Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wisatawan domestik melakukan tes swab PCR untuk syarat penerbangan masuk dan keluar, di fasilitas kesehatan di wilayah Batu Belig, Bali, Senin (25/10/2021).   BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Wisatawan domestik melakukan tes swab PCR untuk syarat penerbangan masuk dan keluar, di fasilitas kesehatan di wilayah Batu Belig, Bali, Senin (25/10/2021). BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Ini Penyebab Harga Swab PCR Masih Mahal di Indonesia

Senin, 25 Oktober 2021 | 16:37 WIB
Fatima Bona

JAKARTA, investor.id - Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, harga swab tes Polymerase Chain Reaction (PCR) Covid-19 masih belum terjangkau karena ada beberapa bahan yang mengandalkan impor.

“Harga PCR yang terbilang masih belum terlalu terjangkau dihasilkan dari prosesnya yang rumit, serta beberapa bahan yang masih diimpor,” kata Wiku, Senin (25/10).

Kendati demikian, Wiku mengatakan, pemerintah sedang mencoba berusaha mengadvokasikan penurunan harga dan peningkatan durasi keluarnya hasil testing.

Sebelumnya, epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman mengatakan, apabila pemerintah tetap menerapkan aturan penumpang pesawat wajib swab tes Polymerase Chain Reaction (PCR), disarankan agar harga tes diturunkan serta memberikan subsidi swab PCR Covid-19.

“Opsi idealnya, harga turun di kisaran yang lebih terjangkau dan tidak berbeda jauh dengan harga rapid tes Antigen. Menurut saya, misalnya Rp 200.000 dan perlu subsidi,” kata Dicky.

Dicky juga menambahkan, lokasi atau laboratorium swab tes PCR harus diperbanyak dan kecepatan hasilnya juga dipertimbangkan. Selain itu, perlu dipastikan monitoring dari kualitas penyedia testing PCR terjaga, sehingga tidak menimbulkan potensi kerawanan lainnya seperti penyalahgunaan atau pemalsuan karena strategi riskan dan berisiko.

Adapun risikonya dari sisi efektivitas penerapannya karena harga swab tes PCR yang dinilai mahal dan tingkat keterjangkauan di setiap daerah serta kesiapan dari sisi sumber daya manusia (SDM).

“Sehingga, kalau itu tidak terpenuhi dari sisi kecepatan, waktu, dan harga, akan ada orang yang bisa memanfaatkan. Potensi penyalahgunaan pemalsuan bisa terjadi,” papar dia.

Untuk itu, Dicky menyarankan, dalam masa 1-2 minggu, aturan tersebut harus dievaluasi dan harus berbasis pendekatan risiko. Pasalnya, risiko penularan Covid-19 di moda transportasi udara paling kecil, di bawah 1% dibanding moda transportasi lainnya.

“Kecil sekali. Sehingga kalau risikonya kecil, jangan dikasih syarat ketat atau paling tinggi,” pungkas dia.

 

Editor : Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN