Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para pembicara dan moderator di webinar WBAW Indonesia 2021. (IST)

Para pembicara dan moderator di webinar WBAW Indonesia 2021. (IST)

UMKM Butuh Akses Pembiayaan dan Transformasi Digital

Kamis, 21 Oktober 2021 | 21:23 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah Indonesia memandang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mempunyai peran penting dan strategis dalam pembangunan ekonomi nasional. Namun, mereka juga membutuhkan akses terhadap sumber pembiayaan untuk berkembang dan mendukung transformasi digitalnya.

Selain berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, UMKM telah berperan penting dalam mendistribusikan hasil-hasil pembangunan kepada masyarakat.

Hal itu dikemukakan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga S Uno, dalam webinar World Business Angel Investors Week (WBAW) pertama di Indonesia dengan tema besar Diplomasi Bisnis untuk Kewirausahaan Internasional (Business Diplomacy for International Entrepreneurship) pada Kamis, 21 Oktober 2021.

Sandiaga yang berhalangan hadir langsung dalam acara tersebut, pidato utamanya dibacakan oleh Fadjar Utomo selaku deputi industri dan investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Sandi, panggilan akrabnya, menjelaskan bahwa UMKM merupakan pilar terpenting dalam perekonomian Indonesia. Karena berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM yang saat ini mencapai 64,2 juta telah memberikan kontribusi 61,07% terhadap PDB, atau senilai Rp 8.573,89 triliun.

Di lain pihak, Indonesia juga memiliki potensi ekonomi digital yang sangat besar. Untuk itu, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan untuk mempercepat upaya untuk mendorong para pelaku UMKM untuk masuk ke ekosistem digital.

Kemenparekraf memproyeksikan kontribusi UMKM, terutama yang telah terdigitalisasi, akan meningkat pesat di masa depan. Pada 2024, pemerintah menargetkan 30 juta pelaku UMKM dapat masuk ke dalam ekosistem digital.

Berdasarkan data dari Asosiasi E-commerce Indonesia (iDEA) per Mei 2021, jumlah pelaku UMKM yang sudah on-boarding baru sebanyak 13,7 juta pelaku, atau sekitar 21% dari total UMKM yang ada di Indonesia.

“Kebijakan pemerintah dalam merespon transformasi ekonomi global di era digital, salah satunya yaitu melakukan digitalisasi UMKM untuk mempermudah UMKM memasuki rantai pasok global,” imbuhnya.

Program digitalisasi UMKM bertujuan mendorong para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif dalam melakukan kegiatan perniagaan, mulai dari promosi, distribusi, hingga transaksi produk.

Saat ini, permodalan masih menjadi salah satu kendala besar bagi para pelaku usaha di Indonesia. Sebagian besar, atau 92,37% pelaku ekonomi kreatif hanya mengandalkan modal sendiri, atau pinjaman dari keluarga untuk menopang usahanya. Sementara itu, baru sekitar 24,44% yang memperoleh pembiayaan dari perbankan dan 0,66% dari lembaga keuangan nonperbankan.

“Untuk itu, kami melakukan beberapa intermediasi agar para UMKM mampu memperoleh pembiayaan tidak hanya dari lembaga perbankan tetapi juga dari lembaga non-perbankan seperti angel investor dan finansial teknologi,” tambah Sandi.

Supaya para UMKM dapat berkembang dan bertahan menghadapi transformasi digital, pemerintah memandang bahwa mereka membutuhkan, antara lain akses terhadap sumber pembiayaan, kemampuan pengelolaan keuangan, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara optimal.

Peran Tekfin

Dalam diskusi panel bertajuk Inovasi Finansial untuk Meningkatkan Ekonomi Indonesia, Aldi Adrian Hartanto, partner di Arise dan vice president of investment MDI Ventures menjelaskan bahwa perusahaan teknologi finansial (tekfin) sudah dan terus menjadi pendukung dalam membawa para UMKM ke level berikutnya.

“Saya pikir, dalam beberapa tahun terakhir, tekfin telah banyak membantu mereka yang underbanked dan mendemokrasikan banyak hal. Ada beberapa pendorong, atau katalis yang memungkinkan itu. Digitalisasi seluruh layanan finansial membawa segalanya menjadi lebih mudah, dalam hal pembayaran, pendanaan, dan penyaluran kredi,” tutur dia.

Selama ini, kata Aldi, yang lebih banyak dipahami adalah Indonesia masih memiliki banyak populasi yang belum terjamah oleh bank. Mereka yang tidak memiliki akses ke perbankan atau lembaga keuangan lainnya. Sebagian lagi mereka yang sudah bankable.

“Tapi yang kemudian kita sadari dalam tiga lima tahun terakir adalah ada kategori ketiga yang banyak bermunculan. Kalau sebelumnya yang bankable dan unbankable, kategori ketiga ini adalah mereka yang memiliki akses ke layanan perbankan, atau jasa keuangan, tapi belum dapat memaksimalkan layanannya, atau underbanked, dan mereka ini lah yang digarap oleh tekfin,” kata Aldi.

Perusahaan-perusahaan tekfin pun menyederhanakan proses dan lebih cepat sehingga dapat lebih efisien. Hal ini terutama dapat diterima oleh generasi muda yang disebut milenial.

Bisnis Tahap Awal

Dalam diskusi panel yang sama, Arif Patrick Rachmat, direktur Triputra Group dan chairman Endeavor Indonesia, memberikan pencerahan bagaimana memandang dilema antara pertumbuhan dan keuntungan di tahap awal bisnis.

“Hal fundamental yang harus dimiliki untuk menjalankan bisnis adalah arus kas. Mau memilih value versus growth, semuanya tentang arus kas,” kata Arif.

Dari kacamata invsetor, tutur dia, akan menghasilkan uang bilamana perusahaan yang didanainya memberikan imbal hasil bottom line cash flow yang lebih besar dari modal.

Arif mencontohkan bahwa investor legendaris Warren Buffett sangat memahami hal itu. Di masa awal, ia memakai pendekatan puntung rokok.

“Jika kita menemukan puntung rokok, lalu, orang akan mengisapnya sampai isapan terakhir, karena ini gratis. Ia mendapatkan untung dengan melakukan itu. Dengan membeli saham pada harga sangat rendah dari perusahaan medioker,” katanya.

Tapi, pada akhirnya, Warren Buffett menemukan filosofi investasi bahwa jika kita investasi di perusahaan besar pada harga yang wajar, akan memberikan untung lebih besar daripada investasi di perusahaan medioker pada valuasi yang murah.

Ia juga menjelaskan bahwa ada prinsip untuk membangun bisnis yang sehat dan ini harus dimiliki setiap perusahaan. Yang utama adalah model bisnis. Setiap pebisnis seyogyanya memiliki preposisi unik yang dapat ditawarkan kepada konsumen dan tidak dapat ditiru oleh kompetitor yang lain.

“Jadi, pada tahap awal, bisnis apakah fokus pada pertumbuhan, atau profitabilitas, saran terbaik saya adalah fokus pada pengalaman terbaik pengguna dan galang dana cukup besar dari investor yang solid dan memiliki kualifikasi tinggi,” ujar dia.

Tapi Arif juga mengingatkan untuk berhati-hati dengan siklus. Walaupun sekarang masih dalam era dana murah, namun ita tidak pernah tahu kapan jendela itu akan menutup.

“The Fed sebentar lagi akan pengetatan. Jadi, pastikan bahwa kita setidaknya memiliki dana operasional untuk 18 bulan ke depan dan fund raising secepatnya. Karena, tidak semua perusahaan yang tumbuh itu setara,” pungkas Arif.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN