Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem Muhammad Farhan. (Dok dpr.go.id)

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem Muhammad Farhan. (Dok dpr.go.id)

Pemerintah Perlu Lindungi Keberlangsungan Layanan Satelit

Kamis, 10 Juni 2021 | 21:07 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Anggota Komisi I DPR Fraksi Nasdem Muhammad Farhan berpendapat, layanan telekomunikasi melalui satelit di Tanah Air masih menjadi industri yang sangat strategis, sehingga perlu dihadirkan dan dilindungi pemerintah. Sebab, belum semua wilayah di Indonesia dapat dilayani dengan layanan kabel dan seluler dengan baik, seperti di Papua.

Kehadiran layanan telekomunikasi melalui satelit menjadi sangat penting melihat putusnya Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS) ruas Biak-Jayapura, Papua, sejak 30 April lalu, akibat faktor alam. Apalagi, target PT Telkom Indonesia Tbk, sebagai operatornya, meleset dalam target perbaikan yang seharusnya selesai awal Juni ini.  

Bahkan, putusya SKLL tersebut ternyata sudah terjadi beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir. Terkini, sejumlah wilayah di Papua pun layanan telekomunikasinya, termasuk internet, terdampak dan belum bisa 100% karena menggunakan layanan backup, yakni di Kota Jayapura, Abepura, Sentani, dan Sarmi.

Saat ini, pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), bersama Telkom, terus berupaya untuk memulihkan gangguan telekomunikasi yang terjadi di wilayah Papua. Telkom pun telah mendatangkan kapal untuk memperbaikinya.

Melihat masih seringnya kabel serat optik putus dan kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas pegunungan, termasuk deretan pegunungan aktif yang ada di lautan seperti di Papua, Farhan pun menegaskan kembali pentingnya keberadaan satelit untuk menunjang layanan telekomunikasi di Tanah Air.

"Karena demografi di Papua yang sangat menantang berupa perbukitan dan hutan, sehingga layanan satelit masih menjadi kebutuhan sangat krusial dalam meningkatkan inklusi layanan digital. Layanan telekomunikasi menggunakan satelit masih menjadi ujung tombak di Papua,” ujar Farhan, dalam pernyataannya, Kamis (10/6).

Karena memiliki cakupan layanan yang sangat luas, lanjut dia, sehingga ke depannya, industri satelit nasional masih sangat dibutuhkan. Apalagi jika melihat kondisi geografis Indonesia yang sangat menantang, khususnya di antaranya di Papua.

Hal itu diperlukan karena layanan kabel laut dan seluler di Indonesia sampai saat ini belum mampu menjangkau setiap daerah di Papua. Layanan satelit pun bisa dimanfaatkan untuk menyediakan layanan telekomunikasi dengan cakupan yang semakin luas dan mudah.

Kondisi geografis Indonesia yang dikelilingi gunung berapi serta seringnya aktivitas vulkanis menyebabkan layanan telekomunikasi pun tidak bisa hanya bergantung pada satu jenis infrastruktur, seluler, atau kabel serat optik saja.

Jika menggelar kabel serat optik di bawah laut sebagai backup, masih ada kemungkinan kabel tersebut melewati gunung berapi bawah laut. Karena itu, ada risiko kabel putus akibat aktivitas vulkanis, seperti yang terjadi di Papua.

“Karena itu, infrastuktur di darat/laut harus di-backup dengan infrastruktur di langit, yaitu satelit,” tegasnya.

PON di Papua

Selain dibutuhkan untuk melayani telekomunikasi, saat ini, satelit juga di antaranya masih dipergunakan untuk layanan penyiaran. Peran dan fungsi satelit ini akan semakin strategis ketika pemerintah memiliki hajatan nasional.

Dalam waktu dekat, pemerintah akan menyelenggarakan perhelatan PON XX di Papua pada 2-15 Oktober 2021. Karena itu, fungsi strategis satelit akan dilibatkan untuk menyampaikan informasi dan event olahraga dari PON di Papua ke seluruh wilayah Indonesia dan dunia.

Karena melihat posisi strategis yang tak akan pernah tergantikan oleh jaringan serat optik, Farhan pun meminta agar industri satelit nasional dapat terus diperhatikan dan dilindungi oleh pemerintah.

"Saat ini, teknologi satelit juga dapat untuk mengawasi pesawat dan memobilisasi pasukan. Dengan teknologi Integrated Communications Control System (ICCS), kita dapat mengontrol dan memobilisasi pergerakan pasukan dengan menggunakan satelit, sehingga sampai kapan pun satelit masih sangat dibutuhkan," pungkas Farhan.

Layanan Backup

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menjelaskan bahwa gangguan jaringan telekomunikasi yang terjadi di sejumlah wilayah Papua disebabkan oleh putusnya SKKL SMPCS ruas Biak – Jayapura sejak akhir April lalu.

Saat ini, Telkom sudah menyiapkan backup link dengan kapasitas 4,7 Gbps. Dari jumlah tersebut, 2.662 Mbps ditunjang dari pemanfaatan link satelit. Backup link sebesar 500 Mbps didapatkan dari radio long haul Palapa Ring Timur dan radio long haul Sarmi-Biak 1,6 Mbps.

"Sedangkan untuk mengamankan kualitas link pada saat proses penyambungan,  Telkom juga menyediakan backup link, khususnya untuk wilayah Manokwari dan Biak sebesar 40 Gbps melalui Palapa Ring Timur," terang Menkominfo.

 

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN