Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi mahasiswa mengerjakan tugas

Ilustrasi mahasiswa mengerjakan tugas

UPH Sukses Turunkan Kasus Plagiat

Rabu, 25 November 2020 | 23:31 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Universitas Pelita Harapan (UPH) sukses menurunkan tingkat kasus plagiat berkat menggunakan teknologi Turnitin. Teknologi ini memungkinkan mahasiswa yang mengerjakan tugas secara daring tak lagi melakukan plagiat sehingga tingkat kasus plagiat di UPH menurun dari 48% menjadi 5%.

“Saat awal-awal menerapkan kelas daring, materi yang dibagikan berupa audio dan tugas-tugas mahasiswa semuanya dinilai bagus. Dengan menggunaan alat bantu plagiarism checker yang bersifat gratis, saya menemukan bahwa ternyata 80% mahasiswa memberikan karya plagiat yang benar-benar disalin secara utuh dari sumber lain,” kata Stella Stefany, dosen Online Learning, Digital Communication and Inclusive Education, Universitas Pelita Harapan dalam acara Virtual Media Session yang diselenggarakan oleh Turnitin pada Rabu (25/11).

“Berangkat dari kasus tersebut, saya menilai bahwa tantangan awal dalam metode belajar jarak jauh adalah plagiarisme. Lalu saya pun meminta bagian edutech UPH untuk mencari solusi teknologi lain yang bisa mempermudah kami melakukan pengecekan terhadap karya plagiat seperti ini ke depannya,” ungkap Stella.

Pendidikan Jarak Jauh atau PJJ (distance learning) merupakan hal baru di Indonesia. Sebelum adanya pandemi Covid-19, pengajaran berbasis daring pernah dilakukan oleh Universitas Terbuka (UT). Namun dengan adanya wabah seperti saat ini mendorong peserta didik untuk belajar di rumah, metode ini pun mulai marak diaplikasikan. Baik tenaga pengajar maupun siswa belum siap dengan perubahan ini. Dan salah satu tantangan yang dihadapi adalah potensi plagiarisme yang dilakukan oleh peserta didik.

Menurut Stella, menggunakan tools yang bisa didapat dengan gratis di internet memiliki kendala dalam hal waktu. Ia harus mengecek setiap pekerjaan mahasiswanya satu per satu apakah terindikasi mengambil dari karya lain atau tidak.

“Kami lalu menggunakan solusi teknologi dari Turnitin, jadi kami sebagai pendidik bisa mengontrol seberapa besar tingkat plagiarisme yang teah dilakukan mahasiswa. Tentunya ini bukan untuk menghakimi mereka, misalnya bagi yang terdeteksi 70 persen plagiat mereka tidak diizinkan masuk kelas. Kami ingin membangun karakter integritas dari mahasiswa dan pengajar, tentang bagaimana membangun pendidikan berbasis daring tanpa mengurangi kualitas jika dilakukan secara luring,” lanjut Stella.

Stella menambahkan bahwa prasyarat kelulusan tidak saja pengetahuan (knowledge) tapi juga karakter. Dalam masa PJJ, penilaian karakter pun tetap bisa dilakukan melalui perangkat teknologi.

“Misalnya kita ada jadwal kelas virtual, dari sini bisa dilihat faktor kedisiplinan dari jam berapa mereka join-nya, apakah telat atau tidak. Lalu ketika dihimbau untuk menyalakan kamera, bisa dilihat juga berapa banyak yang melakukannya, dan berapa banyak yang pura-pura menghidupkan. Ini termasuk bahan evaluasi untuk kelas online dalam menilai karakter,” imbuhnya.

Sejak menggunakan teknologi Turnitin, Stella mengakui bahwa tingkat plagiarisme di kampusnya turun cukup signifikan.

“Di awal September 2018, saat masa percobaan, masih di tingkat 48%. Namun di akhir tahun lalu berkurang hingga di angka 5%. Maka tahun 2020 ini secara resmi solusi ini sudah digunakan oleh semua bagian di universitas, termasuk untuk tugas akhir.”

Senada dengan itu, Jack Brazel, Head of Business Partnerships Turnitin untuk Asia Tenggara, mengatakan bahwa perkembangan pengguna Turnitin di Indonesia cukup siginifikan, khususnya pemahaman mengenai integritas akademik. Salah satu indikatornya adalah semakin banyaknya universitas yang meminta tambahan lisensi, jika tadinya hanya digunakan oleh satu fakultas, lalu kemudian digunakan hampir oleh semua fakultas. Jika sebelumnya hanya satu bidang yang menggunakan, lalu melebar ke hampir semua bidang.

“Publik mengenal Turnitin sebagai plagiarism chekcer, padahal dasar kami adalah integritas akademik. Ini yang menjadi misi kami sejak awal. Tidak menghakimi siswa dengan mengatakan bahwa mereka sudah melakukan plagiat, tapi lebih kepada mengedukasi tentang integritas. Kami mendidik mereka untuk memiliki critical thinking,” ujarnya.

Menurut Brazel, kunci sukses sebuah institusi pendidikan adalah membangun integritas, mengajarkan kepada peserta didik bagaimana mengutip sumber dengan benar dan melakukan ulasan literatur.

“Cara terbaik adalah mendidik siswa untuk menghindari plagarisme, bagaimana mendorong siswa untuk memproduksi pemikiran yang orisinal. Teknologi memungkinkan untuk melakukan hal tersebut, namun tantangan tersebar adalah mengubah budaya belajar.”

Turnitin masuk ke Indonesia sejak 2013 dan sampai saat ini ada 300 institusi yang menggunakan perangkat teknologi tersebut. Turnitin pun secara konsisten melakukan webinar untuk mengedukasi, dan mulai serius untuk menggarap secondary educations.

Editor : Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com