Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
JPKL dengan BPOM melakukan pertemuan diskusi terkait bahaya kemasan plastik makanan maupun minuman yang mengadung BPA bagi bayi, balita, dan janin

JPKL dengan BPOM melakukan pertemuan diskusi terkait bahaya kemasan plastik makanan maupun minuman yang mengadung BPA bagi bayi, balita, dan janin

DISKUSI BAHAYA BPA

JPKL-BPOM: Tidak Ada Toleransi Kemasan Mengandung BPA bagi Bayi, Balita, dan Janin

Kamis, 4 Februari 2021 | 19:01 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id - Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengundang Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL) terkait bahaya dan risiko kemasan makanan maupun minuman yang mengandung Bisphenol A (BPA). Pertemuan tersebut sebagai klarifikasi surat yang dilayangkan JPKL pada awal bulan lalu.

Ketua Perkumpulan JPKL Roso Daras mengatakan, JPKL telah diundang BPOM yang diwakili Direktur Pengawasan Produksi Pangan Olahan BPOM Cendekia Sri Murwani. Pertemuan ini sebagai langkah klarifikasi atas surat yang pernah dilayangkan JPKL kepada BPOM tentang usulan pencantuman peringatan pada kemasan plastik mengandung BPA untuk kemasan makanan maupun minuman.

"Kami mengucapkan terima kasih atas sambutan baik BPOM yang bersedia mendengarkan usulan JPKL. Dalam pertemuan itu, kami mengusulkan perlunya pencantuman bahaya bahaya BPA pada kemasan plastik makanan maupun minuman bayi, balita, dan janin pada ibu hamil. Pencantuman tersebut dinilai sudah mendesak, apalagi di saat kondisi Indonesia masih dilanda pandemi Covid-19,” ujarnya melalui siaran pers diterima Investor Daily di Jakarta, Kamis (4/2).

Roso menambahkan, dasar perlunya pemberian label bahaya kemasan plastik makanan maupun minuman merujuk hasil penelitian dan kebijakan negara-negara maju yang sudah melarang penggunaan plastik BPA. “JPKL mempunyai perhatian sama dalam hal pengawasan terhadap peredaran makanan dan minumam, khususnya kemasannya,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Jendral JPKL yang akrab dipanggil Mas Yus mengatakan bahwa yang terpenting ada kesepahaman bahwa BPA adalah racun. Sedangkan bagi kesehatan bayi, balita, dan janin ibu hamil, kemasan makanan maupun minuman yang mengandung BPA tidak bisa toleransi atau harus benar-benar bebas dari paparan BPA.

"Apabila BPOM bersedia mengatur pemberian label yang mengandung BPA pada kemasan galon isi ulang supaya tidak dikonsumsi bayi, balita, dan janin pada ibu hamil, setidaknya telah menyelamatkan bayi, balita dan janin pada ibu hamil di Indonesia," papar Mas Yus.

Dalam pertemuan tersebut, Cendekia meminta JPKL menunjukkan hasil kajian ilmiah tentang bahaya BPA, sehingga BPOM bisa menerbitkan Perka BPOM untuk mencantumkan peringatan konsumen plastik mengandung BPA.

Dalam pertemuan itu, BPOM juga menghadirkan ahli yang menjelaskan bahwa paparan BPA dalam jumlah tertentu masih tidak berbahaya. Namun, Ketua JPKL menilai hal tersebut tidak berlaku bagi bayi, balita, dan janin pada ibu hamil yang tidak mentolerir adanya kandungan BPA. "Jangan main-main kalau untuk bayi, balita dan janin pada ibu hamil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahaya mengintai dari risiko kanker, autis dan berat badan yang kurang," terang Roso.

Dalam pertemuan itu Mas Yus, menjelaskan bahwa usulan pencantuman peringatan bahwa plastik BPA tidak baik untuk bayi, balita dan janin pada ibu hamil tentu mempunyai dasar ilmiah maupun landasan peraturan pemerintah yang berlaku.

"Untuk meneliti tentu bukan kewenangan wartawan. Dari berita dan jurnal internasional sudah jelas menerangkan BPA berbahaya, kami membawa lampiran bahwa BPA berbahaya dari berbagai negara di dunia. Dan sebelum itu, JPKL telah merujuk kepada hasil penelitian dari negara - negara lain yang dengan itu memutuskan melarang penggunaan plastik BPA," ungkap Mas Yus.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN