Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi remaja mengukur tinggi tubuh utuk mengetahui menderita stunting atau tidak

Ilustrasi remaja mengukur tinggi tubuh utuk mengetahui menderita stunting atau tidak

Waspada Stunting, BKKBN: Bisa Berdampak Buruk Bagi Masa Depan Anak

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 17:48 WIB
Fatima Bona (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), dr. Hasto Wardoyo mengingatkan masyarakat bahwa masalah stunting bisa berdampak sangat buruk bagi masa depan anak.

Hasto menyebutkan, stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang dan stimulasi lingkungan yang kurang mendukung, ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak berada di bawah standar. Stunting berdampak jangka panjang hingga lanjut usia. 

Advertisement

Dikatakan Hasto, pada fase 1000 hari pertama kehidupan (HPK) terjadi perkembangan pesat otak manusia yang menentukan banyak hal bagi kehidupan setiap individu. Pasalnya, sebelum 1000 HPK, kondisi otak masih terbuka dan proses perkembangan terjadi. Hingga 24 bulan kemudian atau tepat dua tahun, ubun-ubun depan dan belakang bayi menutup.

“Dalam 1000 HPK kemampuan dasar manusia berkembang. Ini jika terganggu prosesnya, terjadi stunting," jelas  Hasto dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/8/2022).

Baca juga: Presiden: Percepatan Penurunan Stunting Harus Tepat Sasaran

Hasto menuturkan, sebenarnya stunting sudah bisa terdeteksi dan dicegah sejak bayi masih berupa janin di dalam kandungan. Ibu hamil yang kurang memperhatikan asupan nutrisi akan lebih berisiko melahirkan anak dengan kondisi stunting. 

Pasalnya, asupan nutrisi yang pas seharusnya sudah dilakukan sejak anak masih dalam kandungan dengan cara Ibu hamil mengonsumsi makanan bergizi. 

Namun, apabila bayi sudah terlahir dengan panjang atau tinggi badan di bawah standar dan terindikasi stunting, orang tua bisa memberikan asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan anak dengan tepat sehingga risiko stunting bisa dikurangi.

Selanjutnya, Hasto menerangkan bahwa memasuki usia enam bulan, bayi membutuhkan asupan nutrisi lain selain ASI untuk mendukung tumbuh kembangnya. Namun, makanan pendamping air susu ibu (MPASI) yang tepat bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil, melainkan untuk menghindari risiko terjadinya gangguan tumbuh kembang, termasuk stunting. 

Hasto menuturkan, gangguan kesehatan ini memang sebaiknya mendapat perhatian. Pasalnya, stunting tidak hanya akan mengganggu pertumbuhan tubuh sang buah hati, tetapi juga bisa memicu munculnya gangguan kesehatan jangka panjang. 

"Stunting pada anak bisa mengakibatkan terhambatnya perkembangan dan lemahnya sistem imun tubuh sehingga anak akan lebih mudah terserang penyakit. Selain itu, kondisi ini juga meningkatkan risiko munculnya gangguan pada sistem pembakaran hingga menurunnya fungsi kognitif anak," ucapnya. 

Ia menambahkan, saat anak mengalami permasalahan gizi yang bisa dikatakan sangat parah, ia bisa saja kehilangan nyawa. Terkait kecerdasan, masalah stunting juga dihubungkan dengan perkembangan otak dan intelegensi anak.

Hasto menegaskan, setiap orang tua harus memastikan gizi yang cukup pada 1000 HPK sang anak. Hal itu akan berdampak pada kehidupan di masa depan yang lebih sehat.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memperhatikan asupan nutrisi yang didapatkan anak dan orangtua perlu memastikan untuk memilih menu MPASI terbaik. 

Namun karena dikatakan sebagai pendamping ASI, pemberian makanan bayi ini tentu harus tetap dilakukan bersamaan dengan ASI. Hal ini agar pemberian makanan bisa lebih optimal untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. 

Idealnya, sejak baru lahir sampai usia 6 bulan bayi sebaiknya ia mendapatkan ASI eksklusif. Setelah usia bayi di atas usia 6 bulan, ia perlu diberikan makanan bayi atau mendapatkan ASI dan MPASI secara bersamaan. Namun jika memungkinkan, anda masih bisa memberikan ASI sampai usia bayi genap dua tahun atau 24 bulan.

Sementara itu, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada empat strategi penting yang harus para ibu pahami saat memberikan MPASI di usia 6 bulan, di antaranya;

Tepat Waktu

Makanan pendamping ASI memang ada baiknya diberikan di waktu yang tepat alias tidak terlalu cepat atau lambat. Dengan catatan, hal ini disesuaikan kembali dengan kondisi kesehatan si kecil. Dalam beberapa kasus tertentu, dokter bisa saja menyarankan untuk memberikan makanan pendamping ASI sebelum 6 bulan.

Memadai

Makanan pendamping ASI sebaiknya memenuhi kebutuhan energi, protein, mineral, dan vitamin untuk bayi. Dengan kata lain, berikan menu MPASI yang terdiri atas berbagai sumber makanan.

Untuk mencegah stunting pada anak, orang tua bisa dengan memberikan menu makanan dengan kandungan gizi seimbang. Bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, makanan sumber protein disarankan untuk ditingkatkan pemberiannya. Sebaiknya orang tua memperhatikan konsumsi serat, gula, dan garam pada 1000 HPK diberikan dalam jumlah yang terbatas.

Aman dan Higienis

Segala proses dalam penyimpanan makanan bayi, mengolah, hingga menyajikan makanan padat sebaiknya dilakukan secara aman dan higienis. Sangat disarankan untuk menggunakan, cara, bahan, serta peralatan MPASI yang aman dan bersih.

Pemberiannya Secara Responsive

Sama halnya seperti pemberian ASI, makanan padat yang disajikan untuk bayi juga sebaiknya mengikuti tanda bayi lapar dan kenyang. Jadi, ada baiknya untuk memberikan makanan saat bayi sedang lapar dan hindari memaksanya makan ketika ia sudah kenyang.

Perbaikan gizi pada anak menjadi sebuah kebutuhan penting pada 1.000 HPK dalam menurunkan angka prevalensi kekerdilan (stunting), maka pemenuhan gizi dan nutrisi saat MPASI pun sangat penting diperhatikan orang tua.  

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN