Menu
Sign in
@ Contact
Search
Chairman Temasek Trust Ho Ching saat berbicara pada acara Philanthropy Asia Summit II yang diselenggarakan Temasek Foundation di Shangri-La Orchard, Singapura, Jumat (30/09/2022).

Chairman Temasek Trust Ho Ching saat berbicara pada acara Philanthropy Asia Summit II yang diselenggarakan Temasek Foundation di Shangri-La Orchard, Singapura, Jumat (30/09/2022).

Aliansi Baru Himpun Dana US$ 200 Juta Lebih untuk Kemitraan Filantropi Asia

Jumat, 30 Sep 2022 | 15:09 WIB
Nasori (redaksi@investor.id)

SINGAPURA, investor.id – Dana lebih dari US$ 200 juta atau sekitar Rp 3,05 triliun berhasil dikumpulkan hanya dalam kurun beberapa minggu terakhir oleh aliansi baru untuk mendorong kemitraan filantropi guna menangani masalah yang berkaitan dengan lingkungan planet, perdamaian, kemanusiaan, dan kemajuan. Aliansi ini diinisiasi oleh Temasek Trust Singapura.

Anggota inti awal dari aliansi ini meliputi Bill & Melinda Gates Foundation, Dalio Philanthropies, Li Ka Shing Foundation, empat perusahaan Sinar Mas, Tanoto Foundation, dan Temasek Trust. Dari total dana lebih dari US$ 200 juta itu, separuhnya atau US$ 100 juta merupakan komitmen dari Temasek Trust yang merupakan pengelola dana filantropi Temasek Holdings.

“Aliansi baru ini akan memberikan pendekatan yang lebih terkoordinasi dan terintegrasi untuk memberikan hasil yang berdampak,” ujar Chairman Temasek Trust Ho Ching saat berbicara pada acara Philanthropy Asia Summit 2022 yang diselenggarakan Temasek Foundation di Shangri-La Orchard, Singapura, Jumat (30/09/2022).

Ho menambahkan, anggota inti pendiri aliansi telah memberikan kontribusi masing-masing US$25 juta. Sedangkan mitra dan pendukung lainnya telah memberikan komitmen masing-masing antara US$ 1 juta hingga US$ 10 juta. Komitmen Temasek Trust sebesar US$ 100 juta akan digunakan untuk membiayai operasional aliansi, sementara World Economic Forum (WEF) akan menjadi mitra strategis.

Advertisement

Sedangkan WongPartnership dan Freshfields Bruckhaus Deringer akan memberikan dukungan hukum probono untuk membantu pembentukan aliansi ini. Ho menambahkan bahwa aliansi yang akan diluncurkan secara resmi dalam sembilan hingga 12 bulan mendatang juga akan memiliki kerangka kerja tata kelola guna menghormati fokus kepentingan anggota aliansi.

"Ini dapat mencakup dewan terpisah untuk memandu kurasi program atau melacak hasil program dan pengukuran dampak. Kerangka kerja juga harus mendukung adaptasi solusi untuk kondisi lokal yang bervariasi atau kompleksitas upaya multilateral," kata Ho yang juga istri Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Sebagai contoh Ho memaparkan bahwa Dalio Philanthropies akan fokus pada penjelajahan dan perlindungan lautan, sementara Tanoto Foundation fokus pada pengembangan dan pendidikan anak usia dini untuk mengangkat kehidupan dan mata pencaharian.

Sedangkan Sinar Mas berfokus pada upaya peningkatkan mata pencaharian masyarakat melalui produksi bahan bakar nabati. Empat perusahaan Sinar Mas yang terlibat dalam aliansi ini adalah APP Sinar Mas, Golden Agri-Resources, Golden Energy and Resources, serta Sinar Mas Land. 

Lebih Banyak

Ho berharap, anggota aliansi bisa bertambah lebih banyak dalam beberapa bulan mendatang sehingga menambah bobot keuangan maupun keahlian. Ia juga menguraikan empat prioritas utama sektor nirlaba dalam pidatonya, yang dimaksudkan menjadi platform kolaboratif untuk menyatukan filantropis global dan regional guna mengkatalisasi kemitraan.

Prioritas pertama adalah lingkungan planet global, karena tekanan dan bencana perubahan iklim akan menimpa lebih banyak pada orang miskin dan kurang beruntung. Prioritas kedua adalah perdamaian.

"Prasyarat untuk perdamaian termasuk kepercayaan dan niat baik. Perdamaian hanya bisa datang dengan menghubungkan orang-orang dengan memupuk rasa hormat yang lebih dalam terhadap kemanusiaan bersama, dengan memelihara penerimaan yang lebih percaya diri dan berpikiran terbuka terhadap dunia yang beragam dan plural," papar dia.

Prioritas ketiga adalah orang. Ini memungkinkan umat manusia bertahan dan berkembang dalam beberapa dekade mendatang melalui pendidikan, perawatan kesehatan, serta inklusi digital dan keuangan. “Ini adalah kuncinya,” tandas dia.

Prioritas terakhir adalah kemajuan yang harus adil dan inklusif, tidak meninggalkan siapa pun. “Semua prioritas ini membutuhkan kemitraan untuk berhasil dan itu yang ingin dicapai melalui pertemuan puncak ini,” kata Ho.

Philanthropy Asia Summit II atau tahun ini difokuskan pada tiga tema yaitu aksi iklim dan masyarakat berkelanjutan, pendidikan inklusif, serta perawatan kesehatan yang tangguh. "Kemitraan membutuhkan pikiran terbuka guna merangkul keragaman orang dan kecerdikan ide yang belum ditemukan oleh kita sendiri selama ini," pungkas dia.

Ikut tampil dalam pertemuan puncak ini dalam format perbincangan adalah Wakil Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Singapura Lawrence Wong serta Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin. Lawrence berbicara tentang pertumbuhan ekosistem filantropi Singapura dan munculnya model pemberian baru seperti keuangan campuran, sedang Budi Gunadi memaparkan transformasi kesehatan di Indonesia dan kerjasama regional.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com