Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate saat virtual conference terkait  Kekhawatiran Dampak Implementasi 5G Terhadap Keselamatan Penerbangan, Rabu (19/1) (Foto: Eman)

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate saat virtual conference terkait Kekhawatiran Dampak Implementasi 5G Terhadap Keselamatan Penerbangan, Rabu (19/1) (Foto: Eman)

Menkominfo: Penggelaran 5G di Indonesia Tidak Mengganggu Sektor Penerbangan

Rabu, 19 Januari 2022 | 16:15 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA,investor.id- Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menegaskan, penggelaran jaringan 5G di Indonesia tidak mengganggu keselamatan penerbangan di udara.

Pasalnya, pita frekuensi untuk penggelaran jaringan 5G di Indonesia tidak berada pada pita frekuensi radio altimeter yaitu pada pita frekuensi 3,7-3,98 Ghz sebagaimana yang dilakukan di Amerika Serikat (AS). Indonesia menggunakan pita frekuensi di bawah dari pita frekuensi yang disebutkan di atas.

“Untuk konteks Indonesia, tidak ada rencana untuk menggunakan pita frekuensi 3,7 Ghz dalam rangka implementasi 5G. Karena, pemerintah tetap akan menggunakan pita frekuensi 3,7-4,2 Ghz guna keperluan komunikasi satelit, bukan untuk 5G,” kata Johnny melalui virtual conference, Rabu (19/1).

Hal itu disampaikan Johnny untuk merespon isu terkait layanan 5G yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan, sebagaimana yang terjadi di AS. Di AS sendiri, kata Johnny, Presiden AS Joe Biden telah mengumumkan penundaan sementara implementasi 5G pada pita frekuensi tersebut. Tertutama di wilayah bandara-bandara utama (key airport) di AS.

“Berdasarkan statement presiden Joe Biden yang dirilis oleh situs whitehouse.gov, (18/1/2022), disebutkan bahwa penggelaran jaringan 5G di AS untuk sementara ditunda pada sejumlah kawasan terbatas, khsusunya di sekitar bandara utama (key airports). Namun demikian, pemerintah AS tetap mengizinkan penggelaran 5G sesuai jadwal yang ditentukan pada wilayah yang berada di luar bandara-bandara tersebut,” ujar Johnny.

“Hal itu dapat disimpulkan 90% dari rencana penggelaran 5G di AS tidak terhambat dengan prmbatasan tersebut. Paralel dengan pembatasan tersebut, solusi teknis yang bersifat praktis terus dicari dan diupayakan oleh para stakeholder di AS,” tambah Johnny.

Johnny melanjutkan, di Indonesia, layanan 5G yang beropreasi secara komersial saat ini, menggunakan pita frekuensi 1800 Mhz, dan 2,3 Ghz. Sedangkan, untuk pita frekuensi baru yang sedang dalam proses farming dan refarming, adalah, low band pada pita 700 Mhz, middle band pada pita 3,5 Ghz, dan 2,6 Ghz, serta high band pada pita 26 Ghz dan 28 Ghz.

Lebih jauh, Johnny menuturkan, dengan memperhatikan bahwa alokasi frekuensi untuk radio altimeter yang telah ditetapkan oleh International Telecommunication Union (ITU) adalah pada rentang 4,2-4,4 Ghz, maka pengaturan frekuensi 5G di Indonesia dapat dikatakan relatif aman.

“Karena, tersedianya guard band sebesar 600 Mhz yang membentang dari frekuensi 3,6-4,2 Ghz guna membentengi radio altimeter dari signal jaringan 5G,” tutur Johnny.

Guard band sebesar itu, lanjut Johnny, hampir 3 kali lipat lebih besar dibandingkan yang disediakan di AS. Potensi interferensi antara 5G dengan radio altimeter telah dan saat ini sedang dikaji Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dengan melibatkan para akademisi dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

“Kemenkominfo senantiasa akan terus menjaga setiap komunikasi yang memanfaatkan sumber daya alam (SDA) spektrum frekeunsi radio bebas dari gangguan atau interferensi, terlebih radio altimeter. Kita harapkan idustri telekomunikasi kita terus berkembang dan produktif,” tandas Johnny.

Keselamatan Penerbangan

Johnny menambahkan, kasus yang terjadi di AS konteksnya adalah untuk jaringan 5G yang bekerja pada pita 3,7 Ghz, tepatnya pada 3,7-3,98 Ghz. Rentang frekuensi ini dikhawatirkan terganggu adalah sistem radio altimeter yang bekerja pada pita 4,2-4,4 Ghz. Sistem radio altimeter ini merupakan sistem keselamatan utama dan penting dalam pengoperasian pesawat udara guna menentukan posisi pesawat terbang di atas tanah.

“Informasi yang dimanfaatkan dari penggunaan radio altimeter sangat penting dalam mendukung operasi penerbangan terkait dengan keselamatan penerbangan dan fungsi navigasi pada semua pesawat udara, serta fungsi-fungsi lainnya untuk dapat mendaratkan pesawat secara otomatis,” kata Johnny.


 

Editor : Emanuel (eman_kure@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN