Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasil SurveySensum dalam

Hasil SurveySensum dalam "2020 Holiday Shopping Trends Report". ( Foto: SurveySensum )

Anggaran Belanja Liburan Nataru Diprediksi Turun 14%

Rabu, 23 Desember 2020 | 09:39 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Anggaran belanja untuk libur Natal 2020 dan Tahun Baru (Nataru) 2021 diprediksi turun 14%. Meskipun tidak membatalkan perayaan liburan akhir tahun, sebanyak 52% konsumen berencana memangkas pengeluaran di musim liburan ini. Demikian menurut laporan perusahaan riset SurveySensum dalam “2020 Holiday Shopping Trends Report”.

SurveySensum kali ini bertujuan mengungkap tren musim liburan Nataru, serta dampak pandemi terhadap musim belanja akhir tahun. Sebanyak 500 responden di 5 kota besar di Indonesia yang disurvei terbagi antara 50% pria dan 50%, dimintakan tanggapannya tentang pengeluaran mereka pada musim liburan ini.

“Kami menemukan bahwa mayoritas konsumen berada dalam situasi keuangan yang lebih buruk pada tahun ini. Sebanyak 77% konsumen di Indonesia mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi, dan sekitar 67% konsumen mengalami penurunan pada tabungan mereka,” ujar CEO SurveySensum & NeuroSensum Rajiv Lamba dalam siaran pers, Rabu (23/12).

Riset SurveySensum itu juga menunjukkan secara nyata bagaimana pandemi Covid-19 telah mengubah momen liburan mereka. Sekitar 88% konsumen mengaku kegiatan berliburnya terdampak oleh Covid-19. Tak heran bila kegiatan travelling, bersantai, pesta, dan hang out adalah aktivitas teratas yang masih akan merasakan dampak terberat.

Hanya 37% konsumen di Indonesia yang berencana bepergian selama musim liburan 2020 ini jika dibandingkan dengan 88% konsumen yang berlibur pada 2019. Dari jumlah tersebut sebanyak 54% berencana bepergian hanya ke kota-kota terdekat, dan sebesar 70% berencana untuk bepergian menggunakan mobil atau kendaraan pribadi. Rencana untuk berlibur ke luar negeri pun hampir bisa diabaikan tahun ini.

Pergeseran Perilaku Belanja

Pandemi Covid-19 memberikan dampak berbeda-beda pada setiap orang, dan setiap orang berusaha melalui masa ini dengan cara yang juga berbeda. Sebanyak 64% konsumen lebih hati-hati dalam memilih, bahkan melakukan riset kecil sebelum berbelanja. Sementara itu, 57% lainnya mencari cara untuk lebih banyak berhemat.

Perilaku belanja tersebut mengalami perubahan signifikan pada tahun ini dibandingkan 2019.

Tak jauh berbeda, 52% konsumen berganti merek dengan yang lebih murah, sedangkan 36% membeli produk dengan ukuran yang lebih besar. Perubahan luar biasa dalam perilaku berbelanja ini disebabkan oleh 58% konsumen lebih memperhatikan stabilitas ekonomi secara umum, sementara 42% mengkhawatirkan keamanan keuangan keluarga mereka, dan 33% telah mengurangi anggaran belanja untuk menabung lebih banyak.

“Konsumen dari kelompok penghasilan yang lebih tinggi dan belum menikah cenderung tidak akan memotong anggaran mereka, sementara kelompok berpenghasilan rendah paling terdampak,” kata Rajiv.

Hasil riset menunjukkan kelompok berpenghasilan rendah mengalami tingkat kesulitan paling tinggi. Setidaknya 55% dari mereka berencana mengurangi belanja liburan akhir tahun ini. Penurunan pendapatan dan tabungan untuk kelompok ini pun jauh lebih buruk dibandingkan kelompok lain, karena sebesar 74% konsumen juga mengalami penurunan pendapatan rumah tangga mereka.

Selain menyoroti soal penurunan anggaran belanja Nataru konsumen, riset “2020 Holiday Shopping Trends report” juga mengungkapkan pergeseran perilaku belanja konsumen ke digital. Terdapat peningkatan data seluler sebesar 48%. Layanan berlangganan meningkat sebanyak 29%. Sementara untuk donasi, kegiatan game online menunjukkan peningkatan 26%. Kenaikan pada layanan e-learning juga terjadi sebesar 23%, serta kategori gawai elektronik yang naik 18%.

Berbelanja Secara Daring

Kecenderungan konsumen terhadap format contactless demi keamanan dan kenyamanan juga tercermin dalam riset. Menurut Rajiv, konsumen memiliki kekhawatiran yang kuat terhadap berbelanja di dalam toko. Sekitar 81% konsumen lebih suka berbelanja daring (online) untuk menghindari keramaian, 58% di antaranya mengemukakan bahwa mereka lebih memilih berbelanja secara daring karena takut dengan Covid-19.

“Ketika berbicara mengenai kemungkinan kembali berbelanja seperti sebelum pandemi, 50% dari mereka merasa akan kembali melanjutkan rutinitas belanja dengan normal setelah memperoleh vaksin,” demikian dijelaskan.

Selain itu, 43% responden SurveySensum mengungkapkan keinginannya berbelanja secara daring dikarenakan lebih aman, terhindar dari keramaian, lebih nyaman berbelanja dari rumah, harga yang lebih murah dan beragam, juga adanya layanan pengiriman gratis. Inilah yang membuat digital channel semakin digemari konsumen untuk berbelanja di musim liburan, sehingga industri e-commerce akan meraup peningkatan yang besar.

“Bahkan untuk kategori kebutuhan sehari-hari juga beralih ke belanja online,” tambah Rajiv.

Oleh karena itu, tak mengherankan bila terjadi peningkatan 48% pada belanja data seluler, 16% peningkatan pada belanja ponsel, 15% peningkatan pada pembelian hadiah untuk keluarga, 14% peningkatan pada pembelian pakaian untuk diri sendiri, 13% pada pembelian makanan, 7% pada gawai elektronik, serta 4% pada produk kosmetik dan otomotif roda dua, juga banyak kategori lainnya.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN