengan machine learning,” jelas Arief.

Dukungan SDM

Chairman Asosiasi Big Data & AI Indonesia Rudi Rusdiah menilai, penggunaan AI, machine learning, dan IoT yang marak di sektor manufaktur di Indonesia tidak lepas dari berbagai tantangan ke depan. Salah satu tantangannya adalah sumber daya manusia (SDM) yang membutuhkan keahlian tertentu.

“Adopsi teknologi digital terbaru seperti artificial intelligence, machine learning, dan IoT makin tumbuh pesat di sektor manufaktur Indonesia. Hal ini merupakan kelanjutan dari sistem otomasi di sektor manufaktur yang telah berkembang dari 10 tahun lalu, kemudian, beralih ke arah efisiensi dan kegesitan dalam operasi,” ujar dia.

Chairman Aptiknas DKI Jakarta yang juga Sekjen Asosiasi Cloud Computing Indonesia (ACCI) Franky Christian menjelaskan, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah membuat INDI 4.0 yang menjadi indeks acuan untuk mengukur tingkat kesiapan industri manufaktur menuju Revolusi Industri 4.0.

Hasil sementara dari INDI 4.0 menyebutkan, sebanyak 326 perusahaan manufaktur telah melakukan assessment dan bersiap untuk bertransformasi menuju Revolusi Industri 4.0. “Hal ini menunjukkan manufaktur mulai sadar dengan Revolusi Industri 4.0 sesuai dengan visi Presiden Jokowi yang dicanangkan pada April 2019 saat peluncuran Making Indonesia 4.0,” pungkas Franky.

 

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN