Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo ADA Asia, sebuah perusahan yang bergerak di bidang AI (kecerdasan buatan) dan pengolahan data. ( Foto: ada-asia.com )

Logo ADA Asia, sebuah perusahan yang bergerak di bidang AI (kecerdasan buatan) dan pengolahan data. ( Foto: ada-asia.com )

Pandemi Covid-19 Ubah Aspek Kehidupan Masyarakat

Minggu, 26 Juli 2020 | 09:11 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA – Laporan Global Web Index menyebutkan, bahwa pandemi virus corona Covid-19 telah mengubah berbagai aspek kehidupan masyarakat. Menurut catatannya, terdapat lebih dari 76% pengguna Internet berusia 16 – 64 tahun yang menghabiskan waktu untuk menggunakan ponsel pintar (smartphone) selama pemberlakuan social distancing. Bahkan, angka ini lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi berlangsung.

“Banyak yang menyikapi perubahan perilaku konsumen ini sebagai kelesuan dalam bisnis. Sebetulnya, konsumen tidak hilang. Mereka hanya beralih ke digital platform yang memungkinkan mereka untuk tetap beraktivitas dan bersosialisasi di tengah situasi pendemi,” ujar Country Director ADA Indonesia, Faradi Bachri, dalam keterangan pers belum lama ini.

Selain beralih ke digital platform, situasi pandemi juga membuat masyarakat menahan konsumsinya. Pengeluaran terfokus pada kebutuhan harian, sementara sisanya akan disimpan atau ditabung. Masyarakat menunggu saat yang tepat untuk melakukan pengeluaran di luar kebutuhan harian.

Sedangkan di sektor bisnis, Faradi mengatakan, umumnya bisnis bereaksi dengan cara menahan semua pengeluaran yang berkaitan dengan aktivitas pemasarannya, seperti memilih menyimpan atau mengalihkan dana untuk digunakan pada situasi darurat. Sehingga, aktivitas pemasaran diprediksi menurun pada masa pandemi.

“Pada awal social distancing diberlakukan, aktivitas pemasaran cenderung lesu. Pemain bisnis mulai mengatur strategi dalam menghadapi dampak dari Covid-19. Namun, ada beberapa perusahaan yang justru mampu memanfaatkan situasi ini untuk tetap melakukan komunikasi pemasaran melalui digital platform,” katanya.

Menurut catatan Faradi, ada pertumbuhan belanja iklan digital yang signifikan pada Januari hingga Juni 2020 dibandingkan tahun lalu. Pertumbuhan tersebut mencapai 25%, dengan puncak aktivitas belanja iklan pada Juni.

Naiknya belanja iklan digital secara signifikan, memperlihatkan bahwa pemain bisnis menanggapi kondisi ini dan beradaptasi dengan cepat. Para pebisnis juga menyesuaikan pengelolaan pesan dan pendekatan kreatif agar relevan dengan situasi yang dihadapi konsumen, serta platform komunikasi yang digunakan yakni secara digital.

Menurut Faradi, di tengah kondisi pandemi, bisnis harus lebih mementingkan konsumen dengan cara memahami tidak hanya dari segi kebutuhan melainkan juga kekhawatiran mereka. Selain penggunaan digital platform, pada tahap ini pemanfaatan data memegang peranan yang sangat penting.

Ditambahkan oleh Faradi, Jika proses pengolahan, dan analisis data dilakukan dengan benar maka bisnis atau perusahaan akan mendapatkan pengetahuan yang nantinya dapat diolah menjadi sebuah solusi yang tepat sasaran untuk konsumen.

Pentingnya pengolahan dan analisis data juga terbukti dari insights yang ditemukan ADA di masa pandemi. ADA mencatat peningkatan penggunaan aplikasi travelling di Indonesia selama Maret 2020. Bahkan, peningkatan tersebut mencapai 700% pada pertengahan Maret. Hal ini menjadi indikasi bahwa keinginan untuk bepergian tidak surut karena pandemi.

“Covid-19 tidak lantas mematahkan keinginan masyarakat untuk bepergian. Namun, karena kondisi yang tidak memungkinkan, mereka pun menghabiskan waktunya untuk melihat aplikasi atau konten yang berkaitan dengan travelling. Tugas pemain bisnis adalah menangkap keinginan tersebut, kemudian membuat solusi bagi konsumen,” ungkap Faradi.

Keinginan masyarakat pun dijawab oleh pelaku industri travelling dengan bentuk promosi seperti pay now, stay (or fly) later. Dengan promosi semacam ini, konsumen dapat merencanakan perjalanan dan membayar akomodasinya sekarang, kemudian melakukan perjalanan jika situasi kembali normal. Hal ini merupakan sebuah solusi tidak hanya bagi konsumen, tetapi juga untuk keberlangsungan bisnis perusahaan.

Covid-19 Mendorong Proses Digitalisasi

Selain itu, ADA melihat peralihan aktivitas dari offline ke online yang kemunginan besar menjadi permanen. Hal ini didorong oleh kesadaran masyarakat, bahwa penggunaan digital platform untuk kehidupan sehari-hari tidak sesulit yang dibayangkan. Semuanya mudah dilakukan, dan dapat dipenuhi hanya menggunakan sebuah gadget.

Industri dan pelaku bisnis pun dipaksa bertranformasi ke ranah digital. Salah satunya adalah sektor industri kesehatan, yang mulai mengarah ke digital.

“Hal ini didorong oleh kebutuhan yang bertentangan dengan rasa khawatir masyarakat. Misalnya, saat sedang sakit seseorang membutuhkan konsultasi dokter. Namun, Covid-19 membuat mereka khawatir untuk keluar rumah. Di saat ini-lah aplikasi kesehatan menjadi solusi,” kata Faradi.

Pada akhirnya, lanjut Faradi, kondisi pandemi memaksa masyarakat untuk beradaptasi, mengubah cara hidup dan aktivitas sehari-harinya. “Pandemi menjadi kondisi yang menakutkan, dan tidak terelakan lagi. Namun di sisi lain, kondisi ini membantu mempercepat transformasi digital, sehingga kita dipaksa memanfaatkan digital platform untuk beraktivitas setiap harinya. Lambat laun, gaya hidup digital pun menjadi permanen,” ujar Faradi.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : PR

BAGIKAN