Menu
Sign in
@ Contact
Search
Pegiat Wastra, Nury Sybli (tiga dari kiri) mengajak perempuan Indonesia untuk memakai kebaya dan tenun dalam kesempatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, Rabu 17 Agustus 2022.

Pegiat Wastra, Nury Sybli (tiga dari kiri) mengajak perempuan Indonesia untuk memakai kebaya dan tenun dalam kesempatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, Rabu 17 Agustus 2022.

Rayakan HUT Ke-77 Republik Indonesia

Pegiat Wastra Ajak Perempuan Indonesia Pakai Kebaya dan Tenun

Selasa, 16 Agustus 2022 | 20:20 WIB
F Rio Winto (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Pegiat Wastra, Nury Sybli mengajak perempuan Indonesia untuk memakai kebaya dan tenun dalam kesempatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, Rabu 17 Agustus 2022.

“Perempuan Indonesia yang memiliki perhatian pada kain-kain tradisional tampil dengan aneka busana merah putih. Mereka berasal dari beragam profesi yang tergabung dalam ‘berkain gembira’ memilih tenun Timor Tengah Selatan berwarna merah sebagai padanan kebaya dan baju lambung bernuansa putih,” kata Nury Sybli dalam keterangan resmi yang diterima Investor Daily, Selasa 16 Agustus 2022.

Para perempuan ini memilih kebaya dan baju lambung putih sebagai padanan tenun Timor Tengah Selatan (TTS). Baju Lambung adalah baju adat suku sasak Lombok, NTB yang peruntukannya sebagai busana sambut tamu atau menari. Orang Sasak umumnya memakai lambung warna hitam, sedang para perempuan urban ini memilih lambung warna putih dan tenun merah sebagaimana warna bendera.

Sementara kebaya, saat ini sedang menjadi isu bersama perempuan Indonesa agar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengupayakan kebaya diakui dunia sebagai warisan budaya tak benda, Kebaya Goes to UNESCO. Sebab, selain memiliki sejarah panjang, kesetiaan perempuan pada busana tradisional ini juga perlu dihormati. Ratusan tahun wanita Indonesia merawat kebaya bahkan sejak sebelum negara ini lahir.

Nury Sybli, selaku pegiat wastra dan inisiator kegiatan mengatakan, Indonesia dikenal dengan keanekaragaman budaya dan karya seni. “Wastra nusantara atau disebut kain-kain tradisional adalah maha karya seni yang tak pernah dilihat siapa senimannya. Kain tradisional bisa digunakan dalam berbagai kesempatan sebagai upaya pelestarian tradisi,” kata dia.

Menurut Nury, perempuan Indonesia bisa memakai kebaya dan tenun dalam berbagai kesempatan sebagai upaya pelestarian tradisi. “Gak harus menunggu ada undangan pernikahan, atau pesta adat. Tenun bisa dipake dimana saja, kapan saja. Bahkan tenun bisa jadi pasangan kebaya yang asyik,” papar Nury yang memberi label teman-temannya berkain gembira.

“Kata kuncinya gembira. Berkebaya, berkain itu harus gembira. Supaya yang melihat juga ikut gembira. Apalagi para penenun, kalau tenunnya dipakai pasti gembira,” imbuh ibu satu putri ini.  

Dengan menggunakan kain tenun, menurut Nury, perempuan Indonesia tak hanya mengapresiasi karya seni pada benang saja, melainkan juga membantu perekonomian penenun. Lebih dari itu, kegiatan yang terlihat sederhana ini juga mampu mengangkat kebudayaan dari negeri sendiri.

“Di ruang-ruang publik, kita sudah jarang melihat pemandangan perempuan pakai kebaya, apalagi pakai tenun. Padahal, kalau kita pakai tenun, uang kita langsung mengalir jadi beras, jadi susu atau bayar anak sekolah, sekaligus merawat tradisi,” tegas Nury. 

Aneka Motif

Dalam kesempatan itu, para perempuan berkain gembira memakai tenun dari Timor Tengah Selatan, NTT dengan aneka motif seperti tenun Lotis Boti, Ayotupas, Nunkolo, Futus Kaimnaek Amanuban, Buna Krawang, Buna Biklusu, Buna Atoni, Naisa Pahat Molo. Tenun dari perbatasan Indonesia dan Timor Leste ini memiliki ciri khas masing-masing.

Nury menjelaskan, tenun itu seperti petuah ibu dimana setiap motifnya terkandung doa dan pesan kehidupan. Seperti tenun futus Amanuban yang memiliki motif wajik berkait itu dimaknai sebagai arah angin atau keseimbangan kehidupan.

“Dan kain futus ini dulu adalah kain para bangsawan, yang hanya dipakai oleh para Amaf atau pimpinan suku,” katanya.

Di antara kain-kain Timor yang dipakai salah satunya tenun nunkolo yang pernah dipakai Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pada peringatan kemerdekaan RI tahun 2020. “Apalagi kalau membaca motifnya satu per satu, kita semakin mengerti orang Indonesia itu keren dan cerdas. Karena itu, jangan ragu memakai tenun dalam kegiatan sehari-hari,” kata Nury.

 “Kebaya tak hanya milik Budaya Jawa, melainkan telah menjadi bagian dari busana yang menarasikan gaya hidup. Seperti yang kami pakai, kebaya bisa berpasangan dengan aneka tenun,” papar perempuan aktivis 98 ini.

“Kebaya dan tenun adalah cerminan sikap dan integritas bangsa Indonesia. Jadi kalau masih ragu akan hal ini, siapa yang akan menjaga kelestarian tradisi leluhur,” tegas Nury.

Editor : F Rio Winto (rio_winto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com