Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Eva Noor, CEO PT Xynexis International

Eva Noor, CEO PT Xynexis International

Mengatasi Usaha Bisnis Dalam Pandemik Covid 19

Imam Suhartadi, Selasa, 2 Juni 2020 | 22:45 WIB

JAKARTA, investor.id - Menjalankan bisnis di tengah situasi pandemi Covid-19 adalah tantangan tersendiri. Selain pembatasan sosial yang membuat masyarakat tak leluasa beraktifitas, banyaknya pemutusan hubungan kerja atau PHK hingga menurunnya daya beli masyarakat.

Sebagai pelaku usaha, diperlukan beberapa langkah untuk dapat bertahan. Salah satunya adalah dengan melakukan skema perubahan pada pengaturan arus keuangan perusahaan serta berbagai inovasi  perlu dilakukan untuk tetap dapat mempertahankan bisnis agar berkelanjutan. 

Pandemik ini menuntut semua orang untuk cepat menyesuaikan diri dengan pola kerja baru. Beberapa contohnya yaitu para pekerja harus merubah kegiatannya menjadi Work From Home (WFH), mahasiswa dan anak sekolah pun harus belajar secara online. Walaupun banyak kegiatan yang tidak dapat berjalan seperti biasanya, namun kita harus tetap optimis untuk mengambil peluang usaha yang masih bisa dilakukan. 

Eva Noor, CEO PT Xynexis International yang bergerak dalam bisnis cyber security mengutarakan berbagai tips dan trik dalam langkah menyiasati bisnis dimasa sulit akibat situasi pandemik covid 19, yang dianggap cukup serius ini.

Pandemik COVID-19 dinilai akan membawa perubahan dalam bisnis kedepan. Hal itu terutama dalam perilaku konsumen dan konsumsi. Oleh karenaitu, pentingnya identifikasi perilaku konsumsi dan konsumen, karena merebaknya virus corona baru yaitu Sars-CoV-2 yang sebabkan COVID-19 mempengaruhi industri dan sektor usaha.

Pandemi virus Covid-19 tidak hanya mengancam sektor kesehatan, namun juga mengancam krisis ekonomi global. Berdasarkan data dari World Economic  Outlook April 2020, IMF memprediksikan perekonomian dunia akan merosot hingga ke minus tiga persen sampai dengan tahun ini. Namun bila pandemi in iberakhir pada paruh kedua tahun 2020 dan aktivitas ekonomi kembali normal, maka ekonomi Indonesia diprediksi bisa tumbuh hingga 8,2 persen, sementara perekonomian dunia akan tumbuh hingga 5,8 persen. 

Situasi Bisnis saat ini menurut Eva, di analogikan seperti kapal-kapal dilaut yang sedang menggalami turbulence atau guncangan karena cuaca buruk.

Tidak pandang bulu apa itu ukuran kapal besar, menengah atau kecil dan jenisnya semua berdampak. Sekarang pertanyaannya siapa yang  bisa bertahan dan keluar dari turbulence/ guncangan itu?

Menurut dia, prioritas utama adalah usaha menyelamatkan isi kapal (karyawan, Nasabah,dll). Lalu kapal harus dipastikan tidak dalam keadaan bocor (secara internal kuat) dan serta dibutuhkan kelihaian nahkoda kapal dalam memimpin dan mengendalikan kapal tersebut,hingga bisa keluar dari guncangan dengan selamat dan mencapai tujuan.

“Wabah COVID-19 adalah tragedi kesehatan manusia dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi global. Guncangan ekonomi dikarenakan pandemi COVID 19 ini membuat bisnis di berbagai sektor di negara ini terpukul keras dan mendatangkan malapetaka pada kegiatan ekonomi nasional,” ujar Eva Noor dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (2/6).

Analogi agar kapal atau perahu tidak bocor dan tenggelam saat mengalami turbulence, adalah contoh bagaimana seorang  leader harus membuat prioritas-prioritas yang mengutamakan keselamatan team, pelanggan dan pemangku kepentingan. 

Pemimpin harus memastikan sistem diperusahaan bisa berfungsi dengan baik,dengan  memeriksa status keuangan secara menyeluruh, membuat strategi baru yang lebih fleksible dan juga berkomunikasi terus menerus dengan team untuk bisa bekerjasama-sama keluar dari badai  dan guncangan .

“Seperti yang di utarakan di atas bahwa prioritas pertama seorang  leader adalah keselamatan karyawan, nasabah/Klien serta para stakeholder,” kata Eva menambahkan. 

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk Nasabah ; komunikasi secara berkala dengan memberikan informasi yang transparan, autentik, mengedukasi, dan memberi kepastian dari jasa yang kita berikan dengan kualitas terbaik seperti sebelumnya adalah sebuah proses yang harus dilakukan.

Untuk Internal, Hal terpenting adalah Hope & Positivity. Memberi harapan bukan berarti menjanjikan sesuatu yang kita tidak ketahui kepastian hasilnya, tetapi dengan berkomunikasi secara transparan tentang situasi internal serta  mendorong karyawan dengan positif untuk hand in hand melalui krisis COVID 19 ini. Karena kekuatan team work menjadi kunci keluar dari krisis dan berkembang cepat.

Entrepreneurs Harus Panjang akal

Eva pernah mengalaminya dan belajar banyak sekali dari tahun 2008. “Jadi Pebisnis itu harus panjang akal, setiap hari harus problem solving mode istilahnya. Buat inovasi-inovasi yang banyak jangan tunggu lagi tetapi langsung coba, tidak berhasil coba lagi yang lain,terus begitu sampai berhasil. Pada situasi krisis seperti ini cara berfikir kita juga harus fleksibel dan juga harus responsif dalam setiap perubahan karena kita tidak pernah tahu dan tidak bisa mengkontrol tantangan dari eksternal,” paparnya. 

Menurut Eva Noor, yang bisa di kontrol adalah cara berfikir. Bagaimana cara kita mencari solusi, cara kita melakukan hal-hal yang bisa keluar darI krisis tersebut.

” Seseorang yang ingin meraih keberhasilan harus gigih, berdaya juang tinggi, dan tak mudah patah arang. “Never give up and work relentless,”.ujar Eva

Selama  berbisnis, Eva pernah mengalami krisis ekonomi yang sifatnya eksternal di tahun 2008. Krisis ekonomi global yang terjadi pada tahun 2008 sebenarnya bermula pada krisis ekonomi Amerika Serikat yang lalu menyebar ke negara-negara lain di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dampak lainnya adalah banyak perusahaan yang mengurangi jumlah tenaga kerjanya dan juga banyak perusahaan yang harus tutup.

Tahun 2008 krisis global yang berpengaruh ke ekonomi Indonesia membuat Eva, harus menutup satu dari dua perusahaannya. Butuh waktu 2 tahun untuk bisa bangkit lagi dan ketika semua orang menyerah, tahun 2010 saya buka satu perusahaan lagi dan semua berkembang sampai sekarang.

“ Kini tahun 2020 krisis kembali menghantam global  karena COVID 19, dan krisis kali ini jauh lebih parah dari tahun 2008,” ungkap Eva.

Lama Recovery dimasa depan dan setelah pandemik covid 19 ini,tergantung dari jenis bisnisnya.Bisnis yang  paling berdampak seperti bisnis hospitality dan industri pariwisata serta hiburan, mungkin butuh waktu dua tahun untuk recovery dan memulainya kembali tergantung situasi pandemik yang ada. Karena tantangan terbesar adalah mengembalikan daya beli masyarakat dan ini butuh bantuan dan upaya pemerintah.

Beberapahal yang bisa di lakukan Perusahaan agar recovery bisa cepat dan kembali berkembang lagi adalah dengan meninjau kembali ; keselamatan karyawan dan pelanggan, cash flow dan revenue, Optimalisasi  Biaya, strategi bisnis,bisnis proses, penerapan technology , komunikasi dan edukasi kepada karyawan dan pelanggan secara transparan.

“Semua hal tersebut harus di tinjau ulang dan lakukan banyak uji coba sampai bisa menemukan yang paling optimal. Jika sudah mencapai phase optimal waktunya meningkatkan skala bisnis sehingga bisakeluar dari krisis dan lebih kuat lagi,” katanya.



 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN