Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produsen makan dan minuman diminta menginformasikan kandungan BPA pada kemasannya.

Produsen makan dan minuman diminta menginformasikan kandungan BPA pada kemasannya.

Bagaimana BPA Berbahaya Bermigrasi Dari Kemasan Plastik ke Air?

Selasa, 16 Februari 2021 | 16:21 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id - Wadah polikarbonat dengan kode plastik No 7 yang mengandung BPA (bisphenol A) yang biasa ditemukan pada botol minum bayi, gelas isap balita, peralatan makanan, dan wadah minuman maupun makanan, selalu dikategorikan aman. Namun tidak pernah dijelaskan bagaimana kandungan BPA ini bermigrasi dari kemasan plastik polikarbonat ke air yang disimpannya?

Berdasarkan Danish Ministry of the Environment dalam tulisan Environment project no 1710 tahun 2015 tentang Migration of Bisphenol A from Polycarbonate Plastic of Different Qualities bahwa kandungan BPA akan terkontaminasi terhadap makanan maupun minuman dalam suhut tertentu dan jangka waktu tertentu. Pada suhu rendah (misalnya 0 - 70C) pelepasan BPA lambat dan dikendalikan oleh difusivitas dalam jumlah besar dan polimer padat. Meski pelepasan BPA melambat, hal ini tetap saja berbahaya terhadap manakan maupun.

Sementara jurnal ilmiah hasil penelitian bersama Bayu Nugroho (Politeknik Ilmu Pelayaran Balikpapan), Yudhiakto Pramudya (Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta), dan Widodo (Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta) yang berjudul The Content Analysis of Bisphenol A (BPA) on Water in Plastic Glass with Varying Temperatures and Contact Times Using UV - VIS Spectrophotometer menyimpulkan bahwa makin lama waktu kontak dan suhunya makin tinggi, konsentrasi BPA akan lebih tinggi. Luruhnya BPA ini akibat suhu panas yang lama secara kontinyu tentu saja berbahaya dan dapat mencemari air di dalam kemasan plastik.

Ketua Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL) Roso Daras mengatakan, berdasarkan hasil penelitan tersebut bahwa wadah makanan maupun minuman yang mengandung BPA tetap bisa mencemari makan dan minuman, meski kode plastik No 7. “Saat baru ke luar dari pabrik kemudian diangkut dengan truk menuju ke gudang distributor kemudian dari distributor dikirim ke star outlet juga menggunakan truk. Dari star outlet dikirim ke toko - toko, semua menggunakan truk. Yang sangat mungkin terkena paparan matahari. Kemudian saat dipajang di toko - toko tak sedikit yang terkena matahari juga. Saat galon mengalami pencucian untuk kemudian digunakan lagi, galon disemport dengan air panas bersuhu sekitar 70 derajat Celcius. Nah pada kesempatan ini, galon mengalami pemanasan yang bukan tidak mungkin mengaktifkan zat BPA-nya yang berbahaya,” terangnya melalui penjelasan resmi di Jakarta, Selasa (16/2).

Dia mengatakan, BPA yang luruh ke air tentu saja sangat berbahaya bagi bayi, balita dan janin pada ibu hamil. Selama ini, botol susu bayi sudah diwajibkan terbebas dari BPA, karena bersentuhan langsung. Nah air yang digunakan untuk mencampur susu bubuk, misalnya harus juga terbebas dari bahan yang mengandung BPA. "Kalau botolnya sudah bebas BPA, tapi airnya dari galon yang belum bebas BPA tentu sangat berisiko," terangnya.

Permenperin sebenarnya mengatur tentang pemberlakuan SNI secara wajib untuk produk air minum dalam kemasan (AMDK) yang merevisi peraturan tahun 2016. Terdapat suatu acuan dalam pencucian kemasan galon yang pakai ulang dalam suatu Peraturan Menteri Perindustrian No. 26 tahun 2019. Pada halaman 31 ada metode pencucian kemasan pakai ulang dengan menggunakan detergen foodgrade dengan suhu 55-75C.

Sayangnya, ungkap dia, hingga kini belum ada peraturan pemerintah tentang penggunaan kemasan plastik berbahan polikarbonat dengan kode No.7 yang digunakan berulang kali secara mendetail, seperti bagaimana standar distribusinya, bagaimana standar kualitasnya dan standard bagaimana mencegah agar BPA yang berbahaya tidak terlepas dan bermigrasi larut dalam air.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN