Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Warga menerima vaksinasi Covid-19 Pfizer di  Puskesmas Lebak Bulus, Jakarta Selatan.   Foto ilustrasi:  BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Warga menerima vaksinasi Covid-19 Pfizer di Puskesmas Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Vaksinasi dan Prokes 5 M Bisa Jinakkan Omicron

Minggu, 19 Desember 2021 | 10:05 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

Virus Covid-19 varian Omicron telah terdeteksi masuk ke Indonesia. Vaksinasi dan Prokes 5M diyakini dapat menjinakkan Omicron. Hal ini terbukti sejumlah kasus di dunia menunjukkan tidak menimbulkan keparahan bahkan tidak bergejala, meski varian hasil mutasi dari virus Alfa, Beta, Gamma, dan Delta ini tiga kali lebih cepat menular dari Delta.

Omicron telah menginfeksi seorang petugas kebersihan di Wisma Atlet. Namun pasien pertama Omicron yang terdeteksi tersebut tidak menunjukkan gejala dan kondisinya pun telah negatif dari Omicron.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, munculnya varian B.1.1.529 atau varian Omicron merupakan hasil kombinasi mutasi dari varian lainnya seperti Delta, Alpha, Beta, Gamma, AY.23 dan AY.4.

“Oleh karena itu, varian Omicron harus diantisipasi agar tidak terjadi peningkatan kasus seperti yang terjadi pada Juli 2021. Pasalnya, varian Omicron jauh lebih cepat menular dari varian sebelumnya,” kata Nadia.

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane dalam diskusi mengenai varian virus Omicron baru-baru ini menegaskan, varian Omicron tetap harus diwaspadai. Hal ini mengingat varian Omicron ditetapkan sebagai variant of concern (VOC) oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada akhir November 2021.

Sejumlah syarat varian virus ditetapkan sebagai VOC yaitu memiliki transmisi virus yang lebih cepat dan banyak dibandingkan varian sebelumnya, lebih ganas atau menyebabkan perburukan lebih dari varian sebelumnya, kebal terhadap vaksinasi yang sudah ada, mempengaruhi alat diagnostik yang sudah ada, dan mempengaruhi standar pengobatan yang sudah ada.

Masdalina menyebut bahwa penelitian mengungkapkan varian Omicron memiliki laju transmisi 10 hingga 40, artinya dari satu orang yang positif Covid-19 varian Omicron bisa menulari mulai dari 10 hingga 40 orang yang berada di sekitarnya.

Varian Omicron. Foto: Istimewa
Varian Omicron. Foto: Istimewa

Jumlah tersebut jauh lebih besar dari varian virus pertama yang berasal dari Wuhan yaitu laju transmisi 2 hingga 4, dan laju transmisi varian Delta yang mencapai 6 sampai 8. Saat ini, lanjut Masdalina, para ahli sedang mengonfirmasi mengenai kemungkinan adanya kasus kematian akibat Omicron.

“Memang saat ini didapatkan hasil bahwa belum ada yang meninggal karena Omicron. Tetapi itu akan dikonfirmasi, karena peningkatan kasus di Afrika juga meningkatkan jumlah kematian di sana,” kata dia.

Sejauh ini, penelitian juga masih mengonfirmasi apakah varian Omicron berdampak lebih buruk pada kelompok yang berisiko tinggi seperti lansia ataupun orang dengan komorbid. Hal itu dikarenakan hingga saat ini Omicron masih menginfeksi orang usia produktif. Namun, ada pula dugaan yang menyebutkan bahwa Omicron berpengaruh lebih buruk pada orang yang mengidap penyakit HIV.

“Seperti yang kemarin diduga penderita HIV, karena cukup besar prevalensi HIV di sana. Tapi semua ini masih under investigation, dan semua negara sudah melakukan berbagai persiapan untuk melakukan cegah tangkal supaya tidak masuk ke negaranya,” kata dia.

Vaksinasi dan Prokes 5M

Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) dr. Pandu Riono.
Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) dr. Pandu Riono.

Epidemiolog UI, Pandu Riono menegaskan, saat ini vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan (Prokes) 5M -- yakni memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas -- menjadi cara yang diyakini dapat mencegah infeksi virus varian Omiron dan menjinakkan virus ini bila terlanjur menginfeksi seseorang.

Pemerintah dan masyarakat Indonesia, tegas Pandu, tidak perlu panik berlebihan. Apalagi sudah hampir dua tahun masyarakat menghadapi situasi ini dan akhirnya bisa menemukan ritmenya dengan menjalankan protokol kesehatan seperti 5M.

“Jadi tak perlu khawatir pada varian Omicron ini. Kuncinya 5M dan vaksinasi. Orang yang divaksinasi tak akan berat gejalanya. Lihat saja pekerja Wisma Atlet yang terpapar itu kan tidak bergejala karena dia sudah divaksinasi lengkap pastinya,” kata Pandu.

“Diketahui, pekerja itu kan tidak pernah ke luar negeri. Artinya bisa jadi dari orang yang karantina atau dari lingkungan sekitar dia di luar Wisma Atlet. Bisa saja kan tertular dari orang lain, bukan dari lingkungan Wisma Atlet dan varian Omicron ini bisa jadi sudah ada di Indonesia sudah dari sebelum-sebelumnya, hanya saja baru terdeteksi sekarang ini,” tambah Pandu.

Ini artinya, lanjut Pandu, sudah terjadi penularan di dalam negeri. Sebenarnya Indonesia mampu menghadapi mutasi virus berkalikali, khususnya varian Delta, Alfa, dan lainnya.

“Karena itu, pemerintah wajib mengebut program vaksinasi, khususnya lanjut usia (lansia) di periode akhir tahun ini,” tegas Pandu.

Sementara itu, epidemiolog Dicky Budiman mengatakan perlu dilakukan tracing (lacak) segera terhadap pasien yang pertama kali terdeteksi positif.

“Jangan menunggu lama, semua segera dikarantina dan diperiksa kembali. Apalagi pekerja kebersihan ini perlu dicek bolak balik ke rumah dan ke Wisma Atlet atau dia stay terus di Wisma Atlet. Ini yang perlu diwaspadai,” kata epidemiologi dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia.

Booster

Ilustrasi vaksinasi
Ilustrasi vaksinasi

Sementara itu, dua perusahaan vaksin asal Tiongkok, Sinovac dan CanSino, mengklaim produknya masih cukup efektif untuk pencegahan paparan varian baru Covid-19 Omicron. Studi terbaru menunjukkan suntikan ketiga vaksin inaktif Sinovac mampu menetralkan antibody hingga dua kali lipat terhadap varian Omicron, demikian pernyataan Sinovac dikutip media Tiongkok, Kamis (16/12/2021).

Penelitian tersebut dilakukan terhadap dua kelompok, masing-masing terdiri atas 20 orang yang sudah menerima dua dosis vaksin dan 48 penerima dosis ketiga. Tujuh dari kelompok pertama dan 45 dari kelompok kedua memberikan reaksi positif dalam menetralkan antibody terhadap varian Omicron.

Dalam pernyataan tertulisnya, Sinovac menyatakan bahwa vaksin penguat (booster) efektif dalam meningkatkan kapasitas penetral terhadap Omicron. Demikian halnya dengan CanSino menyatakan hal yang sama.

Sedangkan BioNTech dan Pfizer mengatakan pekan lalu, tiga suntikan vaksin mereka mampu menetralkan Omicron dalam tes laboratorium, tetapi dua dosis menghasilkan antibodi penetralisir yang jauh lebih rendah. Sementara itu, J&J belum merilis datanya apakah tiga suntikan vaksinnya bekerja efektif melawan Omicron ini. (b1)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN