Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wisata Labuan Bajo. Investor Daily/Novy Lumanauw

Wisata Labuan Bajo. Investor Daily/Novy Lumanauw

Pariwisata Labuan Bajo, Merajut Harapan dari Timur

Minggu, 4 Oktober 2020 | 09:34 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) Shana Fatina optimistis industri pariwisata nasional, khususnya di Labuan Bajo bakal pulih dalam waktu tidak terlalu lama. Optimisme itu diungkapkan Shana seiring mulai menggeliatnya berbagai sektor pendukung industri pariwisata di daerah itu, seperti transportasi, hotel, dan restoran.

Berbagai atraksi seni budaya daerah yang sempat ‘istirahat’ total selama enam bulan terakhir sejak Maret 2020, kini kembali menggeliat. Bagai mentari terbit di ufuk timur, demikian juga harapan indah tentang bangkitnya pariwisata Labuan Bajo pun kembali dirajut secara bersama-sama. Aktivitas pembangunan makin terlihat menyambut tatanan normal baru industri pariwisata nasional.

“Saya punya keyakinan kuat bahwa industri pariwisata nasional akan segera pulih. Saat ini adalah masa-masa bagi kita untuk berpikir,” kata Shana menjawab Investor Daily di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada medio September 2020.

Menhub Budi Karya Sumadi melakukan kunjungan kerja ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (19/9). Paling Kiri Shana Fatina Dirut Otorita Labuan Bajo
Menhub Budi Karya Sumadi melakukan kunjungan kerja ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (19/9). Paling Kiri Shana Fatina Dirut Otorita Labuan Bajo

Optimisme serupa juga diungkapkan Ketua Lembaga Budaya Desa Adat Liang Ndara, Kristoforus Nison. Dia mengatakan, pada era adaptasi kebiasaan baru (new normal) masyarakat adat juga siap menjalankan berbagai aktivitas seni dan budaya.

“Kami sangat siap untuk bangkit lagi. Kami berharap segala sesuatu akan menjadi lebih baik. Hidup itu berputar, kita harus berefleksi dan memikirkan mengapa hal ini terjadi,” kata Kristoforus.

Dia mengaku penyebaran pandemic Covid-19 telah menghentikan aktivitas seni budaya masyarakat adat Liang Ndara. Pada 2019, dilakukan 161 kali pementasan.

Sedangkan pada April, Mei, dan Juni 2020, sama sekali tidak ada pementasan. Bahkan, pada Juli dan September 2020 masing-masing hanya sekali.

“Covid-19 yang menjadikan segala sesuatunya berhenti. Tapi, keyakinan budaya kami, kalau Covid dibuat oleh alam, kami bersama alam akan mampu mengatasinya,” kata Ketua Lembaga Budaya Desa Adat Liang Ndara, Kristoforus Nison.

Kristoforus mengaku, pandemic telah menghentikan pementasan seni budaya di Desa Adat Liang Ndara. Sejak Maret hingga September 2020, aktivitas seni budaya nyaris terhenti. “Saya yakin wabah Covid-19 akan dapat diatasi,” kata dia.

Menurut Kritoforus, harapan mulai tumbuh seiring adanya aktivitas komunitas seni budaya yang dipimpinnya untuk mengadakan pementasan di sebuah hotel, pada Oktober mendatang.

“Pementasan akan dilakukan di salah satu hotel. Kami akan memulai aktivitas di hotel. Kami menyajikan tarian tradisional, kami memuji Sang Pencipta dengan nada gembira,” katanya.

Magnet Baru

Wisata Labuan Bajo. Foto: Investor Daily/Novy Lumanauw
Wisata Labuan Bajo. Foto: Investor Daily/Novy Lumanauw

Setelah Maret 2020, pemerintah secara resmi mengumumkan adanya penyebaran wabah Covid-19 di Indonesia, industri pariwisata nasional tanpa terkecuali langsung terkulai lunglai. Bagai berada di lonely planet, industri pariwisata nasional yang menjadi salah satu sumber devisa negara tidak berdaya.

Aktivitas di sektor transportasi baik darat, laut, maupun udara langsung terhenti, hotel-hotel sepi pengunjung, dan restoran tidak lagi semarak.

Banyak pelaku pariwisata berhenti beraktivitas. Tidak sedikit pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang khusus menyuplai aneka produk untuk wisatawan terpaksa gulung tikar.

Di tengah kemelut yang dihadapi rangkaian pertanyaan pun bermunculan. Benarkah masih ada harapan untuk membangun kembali industri pariwisata nasional? Mungkinkah pengembangan industri pariwisata Labuan Bajo dapat terwujud? Pertanyaan ini terus menggema di tengah merebaknya wabah Covid-19 di Indonesia. Covid-19, wabah penyakit mematikan yang berasal dari Provinsi Wuhan, Tiongkok, tidak hanya menyerang Indonesia, tetapi juga 214 negara lainnya di berbagai belahan dunia.

Selain menghantam bidang kesehatan, Covid-19 juga telah melumpuhkan perekonomian global, termasuk Indonesia. Sendi-sendi ekonomi lumpuh total, banyak perusahaan yang tutup, UMKM berhenti beroperasi, dan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi tidak terelakkan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan (yearon- year) pada 2019 sebesar 5,02%, pada Kuartal II-2020 angka itu turun menjadi minus 5,32% akibat terjangan Covid-19.

Berbagai sektor ekonomi berhenti total, termasuk industri pariwisata. Merebaknya Covid-19 telah menciptakan angka pengangguran hingga 5 juta orang. Apakah setelah dilanda musibah, masih adakah harapan bagi industri pariwisata nasional untuk bangkit kembali? Apakah dampak negative yang ditimbulkan pandemi Covid-19 secepatnya akan dapat diatasi? Apalagi tidak sedikit rakyat Indonesia yang bergantung, baik secara langsung maupun tidak langsung di sektor pariwisata.

Sebelum Covid-19 menyebar di Tanah Air, sektor pariwisata tercatat sebagai sumber penghasil devisa nomor dua pada tahun 2019. Pariwisata mengungguli kelapa sawit yang menjadi komoditas primadona Indonesia. Laporan Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa sektor pariwisata berada di peringkat kedua setelah batu bara sebagai kontributor devisa tertinggi berdasarkan komoditas, dengan nilai US$ 18,4 miliar.

Sementara itu, batu bara menyumbangkan US$ 21,7 miliar dan di peringkat ketiga sektor minyak kelapa sawit sebesar US$ 14,7 miliar.

Harapan Kuat

Shana Fatina, direktur utama Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo dalam diskusi dalam Zooming with Primus - Membangkitkan Wisata Daerah Live di BeritaSatu TV, Kamis (17/9/2020). Sumber: BSTV
Shana Fatina, direktur utama Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo. Sumber: BSTV

Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) Shana Fatina meyakini industri pariwisata nasional, khususnya Labuan Bajo akan bangkit seiring langkah-langkah konkret yang ditempuh pemerintah.

“Saya yakin pariwisata Labuan Bajo akan bangkit. Wisata Labuan Bajo adalah pariwisata berkelas dunia, kami tidak hanya bekerja sama dengan pemerintah daerah, tapi juga melibatkan kalangan tokoh agama,” kata Shana di sela acara Familiarization Trip (Famtrip) wartawan di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Famtrip yang berlangsung selama tiga hari, 11 – 13 September 2020 memberikan kesempatan kepada wartawan untuk menyaksikan langsung proses pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Labuan Bajo.

Shana mengungkapkan bahwa harapan yang kuat terus tumbuh untuk membangkitkan dan memajukan pariwisata Labuan Bajo, yang kini terkulai dilanda Covid-19. Apalagi pembangunan pariwisata di Labuan Bajo mendapatkan dukungan pemerintah pusat. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengawasi langsung proses pembangunan pariwisata Labuan Bajo.

“Setelah kesulitan, pasti ada kemudahan. Kami terus mempersiapkan diri untuk menjadi tujuan wisata premium. Covid-19 juga dapat dikatakan memberikan waktu untuk mempersiapkan diri sehingga setiap elemen yang terlibat dapat bersatu hati,” katanya.

Sebagai salah satu destinasi wisata premium yang ditetapkan pemerintah, Shana meminta wartawan untuk menyaksikan pelaksanaan program Cleanliness, Health, Safety, and Environment (CHSE) sebagai tatanan adaptasi kebiasaan baru di destinasi wisata dengan melibatkan para pelaku pariwisata.

Program ini ber tujuan untuk mendapatkan kepercayaan diri dalam menciptakan rasa aman bagi wisatawan. Wartawan diajak untuk berdiskusi dengan jajaran manajemen Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores.

Selain itu, wartawan diajak untuk menyaksikan dan menikmati kekayaan budaya Kabupaten Manggarai Barat yang berlokasi di Desa Wisata Liang Ndara. Siapa pun yang pernah berkunjung ke Kabupaten Manggarai Barat, pasti mengenal nama Desa Liang Ndara di Kecamatan Mbeliling, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Labuan Bajo.

Di Desa Liang Ndara, wartawan disuguhkan pertunjukan budaya dan tarian tradisional “Caci,” yang menjadi daya tarik utama. Tarian Caci adalah atraksi adu ketangkasan yang dilakukan oleh dua orang laki-laki yang menggunakan cambuk dan perisai. Kedua laki-laki itu saling mencambuk dan menangkis secara bergantian.

Nama “Caci” yang digunakan sebagai nama tarian bermakna satu orang yang melawan satu orang lainnya. Asal kata “Caci” terdiri atas “Ca “ yang berarti satu dan “Ci” yang berarti lawan. Tarian “Caci” tidak hanya sekadar tarian perang-perangan biasa, melainkan perpaduan unik antara Lomes, Bokak, dan Lime. Lomes yaitu keindahan gerak tubuh dan pakaian yang digunakan oleh penari.

Bokak merupakan seni vokal, sedangkan Lime adalah ketangkasan mencambuk dan menangkis. Pada hari kedua, wartawan diajak berlayar menggunakan kapal Phinisi Cajoma menuju Pulau Padar, Long Beach, dan Loh Liang.

Harus diakui bahwa diperlukan langkah-langkah konkret untuk menyelamatkan industri pariwisata nasional, yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan banyak orang di berbagai daerah di Tanah Air.

Registrasi Online

Presiden Joko Widodo meninjau kemajuan pembangunan Terminal Multipurpose Labuhan Bajo NTT di Labuhan Bajo #bergerak laksana ombak. Foto: IST
Presiden Joko Widodo meninjau kemajuan pembangunan Terminal Multipurpose Labuhan Bajo NTT di Labuhan Bajo #bergerak laksana ombak. Foto: IST

Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLF) Shana Fatina mengatakan bahwa untuk berkunjung ke Taman Nasional Komodo (TNK), pihak pengelola menerapkan sistem registrasi secara online.

Kebijakan itu d itempuh untuk menjaga kelestarian Taman Nasional Komodo sekaligus dalam rangka menerapkan protokol keamanan dan keselamatan.

Sebagai wilayah konservasi nasional, melalui registrasi online wisatawan dapat beraktivitas secara aman dan nyaman.

“Registrasi online tentu saja akan memperkuat safety and security yang menjadi faktor terpenting dunia pariwisata, termasuk ekonomi kreatif pada era adaptasi kebiasaan baru,” kata Shana

Dia mengatakan, registrasi online memasuki wilayah konservasi dari Taman Nasional Komodo nantinya akan membentuk sistem digital pariwisata terintegrasi dalam satu big data.

“Saya yakin sistem digital pariwisata yang diterapkan saat ini akan menjadi rumah bagi pariwisata Flores dan Nusa Tenggara Timur secara keseluruhan. Selain untuk mendata identitas dan men-tracing riwayat perjalanan wistawan, sistem ini juga akan memperkuat penerapan tatanan normal baru di sektor pariwisata,” jelas Shana.

Penerapan registrasi online, lanjutnya, juga akan memudahkan pihak pengelola melakukan langkah-langkah konkret disaat terjadi keadaan darurat di lokasi.

“Kami sangat terbantu. Dulu, kalau terjadi kecelakaan kapal atau kecelakaan diving kami kesulitan mencari tahu siapa operatornya atau laporannya kemana. Nah, dengan sistem registrasi online ini yang dikombinasikan dengan konsep panic button dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, maka akan lebih mudah bagi setiap orang memberi sinyal saat kondisi darurat dan langsung terhubung ke instansi terkait,” kata Shana.

Sementara itu, Juru Bicara Balai Taman Nasional Komodo, Muhammad Iqbal Putera mengatakan, Taman Nasional Komodo sebagai destinasi ekowisata kelas dunia sangat erat kaitannya dengan carrying capacity, sebab ekowisata berbeda dengan mass tourism .

“Jumlah jumlah wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo harus diatur secara baik. Salah satu cara pengaturan adalah menerapkan sistem registrasi online, yang sangat erat kaitannya dengan situasi pandemi Covid-19. Pemantauan kesehatan dan pengawasan para wisatawan juga dilakukan berdasarkan data registrasi online. Jadi, tidak hanya bermanfaat bagi ekosistem, juga keselamatan petugas dan stakeholders terkait,” kata Iqbal.

Dia mengatakan, sistem registras online diterapkan di Taman Nasional Komodo sejak September 2019, terutama di dua lokasi yakni Batu Bolong dan Karang Makassar. Sistem ini selanjutnya akan diterapkan di tujuh titik wisata di Taman Nasional Komodo.

Sedangkan lokasi di Taman Nasional Komodo yang termasuk kategori zona hijau atau zona wisata adalah Loh Liang yang menerapkan aturan maksimal pengunjung 250 orang, Loh Buaya (150 orang), dan Pulau Padar (60 orang). Sementara itu, untuk lokasi perairan Karang Makassar diterapkan aturan sebanyak 32 kapal yang dapat bersandar, Batu Bolong (8 kapal), Siaba Besar, dan Pulau Mawan masing-masing 20 kapal per hari.

Destinasi Super Premium

Presiden Joko Widodo meninjau kemajuan pembangunan Terminal Multipurpose Labuhan Bajo NTT di Labuhan Bajo #bergerak laksana ombak. Foto: IST
Presiden Joko Widodo meninjau kemajuan pembangunan Terminal Multipurpose Labuhan Bajo NTT di Labuhan Bajo #bergerak laksana ombak. Foto: IST

Pada Januari 2020, Presiden Jokowi mencanangkan Labuan Bajo sebagai destinasi super premium dan meminta sejumlah perbaikan fasilitas di kawasan itu, mulai dari penambahan hotel baru, penataan lima zona, dan perbaikan infrastruktur di Bandara Komodo, Labuan Bajo.

Presiden Jokowi meminta untuk dipersiapkan Sumber Daya Masyarakat (SDM) lokal dan kesenian lokal agar semakin hidup, penyelesaian sengketa tan ah, registrasi kapal besar, pembersihan sampah di laut dan daratan, penyelenggaraan event berskala internasional untuk mendorong promosi serta kepastian keamanan bagi wisatawan yang berkunjung.

Sektor pariwisata diyakini akan bangkit setelah pandemi Covid-19 berakhir. Pemerintah menerapkan strategi dengan menarik wisatawan nusantara mengunjungi destinasi-destinasi yang ada di berbagai daerah. Rencana berikutnya adalah mengajak wisatawan manca negara.

Direktur Utama BOPLBF Shana Fatina mengatakan, pada era kehidupan normal baru, pengembangan wisata digencarkan dengan cara memaksimalkan budaya dan konten lokal otentik sebagai salah satu strategi. Badan Otoritas Pariwisata Labuan Bajo Flores, lanjutnya, bertekad untuk menghadirkan destinasi wisata premium.

Saat ini, ada lima zona yang harus ditata di Labuan Bajo. Selain Bukit Pramuka, juga akan dibenahi Kampung Air, pelabuhan peti kemas dan dermaga penumpang, kawasan Marina, dan di zona Kampung Ujung. “Lima zona ini akan menjadi ruang publik yang tidak terputus yang menghadirkan sebuah landscaping yang indah yang menjadi generator penggerak pembangunan kawasan serta pusat aktivitas masyarakat di Labuan Bajo,” kata Shana.

Upaya itu dilakukan di samping pengembangan destinasi serta sarana dan prasarana pendukung lainnya di Labuan Bajo.

Menurut Shana, Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores akan terus mendorong diselenggarakannya berbagai kegiatan kreatif, seperti seni pertunjukan, musik, tari, fesyen, dan kuliner, dengan melibatkan masyarakat setempat.

“Nantinya masyarakat dapat melakukan showcase dan berinteraksi dengan wisatawan. Pekerjaan rumah paling besar saat ini adalah mengaktifkan komunitas itu,” jelas Shana.

Dia melanjutkan, tugas penting selanjutnya adalah meyakinkan masyarakat bahwa konsep premium dalam pengembangan pariwisata di Labuan Bajo dan Flores adalah bagaimana menyuguhkan konten lokal yang otentik kepada wisatawan.

Presiden Joko Widodo meninjau kemajuan pembangunan Terminal Multipurpose Labuhan Bajo NTT di Labuhan Bajo #bergerak laksana ombak. Foto: IST
Presiden Joko Widodo meninjau kemajuan pembangunan Terminal Multipurpose Labuhan Bajo NTT di Labuhan Bajo #bergerak laksana ombak. Foto: IST

Belum lama ini BOPLBF juga gencar melatih dan mendampingi masyarakat agar apa yang mereka kerjakan selama ini dapat memberikan manfaat kesejahteraan dari sisi pariwisata. Meski merupakan destinasi wisata, sebanyak 66% masyarakat Labuan Bajo tidak bekerja di sektor pariwisata.

“Bagaimana mereka bisa mendapatkan manfaat dari pariwisata, bagaimana mereka menjadi petani yang baik, peternak yang baik dan makmur karena produk yang hasilkan bisa diserap sektor pariwisata,” kata Shana.

Dia mengatakan, salah satu critical success factor di wilayah koordinatif Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores adalah bagaimana mengembangkan produk-produk wisata yang harus dimulai dengan cara meningkatkan kemampuan sumber daya manusia agar nantinya mampu menyajikan pengalaman bagi wisatawan.

“Wisatawan harus merasakan kemewahan yang tidak mereka temukan di tempat lain,” ujar Shana.

Sementara itu, pembangunan sarana dan prasana pendukung pariwisata di Labuan Bajo juga terus dilakukan dengan dukungan dari berbagai Kementerian/ Lembaga (K/L).

Pemerintah optimistis pembangunan infrastruktur di KSPN Labuan Bajo selesai sebelum dihelatnya KTT G20 dan ASEAN Summit 2023
Pemerintah optimistis pembangunan infrastruktur di KSPN Labuan Bajo selesai sebelum dihelatnya KTT G20 dan ASEAN Summit 2023

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini aktif membangun jalan utama dengan lebar trotoar 2,5 meter yang dilengkapi pe pohonan dan tanaman, dan lansekap yang baik. Selain itu, juga dibangun ja lan yang akan menghubungkan Labuan Bajo menuju Manggarai dan Tanamori.

“Pembangunan Puncak Waringin prosesnya terus berjalan yang diharapkan menjadi view deck pertama di Labuan Bajo dengan pemandangan 360 derajat, terutama area pesisir,” jelas Shana.

Di sisi lain, Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores juga menggandeng Dinas Pariwisata Provinsi NTT, pengelola pelabuhan, Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), dan Kepolisian juga tengah mendesain safety and security system untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan.

Pada hari terakhir, wartawan diajak untuk melihat langsung progres pembangunan Puncak Waringin sebagai creative hub, sentra suvenir, dan pusat kegiatan perbelanjaan produk khas Labuan Bajo. Daerah itu merupakan wilayah yang diharapkan dapat menjadi pusat perekonomian masyarakat setempat.

“Puncak Waringin akan menjadi sebuah kawasan bergaya arsitektur nusantara yang tak hanya memberi daya tarik bagi wisatawan, tetapi juga menjadi media riset untuk produkproduk pariwisata yang dihasilkan,” kata Shana.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN