Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Keamanan Siber (Foto: IST)

Keamanan Siber (Foto: IST)

Peningkatan Literasi Digital harus Dibarengi Kesadaran Perlindungan Data Pribadi

Senin, 24 Januari 2022 | 16:10 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA,investor.id- ITSEC Asia satu perusahaan siber security menyoroti tentang perkembangan literasi digital di Indonesia.

Pasalnya, berdasarkan hasil survei dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), dari empat pilar yaitu, digital culture, digital ethics, digital skill dan digital safety. Digital culture mendapat skor paling timggi, yaitu 3,90 dalam skala 5.

Sementara, skor terendah adalah digital safety yaitu mendapat skor 3,10. Oleh karena itu, ITSEC menilai peningkatan literasi digital harus dibarengi juga dengan kesadaran akan perlindungan data pribadi.

“Data yang dirilis oleh Kemenkominfo menunjukkan bahwa saat ini literasi digital masyarakat Indonesia terhadap pemanfaatan dan pengetahuan semakin mengarah ke tingkatan yang lebih baik. Namun, data tersebut juga menunjukkan bahwa indeks literasi digital dalam segi keamanan masih perlu ditingkatkan,” kata Andri Hutama Putra, Presiden Direktur PT ITSEC Asia, melalui siaran pers, Senin (24/1).

Andri melanjutkan, saat ini dengan penggunanan internet dan sosial media yang meningkat, masih banyak masyarakat yang juga dengan mudah mengumbar data pribadi mereka di ranah digital. Hal ini tentu sangat rawan terhadap penyalahgunaan seperti penipuan secara digital dan juga potensi pemalsuan data.

“Selain masyarakat sendiri, lembaga atau perusahaan yang Go-digital dan menyimpan data pribadi konsumen atau pengguna juga harus memahami konsekuensi perlindungan data yang mereka pegang,” jelas Andri.

Sementara itu, desakan terkait pengesahan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP) Kembali digaungkan oleh Koalisi Advokasi Perlindungan Data Pribadi (KA-PDP) terhadap Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah pasca dugaan bocornya data 6 juta pasien Covid-19 yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Data yang diduga bocor disinyalir mencakup hasil pemeriksaan radiologi, foto dan identitas pasien, hasil CT scan, hasil tes Covid-19, asal rumah sakit, dan waktu pengambilan gambar.

“Ini menjadi peringatan keras bagi kita semua, bahwa perkembangan digital ke arah yang semakin canggih juga diimbangi dengan ancaman serangan siber yang semakin meningkat. Dengan begitu, sudah seharusnya bahwa perlindungan data pribadi dalam dunia digital menjadi tanggung jawab tidak hanya pemerintah, namun juga elemen-elemen pengguna lainnya seperti lembaga atau perusahaan beserta anggota atau organisasinya, dan juga masyarakat umum,” ungkap Andri.

Jika melihat kembali riset yang dilakukan oleh Microsoft dan International Data Corporation (IDC) pada 2019, sebanyak 46% konsumen Indonesia tidak mempercayai layanan digital. Menurut riset tersebut, faktor yang paling memengaruhi kepercayaan konsumen terhadap layanan digital adalah elemen keamanan 87%, kerahasiaan pribadi sebesar 86%, dan etika 85%.

Elemen lainnya adalah kepatuhan sebesar 82% dan reliabilitas sebesar 80%. Oleh karena itu transformasi layanan digital jangan sampai melupakan faktor keamanan dan perlindungan data pribadi, karena dapat berpotensi juga pada penurunan minat atau kepercayaan masyarakat pada layanan digital.

“Kepercayaan publik terhadap penggunaan digital justru yang akan mengakselerasi peningkatan literasi digital di Indonesia. Oleh sebab itu, setiap elemen harus mendukung dalam memberikan pengetahuan, perlindungan, dan penjaminan yang aman dalam menggunakan layanan digital. Sehingga, kemajuan industri dan ekonomi di Indonesia lewat digitalisasi akan semakin cepat,” tegas Andri.

Terkait literasi digital, berdasarkan Indeks Literasi Digital yang diukur dari 4 pillar oleh Kemenkominfo, budaya digital mendapat skor tertinggi dalam pengukuran Indeks Literasi Digital Indonesia 2021.

Pilar Budaya Digital (digital culture) mendapat skor 3,90 dalam skala 5 atau baik. Diikuti Pilar Etika Digital (digital etics) dengan skor 3,53 dan Pilar Kecakapan Digital (digital skill) dengan skor 3,44. Sementara itu, Pilar Keamanan Digital (digital safety) mendapat skor paling rendah (3,10) atau sedikit di atas sedang.


 


 


 

Editor : Emanuel (eman_kure@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN