Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi kejahatan  siber. (Sumber: blog.rackspace.com)

Ilustrasi kejahatan siber. (Sumber: blog.rackspace.com)

Perusahaan RI Jadi Target Utama Ransomware

Kamis, 3 September 2020 | 07:36 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kaspersky, perusahaan sekuriti siber global, menerbitkan laporan terkait serangan aplikasi jahat pemblokir perangkat dan memeras korbannya (ransomware) di Indonesia dan Asia Tenggara. Survei tersebut menyebutkan bahwa segmen perusahaan (enterprise) di Indonesia menjadi target utama serangan ransomware.

Survei menyebutkan, selama semester I-2020, Kaspersky telah meemblokir upaya serangan ransomware sebanyak 298.892 di Indonesia dan 831.105 upaya serangan serupa di kawasan Asia Tenggara.

Territory Channel Manager Kaspersky Indonesia Dony Koesmandarin mengtatakan, meskipun deteksi ransomware di Indonesia 69% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2019, hampir setengah (49%) dari upaya yang terdeteksi dari Januari hingga Juni 2020 menargetkan segmen enterprise.

"Kemudian, serangan diikuti menyasar pada target konsumen (39,94%) dan UKM (2,13%),” ucap Dony, melalui konrefensi virtual, Rabu (2/9).

Menurut dia, tiga tahun setelah insiden Wannacry yang menyerang secara global, termasuk Indonesia, atau pada 2017, serangan ransomware jenis ini hingga sekarang masih menjadi perhatian komunitas teknologi informasi dunia.

“Karena ransomware salah satu sorotan utama dari ancaman dunia maya di Asia Tenggara, perusahaan dan organisasi perlu meningkatkan keamanannya untuk menghindari jatuhnya korban yang merugikan,” ujarnya.

Dony mengungkapkan, terdapat lima besar ransomware yang terdeteksi di Indonesia selama paruh pertama 2020, yakni Trojan-Ransom.Win32.Wanna, Trojan-Ransom.Win32.Stop, Trojan-Ransom.Win32.Cryakl, Trojan-Ransom.Win32.GandCrypt, serta Trojan-Ransom.Win32.Gen.

“Serangan Wannacry pertama dihadapi Indonesia beberapa tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis dalam segala bentuk dan ukuran harus mempertimbangkan untuk meningkatkan protokol dan infrastruktur keamanan sibernya agar tidak menjadi korban,” tambah Dony.

Dia melanjutkan, laporan Kaspersky juga menunjukkan, meskipun lebih sedikit ransomware yang diblokir di Indonesia pada semester pertama tahun ini, perlu dicatat bahwa banyak perusahaan yang menjadi target utama.

Bahkan, penerapan kerja dari rumah (work from home/WFH) yang diberlakukan banyak perusahaan saat ini memperluas permukaan serangan dan meningkatkan celah yang dapat dieksploitasi oleh penjahat dunia maya.

Karena itu, sekarang menjadi waktu terbaik bagi perusahaan dan organisasi untuk mengevaluasi kesiapan dalam menghindari dan menghadapi potensi serangan ransomware yang masih berbahaya.

"Kebiasaan dasar seperti mencadangkan data, menggunakan perangkat lunak yang sah, dan menerapkan solusi keamanan yang kuat menjadi langkah sederhana, namun dapat sangat membantu,” jelas Dony.

Dia menyebutkan, ransomware telah menjadi tantangan besar bagi banyak perusahaan dan organisasi di dunia, termasuk Indonesia. Itu walaupun taktik yang digunakan masih sangat kuno, antara lain melalui e-mail phishing, website yang terinfeksi program berbahaya, atau software yang tidak diperbarui.

Pada 2019 saja, perusahaan dan organisasi dipoyeksikan telah kehilangan rata-rata US$ 1,46 juta karena insiden ransomware. Uang ini harus dikeluarkan dan hilang untuk biaya downtime, pembayaran denda, dan dampak negatif dari kerusakan reputasi.

Tips Atasi

Sementara itu, Kaspersky memberikan beberapa yang bisa dilakukan pemilik bisnis di Indonesia demi menghindari ancaman ransomware. Salah satunya, biasakan membuat cadangan informasi penting secara teratur. Karena itu, simpanlah banyak salinan di tempat yang berbeda, misalnya di drive fisik yang terisolasi dan salinan di komputasi awan (cloud).

Kemudian, perbarui sistem operasi di seluruh komputer pada jaringan ke versi terbaru secara teratur dengan tujuan memperbaiki kerentanan keamanan terbaru. Edukasi karyawan untuk mengikuti aturan keamanan siber sederhana agar dapat membantu perusahaan menghindari insiden ransomware.

Pebisnis pun dapat meningkatkan solusi keamanan pihak ketiga yang mereka inginkan, antara lain dengan mengadopsi Kaspersky Anti-Ramsomware Tool secara gratis. Selanjutnya, libatkan para ahli yang paham keamanan siber. Terakhir, jangan pernah membayar uang tebusan karena tidak menjamin data yang hilang akan kembali.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN