Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perusahaan-perusahaan yang berada di Silicon Valley, AS.  Foto ilustrasi: dabrownstein.com

Perusahaan-perusahaan yang berada di Silicon Valley, AS. Foto ilustrasi: dabrownstein.com

Situasi Pandemi, Indonesia Bisa Wujudkan Desa Berkonsep Silicon Village

Rabu, 10 Maret 2021 | 11:56 WIB
Natasia Christy Wahyuni

JAKARTA, investor.id  – Desa-desa di Indonesia dinilai bisa mengadaptasi konsep Silicon Villages, yaitu meniru Silicon Valley yaitu kawasan di bagian selatan wilayah Teluk San Francisco di California Utara, Amerika Serikat, sebagai pusat global untuk teknologi tinggi dan inovasi.

Hal itu disampaikan oleh politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sekaligus Komisaris Independen PT Perkebunan Nusantara V (PTPN V) Budiman Sudjatmiko lewat siaran pers yang diterima Beritasatu,com, Rabu (10/3/2021). Budiman adalah inisiator dan penyusun UU Desa.

Budiman berharap tak lama lagi akan bermunculan desa di Indonesia dengan konsep “silicon villages” alias desa berbasis teknologi dan inovasi revolusi industri 4.0. Menurutnya, gagasan tersebut harus segera diwujudkan apalagi dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini yang menuntut orang lebih banyak bekerja dari rumah (work from home).

Budiman mengakui kenyataannya kesenjangan digital masih menjadi persoalan besar. Pelosok desa apalagi di luar Pulau Jawa banyak yang belum bisa menikmati akses internet secara baik. Itu sebabnya, dia mendorong pemerintah daerah agar membangun infrastruktur digital tanpa harus tergantung pada dana pusat atau perusahaan telekomunikasi, khususnya untuk akses internet di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar Indonesia (3T).

“Salah satunya bisa dari badan usaha milik desa (BUMDes). BUMDes bisa jadi penyedia jasa Internet Service Provider (ISP) sendiri. Mereka bisa kerja sama dengan perusahaan penyedia jaringan internet swasta dan bagi hasil,” kata Budiman yang terus aktif mengunjungi desa-desa untuk mendorong kemajuan pada bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

Budiman mengatakan pihaknya saat ini sedang menggagas pembangunan Silicon Valley Indonesia di Jawa Barat, tepatnya di daerah Sukabumi. Nantinya di daerah tersebut akan ada banyak kegiatan penelitian dan pengembangan yang berorientasi pada teknologi revolusi industri, termasuk bioteknologi, semikonduktor, komputer kuantum dan teknologi penyimpanan energi.

“Bayangkan perusahaan teknologi di Sukabumi, tapi yang memiliki orang-orang desa,” tuturnya.

Budiman juga mendirikan Gerakan Inovator 4.0 yang dinilainya menjadi solusi konkret untuk meningkatkan kesejahteraan desa sekaligus menjawab tantangan zaman. Di sisi lain, dia menilai program Silicon Villages juga akan mengoptimalkan penggunaan dana desa.

“Dana desa tidak hanya dipakai untuk sekadar mengaspal jalan atau membuat gapura, misalnya, melainkan juga untuk hal-hal yang dampaknya lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat, utamanya peningkatan ekonomi desa melalui UMKM dan koperasi,” lanjut Budiman.

Investasi SDM Teknologi

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Budiman Sudjatmiko
Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Budiman Sudjatmiko

Budiman mencontohkan dana desa sebesar Rp 1 miliar sampai 2 miliar per tahun bisa dimanfaatkan untuk investasi sumber daya manusia (SDM) di desa.

“Dipakai untuk investasi di dalam perusahaan teknologi dan menjadikan BUMDes sebagai perusahaan teknologi bukan mustahil, itu harus dilakukan. Dan tidak ada pilihan lain, harus ke sana melakukannya,” kata Budiman.

Menurutnya, dari 74.954 jumlah desa yang ada di Indonesia, jika 10% saja berhasil mengadopsi konsep silicon villages dan sukses, tentu dampaknya sangat terasa bagi Indonesia.

Budiman mengatakan kaum muda mempunyai potensi besar untuk mengantarkan negerinya menjadi pemenang dalam kompetensi global era industri 4.0, namun harus memenuhi tiga syarat salah satunya adalah kekuatan imajinasi.

“Mesin bisa akurat, tepat dan cerdas. Tapi untuk sementara saya belum melihat mesin bisa berimajinasi,” kata Budiman yang dalam survei Citra Opini Polling Study (COPS) menempati posisi keempat sebagai pemimpin muda 2024.

Syarat kedua, ujar Budiman, adalah mentransfer imajinasi dalam ilmu pengetahuan, termasuk ke dalam algoritma dan aplikasi digital sehingga bisa mengimajinasikan solusi atas persoalan-persoalan potensial muncul di masa depan. Ketiga, berkolaborasi membuat jejaring sosial, gotong royong, dan solidaritas.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN