Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kapolresta Bogor Kota Kombes Susatyo Purnomo Condro menujukkan barang bukti 2,4 kilogram sabu di Pos Baranangsiang, Kota Bogor, Selasa (25/1/2022).

Kapolresta Bogor Kota Kombes Susatyo Purnomo Condro menujukkan barang bukti 2,4 kilogram sabu di Pos Baranangsiang, Kota Bogor, Selasa (25/1/2022).

Kecanduan Narkoba Pengaruhi Otak dan Perilaku Manusia

Minggu, 18 September 2022 | 03:50 WIB
F Rio Winto (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Gejala kecanduan narkotika, psikotropika, dan obat terlarang (narkoba) memengaruhi fungsi otak dan perilaku seseorang sehingga tidak mampu mengendalikan penggunaan obat-obatan terlarang.

Ketika kecanduan narkoba, seseorang dapat terus menggunakan obat-obatan tersebut walaupun bisa menimbulkan bahaya. Ada beberapa gejala kecanduan narkoba yang umum terjadi, yaitu hidung sering berair, tremor atau kejang, kelelahan ekstrem, kehilangan koordinasi fisik, bau tak sedap pada napas atau pakaian, pupil mata mengecil atau membesar, mata merah atau berair, berat badan naik atau turun secara signifikan, perubahan nafsu dan pola makan, pola tidur tidak teratur atau sulit tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, tidak menjaga kebersihan diri, seperti jarang mandi dan berganti pakaian, dan melakukan hal berbahaya, misalnya mencuri demi mendapatkan narkoba.

Upaya menghentikan penggunaan narkoba dapat menyebabkan sakau atau putus obat. Sakau adalah gejala fisik dan mental yang terjadi akibat pemberhentian atau pengurangan dosis obat dalam mengonsumsi narkoba.

Gejala sakau juga bergantung pada jenis obat yang digunakan. Kondisi ini umumnya dapat menyebabkan perubahan nafsu makan, perubahan suasana hati, hidung tersumbat atau pilek, kelelahan, nyeri otot, gelisah, berkeringat, tubuh berguncang, tremor, mual, dan muntah.

Gejala yang lebih parah, seperti halusinasi, kejang, atau delirium juga bisa terjadi. Karena itu, diperlukan penanganan yang tepat untuk mengatasi kecanduan narkoba, yaitu rehabilitasi.

Dalam menjalani rehabilitasi medis, pencandu narkoba akan ditempatkan di pusat-pusat rehabilitasi yang disediakan oleh BNN, seperti di Lido (Kampus Unitra), Baddoka (Makassar), atau Samarinda.

“Kami mengapresiasi Balai Rehabilitasi Badokka Makassar yang telah mampu membantu banyak para pencandu dan korban penyalahguna narkoba yang ingin pulih dan dapat menjadi tempat rujukan layanan rehabilitasi yang berkualitas dengan melakukan layanan yang berorientasi sesuai kebutuhan klien di wilayah Indonesia,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen. Pol. Dr. Drs. Petrus Reinhard Golose, M.M melalui situs resmi BNN.

Berdasarkan penjelasan BNN, setiap pencandu narkoba akan menjalani tiga tahapan rehabilitasi narkoba. Pertama, rehabilitasi medis (detoksifikasi). Pada tahap ini, pencandu narkoba diperiksa kondisi kesehatannya, baik fisik maupun mental. Setelah asesmen tersebut, dokter akan memutuskan obat yang akan diberikan pada pencandu untuk mengurangi gejala putus zat (sakau) yang diderita.

Pemberian obat tergantung dari jenis narkoba hingga berat atau ringannya sakau yang dialami pecandu tersebut. Salah satu metode detoksifikasi yang sering digunakan di Indonesia adalah cold turkey. Metode ini dilakukan dengan mengurung pencandu dalam masa putus obat tanpa memberi obat-obatan tertentu.

Setelah tidak lagi sakau, pencandu narkoba dikeluarkan dari kamarnya kemudian diikutsertakan dalam sesi konseling (rehabilitasi non medis). Metode ini juga banyak digunakan oleh panti rehabilitasi yang mengedepankan pendekatan keagamaan dalam fase detoksifikasinya.

Kedua, rehabilitasi non medis. Pencandu wajib ikut menjalani program rehabilitasi yang dicanangkan, misalnya therapeutic communities (TC), 12 steps, pendekatan keagamaan, dan lain-lain.

Dalam program TC, pencandu narkoba diajarkan untuk mengenal dirinya lewat lima area pengembangan kepribadian, yaitu manajemen perilaku, emosi/psikologis, intelektual dan spiritual, pendidikan, serta kemampuan untuk bertahan bersih dari narkoba. TC dilakukan dengan cara menempatkan pecandu narkoba di tengah masyarakat dalam kurun 6-12 bulan.

Ketiga, bina lanjut (after care). Setelah dinyatakan lulus dari tempat rehabilitasi narkoba, pencandu narkoba bisa kembali ke masyarakat dan beraktivitas seperti biasa. Namun, mereka tetap berada di bawah pengawasan BNN agar dipastikan bahwa mereka telah pulih total terhadap ketergantungannya pada narkoba.

Keempat, terapi substitusi opioda, terapi yang dilakukan hanya untuk pasien yang ketergantungan heroin (opioda). Untuk pengguna opioda hardcore addict (pengguna opioda dalam bentuk suntikan, mereka biasanya mengalami kekambuhan kronis sehingga perlu menjalani terapi ketergantungan selama beberapa kali.

Kebutuhan heroin (narkotika ilegal) dapat diganti dengan narkotika legal sebagai obat detoksifikasi. Obat-obatan ini diberikan sesuai dengan dosis yang dibutuhkan pecandu. Lambat laun, dosisnya akan diturunkan.

Kelima, therapeutic community, salah satu cara berhenti narkoba yang mulai dicetuskan di Amerika Serikat pada 1950-an. Tujuannya adalah menolong pencandu untuk bisa kembali ke masyarakat dan dapat menjalani kehidupan yang produktif. Demikian, berbagai metode atau program rehabilitasi narkoba yang dilakukan di Indonesia.  Untuk penanganan rehabilitasi, Ashefa Griya Pusaka dapat menjadi solusi. Ashefa Griya Pusaka yang merupakan Pusat Rehabilitasi Narkoba (swasta) memberikan layanan rehabilitasi narkoba kepada pasien pecandu narkoba secara komprehensif dan terintegrasi.

“Kami berkomitmen memberikan pelayanan rehabilitasi narkoba yang berkualitas”, tegas Hendra Aryandie, CEO Ashefa Griya Pusaka dalam keterangan resmi, Sabtu 17 Agustus 2022.

Layanan rehabilitasi narkoba yang akan didapatkan pasien di Ashefa Griya Pusaka di antaranya meliputi Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial yang akan dilakukan oleh tenaga profesional yang telah bersertifikat.

Pentingnya program rehabilitasi narkoba dilakukan secara lengkap dan dengan penanganan yang serius sangat berpengaruh terhadap pemulihan pasien yang mengakses layanan rehabilitasi narkoba di Ashefa Griya Pusaka. Di samping itu, pasien yang menjalani rehabilitasi di Ashefa Griya Pusaka akan menjalani program rehabilitasi berdasarkan dengan hasil asesmen awal yang telah dilakukan. Ada tiga program rehabilitasi narkoba yang tersedia di Ashefa Griya Pusaka, yaitu Program Rawat Jalan Reguler, Program Rawat Jalan Intensif, dan Program Rawat Inap (minimal 3x28 hari).

Sementara itu, untuk layanan rehabilitasi narkoba di Ashefa Griya Pusaka, terdapat empat pilihan layanan yakni layanan Suite, VVIP, VIP, hingga Executive.

Editor : F Rio Winto (rio_winto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com