Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi kejahatan siber (Gambar: computerworld.com/IST)

Ilustrasi kejahatan siber (Gambar: computerworld.com/IST)

Perusahaan Perlu Waspadai 5 Ancaman Kejahatan Siber

Abdul Muslim, Rabu, 28 Agustus 2019 | 06:00 WIB

JAKARTA, investor.id - Grant Thornton, perusahaan konsultan manajemen multinasional, mengeluarkan kajian yang mengingatkan agar berbagai perusahaan perlu mewaspadai lima ancaman kejahatan siber yang membahayakan kinerjanya. Lima ancaman terdiri atas ransomware, pencurian data, penyamaran, penambangan bitcoin, dan pencurian intelectual property (IP).

Managing Partner Grant Thornton Indonesia Johanna Gani mengatakan, kelompok penjahat siber cenderung menargetkan perusahaan menengah. “Perusahaan besar mungkin memiliki dana yang lebih besar untuk membayar tebusan, namun mereka juga memiliki sumber daya yang lebih memadai untuk membangun pertahanan siber yang lebih kuat," ujar Johanna Gani, dalam keterangannya, Selasa (27/8).

Menurut dia, perusahaan menengah masih menjadi target kejahatan siber yang potensial. Karena, perusahaan menengah tersebut kemungkinan tidak memiliki tingkat sumber daya yang sama dalam rangka berinvestasi untuk pertahanan dan keamanan siber.

Joanna menjelaskan, bentuk ancaman siber terkini, pertama, ransomware, atau penyerang menginstal perangkat lunak untuk mematikan sistem bisnis, atau membuat bisnis menjadi offline, atau luring. Pemilik komputer pun akan dipaksa membayar tebusan sebelum ransomware dihapus atau dinonaktifkan oleh penyerangnya.

Kedua, pencurian data. Dalam hal ini, penyerang mencuri data pelanggan dan menjualnya ke oknum lain. Atau bisa juga, pelaku kejahatan siber mencuri data identitas orang lain, kemudian, meminta pembayaran untuk mengembalikan data yang telah dicurinya.

Ketiga, penyamaran sebagai CEO, atau petinggi perusahaan lain. Karena, dengan pengintaian dalam jaringan (daring) atas data publik memungkinkan pelaku kejahatan menyamar sebagai CEO, atau direktur keuangan. Kemudian, pelaku dapat meminta perubahan detail pembayaran pada faktur dan mengalihkan pembayarannya ke akun mereka sendiri.

Keempat, bentuk kejahatan siber yang relatif baru tetapi semakin banyak terjadi adalah penambangan mata uang elektronik (bitcoin). Penyerang memasang perangkat lunak pada sistem teknologi informasi (TI) pada perusahaan sasaran dan membajak prosesor untuk menghasilkan mata uang elektronik (kripto).

Terakhir, kejahatan pencurian intelectual property (IP). Hal ini biasanya terjadi dengan modus spionase industri. Ancaman yang dinilai nyata dengan perusahaan ambisius yang menargetkan sistem perusahaan saingan untuk mencuri IP.

Rugikan

Grant Thornton juga telah mempublikasikan laporan Cyber Security: The Board Report 2019 untuk mengidentifikasi apa saja ancaman siber terkini dan bagaimana peran penting petinggi perusahaan dalam memerangi risiko ancaman siber yang mengancam.

Statistik mencatat bahwa duapertiga dari bisnis perusahaan menengah/besar mengalami setidaknya satu penyusupan, atau serangan siber dalam 12 bulan terakhir. Sebanyak 73% dari 500 perusahaan yang disurvei juga melaporkan kerugian hingga 25% dari pendapatan akibat serangan siber.

Kajian Grant Thornton tersebut pun mengungkapkan bahwa satu dari tiga perusahaan menengah memiliki petinggi perusahaan yang bertanggung jawab khusus dalam mengkaji risiko dan manajemen siber. Sementara itu, sekitar enam dari sepuluh perusahaan tidak memiliki rencana, bagaimana merespons terhadap insiden siber.

"Perkembangan teknologi yang sangat cepat mendorong pentingnya para pemimpin perusahaan untuk mengetahui kemungkinan ancaman siber serta menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapinya. Para petinggi perusahaan juga harus memastikan pengetahuan mengenai ancaman siber serta kerahasiaan data dimiliki oleh seluruh pegawai," pungkas Johanna.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA