Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
OVO Bersinergi dengan JNE (Foto: OVO/IST)

OVO Bersinergi dengan JNE (Foto: OVO/IST)

OVO Jadi Unicorn Kelima RI

Abdul Muslim, Minggu, 6 Oktober 2019 | 22:12 WIB

JAKARTA, investor.id - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara memastikan, OVO, platform pembayaran, rewards, dan layanan keuangan digital terdepan di Indonesia, sudah naik kelas menyandang status unicorn yang kelima di Indonesia (RI).

OVO menyusul Tokopedia, Traveloka, Gojek, dan Bukalapak, yang sebelumnya telah menyandang status serupa. Unicorn merupakan sebuah istilah untuk menyebut usaha rintisan berbasis teknologi (start-up) yang berkembang pesat usahanya dan valuasi perusahaannya minimal US$ 1 miliar, atau sekitar Rp 14,1 triliun.  

“Saya sudah bicara dengan founder-nya, dan memang iya. Makanya, saya berani bicara setelah saya konfirmasi,” ujar Rudiantara, ditemui di sela gelaran Siberkreasi di Jakarta, Sabtu (5/10).

CB Insight, firma analisis perusahaan, dalam situsnya, menulis bahwa valuasi OVO diperkirakan telah mencapai US$ 2,9 miliar, atau sekitar Rp 41 triliun. Bahkan, CB Insight menyebut, valuasi OVO sebesar itu sudah terjadi sejak 14 Maret 2019.

Dalam riset terbaru Google, Temasek, dan BAIN & Company, berjudul e-Conomy SEA 2019 yang dirilis pekan lalu, OVO juga disebut telah naik kelas menjadi unicorn.

OVO kini masuk dalam status tersebut bersama 10 perusahaan berbasis teknologi lainnya di Asia Tenggara, yakni Bigo, Bukalapak, Gojek, Grab, Lazada, Razer, Sea Group, Traveloka, Tokopedia, dan VNG.

Selama empat tahun terakhir, unicorn di Asia Tenggara telah menarik guyuran dana investasi sekitar US$ 24 miliar dari total US$ 37 miliar yang dikumpulkan oleh semua start-up.

"Pada 2019, OVO, platform pembayaran, imbalan, dan jasa keuangan Indonesia, bergabung dengan grup eksklusif ini, sehingga jumlah unicorn di wilayah ini bertambah menjadi 11,” ungkap riset Google, Temasek, dan BAIN.

Sebelumnya, unicorn di kawasan Asia Tenggara berjumlah delapan. Sebanyak empat ada di Indonesia, yakni Gojek, Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka. Sedangkan empat lainnya ada di Singapura, yaitu Grab, SEA, Lazada, dan Razer.

Pencapaian di kawasan Asia Tenggara itu sebagian besar merupakan hasil dari investor yang menggandakan dananya kepada kelompok perusahaan yang sukses tersebut dengan rekam jejak yang terbukti. Sementara itu, bisnis mereka juga semakin berkembang pesat.

Sejumlah start-up calon unicorn (aspiring unicorns) yang sedang tumbuh juga telah muncul dan sedang mencari pendanaan tahap akhir untuk meningkatkan skala bisnisnya. Investor regional dan global juga siap untuk kesempatan ini, siap untuk mendukung perusahaan lebih lama, dan dengan lebih banyak sumber daya.

“Kita patut bersyukur. Target kami sampai akhir 2019 ada lima unicorn tercapai. Sebelum akhir tahun ini, sudah ada unicorn baru. Selamat datang kepada OVO yang menjadi unicorn baru Indonesia yang incorporated, atau didirikan di Indonesia,” tambah Rudiantara, seperti dikutip Antara.

Dia memperkirakan, target lima unicorn di Indonesia tahun ini berpotensi terlewati karena masih ada lainnya yang berproses. Sekarang, transaksinya sedang berjalan.

Terkait potensi perusahaan rintisan lain sebagai unicorn selanjutnya, Menkominfo hanya memberi isyarat bahwa start-up berasal dari sektor pendidikan. Belum pasti, apakah status unicorn berikutnya akan dicapai oleh Ruangguru, seperti diprediksi banyak pihak.

“Bagaimana pun, secara logika, 20% APBN pemerintah untuk pendidikan, 5% untuk kesehatan. Jadi, masa sih tidak ada unicorn dari sektor itu,” ujar Rudiantara, berteka-teki.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA