Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hacker. Foto ilustrasi: IST

Hacker. Foto ilustrasi: IST

Ratusan Juta Data Pengguna e-Commerce Bocor, Indonesia Harus Serius Lindungi Data Pribadi

Investor Daily, Jumat, 15 Mei 2020 | 13:19 WIB

JAKARTA, investor.id - Belum lama publik digegerkan dengan ramainya kabar bahwa ada le ih dari 91 juta data pengguna Tokopedia yang dicuri. Kasus ini pertama kali dibeberkan oleh akun Under The Breach yang mengklaim sebagai penyedia layanan pemantauan dan pencegahan kebocoran data dari Israel.

Selang beberapa hari, situs jual beli online Bukalapak juga ditenggarai turut diretas. Mulai dari email, nama pengguna, password, salt, last login, email Facebook dengan hash, alamat pengguna, tanggal ulang tahun, hingga nomor telepon ini dijual oleh dua akun peretas di forum yang sebelumnya menjadi tempat penjualan 91 juta pengguna Tokopedia.

Pakar Digital, Anthony Leong mengatakan Indonesia harus lebih serius menangani perlindungan data pribadi.

CEO Menara Digital, Anthony Leong
CEO Menara Digital, Anthony Leong

"Indonesia menjadi negara sasaran serangan siber kedua terbesar di Asean saat ini setelah Vietnam karena transaksi di online naik 450-500% karena situasi pandemi. Kebanyakan kita masih cenderung cuek dengan potensi kejahatan yang diakibatkan dari kebocoran data pribadi seperti nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, hingga alamat. Salah satu bahayanya adalah penipuan berbasis rekayasa sosial seperti dengan mengatasnamakan orang terdekat dengan informasi yang cukup detail. Manipulasi psikologis pengguna mereka maksimalkan," ujar Anthony Leong dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (15/5).

Menurut pengamatan Anthony sekelompok peretas dengan nama ShinyHunters mengklaim memiliki data pengguna dari 10 perusahaan digital. Total data pengguna yang dihimpun mencapai 73,2 juta, di mana 1,2 juta di antaranya disebut merupakan data pengguna dari Bhinneka.com. Kelompok tersebut merupakan pelaku yang sama di balik peretasan data pengguna Tokopedia beberapa waktu lalu.

"Pada saat semua Work From Home dan intensitas penggunaan internet makin masif, maka perihal cyber security ini semakin rentan. Situasi kebocoran data Indonesia merupakan hal yang seharusnya ditanggapi dengan lebih serius oleh semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah. Berbeda dengan yang terjadi di luar negeri, kesadaran digital sudah cukup tinggi sehingga publik biasanya akan langsung menuntut. Mungkin harus ada sanksi dulu, yang bersangkutan di-suspend sementara agar memperbaiki sistem mereka terlebih dahulu. Ini data yang sangat besar jangan sampai kita anggap remeh," tambahnya.

Pengusaha muda yang menjabat sebagai Ketua Hubungan Media Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) ini melanjutkan bahwa walaupun belum ada kabar mengenai data pembayaran seperti rekening bank dan kartu kredit yang bocor, Ia menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk segera mengganti password dan melakukan pergantian setiap 3 bulan sekali.

"Kejadian ini dapat diambil sebagai pelajaran bagi Tokopedia dan Bukalapak, dan situs jual beli online dan e-commerce lainnya untuk lebih serius dalam menjaga data penggunanya. Masyarakat juga harus lebih peduli dan hati-hati terhadap dampak pencurian data pribadi seperti penipuan. Sebaiknya tidak menggunakan satu password untuk semua akun digital yang dimiliki. Karena situasi paceklik ekonomi imbas wabah Covid-19 membuat kriminalitas bertambah," kata Anthony

Ia mengatakan kasus-kasus penipuan dengan teknik rekayasa sosial dengan memanipulasi psikologis, dari masa ke masa caranya pun berubah

"Periode 2013 hingga 2017, modus penipuan berbasis rekayasa sosial rata-rata menggunakan topik undian berhadiah, advance-fee scam, peretasan e-mail perusahaan, pemalsuan website, phising, dan ‘mama minta pulsa’. Kalau 2018 berbeda lagi," katanya

Pada 2018, topik manipulasi psikologis mulai berkembang dengan meminta akses kode OTP untuk transaksi finansial para korban, dan meminta kode verifikasi penyedia jasa telekomunikasi melalui sms atau telepon.

Sedangkan pada 2019, strateginya pun mulai berkembang dengan menghubungi pengguna pemilik dompet elektronik untuk mendapatkan OTP dengan kedok mendapatkan hadiah, atau modus penipuan dengan meminta kode verifikasi aplikasi olah pesan, hingga call forwarding. (gr)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN