Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Komnas Anak Indonesia menggelar bincang-bincang bertemakan Untuk Bayi, Balita, dan Janin Harus Bebas BPA tersebut digelar di Auditorium Komnas Perlindunang Anak di Jalan TB Simatupang No 33, Pasar Rebo Jakarta Timur. Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dan Anggota DPR RI dari Komisi IX fraksi PKB Arzeti Bilbina SE, M.A.P.

Komnas Anak Indonesia menggelar bincang-bincang bertemakan Untuk Bayi, Balita, dan Janin Harus Bebas BPA tersebut digelar di Auditorium Komnas Perlindunang Anak di Jalan TB Simatupang No 33, Pasar Rebo Jakarta Timur. Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dan Anggota DPR RI dari Komisi IX fraksi PKB Arzeti Bilbina SE, M.A.P.

Peringati Hari Anak Nasional: Anak Diminta Terlindungi dari Paparan BPA

Sabtu, 31 Juli 2021 | 17:20 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id - Komnas Perlindungan Anak Indonesia mengharapkan peran pemerintah dan orang tua untuk melindungi bayi, balita, dan janin dari paparan zat-zat berbahaya, seperti bisphenol A (BPA). Hal ini bertujuan untuk menciptakan generai muda Indonesia yang sehat dan tangguh ke depan.

Demikian rangkuman rangkaian kegiatan hari Anak Nasional tahun 2021 yang digelar Komnas Anak pada 29 Juli 2021. Kegiatan bertemakan Untuk Bayi, Balita, dan Janin Harus Bebas BPA tersebut digelar di Auditorium Komnas Perlindunang Anak di Jalan TB Simatupang No 33, Pasar Rebo Jakarta Timur. Kegiatan tersebut juga dihadiri Anggota DPR RI dari Komisi IX fraksi PKB Arzeti Bilbina SE, M.A.P.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan, salah satu cara menciptakan generasi yang sehat adalah membebaskan anak bayi, balita, dan janin dari bahaya BPA. Hal ini bisa dimulai dengan melarang penggunaan wadah makanan dan minuman berbahan baku plastik yang mengandung BPA.

Komnas Anak mengharapkan terciptanya generasi terbebas dari paparan zat-zat berbahaya dalam makanan dan minuman.
Komnas Anak mengharapkan terciptanya generasi terbebas dari paparan zat-zat berbahaya dalam makanan dan minuman.

Selain itu, dia berharap, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menerapkan labelisasi peringatan konsumen untuk galon guna ulang air maupun kemasan makanan yang berbahan baku plastik dengan angka No 7. Pemberian label tersebut bertujuan untuk membebaskan bayi, balita, dan janin dari mengonsumsi makanan maupun air yang berasal dari wadah yang mengandung BPA.

“Label peringatan konsumen ini perlu dicantumkan dalam kemasan galon guna ulang maupun wadah makanan lainnya untuk melindungi masa depan bayi, balita, dan janin yang dikandung oleh ibu hamil agar tidak terpapar zat yang berbahaya yang dapat mengakibatkan terganggunya hormonal perkembangan organ tubuh, perilaku, serta gangguan kanker,” ujarnya dalam sambutan Hari Anak Nasional 2021 di Jakarta, belum lama ini.

Arist Merdeka Sirait menambahkan, di beberapa negara, seperti Belgia (2012), Swedia (2012), Prancis (2012), Canada (2012), dan Denmark (2013), telah mengeluarkan regulasi yang melarang wadah makanan maupun minuman yang mengandung BPA. “FDA Filipina dan Jepang telah mengeluarkan larangan BPA untuk botol balita dan bayi. Namun sayangnya, di Indonesia pengaturan BPA belum diatur secara ketat. Oleh karena itu, ada baiknya kemasan galon isi ulang diberikan label BPA agar orang tua bisa menjaga bayi, balita dan janin yang dikandung ibu hamil dari paparan zat berbahaya,” terang Arist.

Ditegaskan Arist, negara Asia, termasuk Indonesia, memang telah melarang penggunaan kemasan polikarbonat yang mengandung BPA sebagai wadah makanan dan minuman bayi, balita, dan janin. Namun sayangnya air minum yang memanfaatkan wadah galon guna ulang belum juga terbebas dari BPA. Padahal, orang tua sering memanfaatkan air minum galon untuk melarutkan susu maupun makanan bayi.

“Sebagai regulator, Komnas Perlindungan Anak meminta BPOM untuk memberikan label peringatan pada galon isi ulang yang beredar di wilayah hukum Indonesia, terutama pada galon isi ulang dengan kode daur ulang 7,” terangnya.

Sementara itu, Arzeti Bilbina mengatakan, jika ingin menciptakan anak-anak yang baik tentu harus dimulai dari kesehatan. Di antaranya, memastikan anak terbebas dari konsumsi makanan maupun minuman yang terkontaminasi zat berbahaya, seperti BPA.

“Makanan atau minuman yang diberikan kepada bayi harus terbebas dari BPA. Kita harus memastikan barang yang digunakan sebagai wadah makanan dan minuman bayi maupun balita harus terbebas dari BPA. Hal tersebut merupakan aware orang tua terhadap anak,” terangnya.

Dengan demikian, Arzeti menambahkan, pihaknya berharap BPOM bersedia memberikan label peringatan konsumen pada kemasan plastik yang mengandung BPA. Informasi tersebut baik bagi konsumen untuk mengetahui produk yang akan dikonsumsi. “Pemerintah harus ikut campur tangan untuk menjaga masa depan anak-anak yang cerdas,” terangnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN