Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Executive Director Yayasan Konservasi Alam Nusantara Rizal Algamar (kanan) menjelaskan Mangrove Virtual Run 2019 di Jakarta, Kamis (25/7/2019)

Executive Director Yayasan Konservasi Alam Nusantara Rizal Algamar (kanan) menjelaskan Mangrove Virtual Run 2019 di Jakarta, Kamis (25/7/2019)

Mangrove Virtual Run 2019

Berlari untuk Selamatkan Hutan Bakau Indonesia

Mardiana Makmun, (mardiana_id)  Kamis, 25 Juli 2019 | 18:32 WIB

JAKARTA, Investor.id - Ada banyak cara untuk ikut menyelamatkan hutan bakau (mangrove) Indonesia dari kerusakan. Salah satunya adalah dengan mengikuti ajang lari ‘Mangrove Virtual Run 2019’ yang digelar selama 26 Juli-26 Agustus. Ajang lari ini digelar oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), afiliasi dari The Nature Conservancy (TNC).

Executive Director Yayasan Konservasi Alam Nusantara Rizal Algamar menjelaskan, Mangrove Virtual Run ini  berbeda dengan ajang lari biasanya. Peserta yang sudah membayar Rp150 ribu, boleh berlari di mana saja selama tanggal 26 Juli-26 Agustus.

“Peserta bisa berlari di rumah atau fitness center dengan menggunakan treadmill, atau bahkan berjalan kaki. Peserta diharapkan mengakumulasi jarak sejauh 26,7 kilometer, sesuai dengan tanggal peringatan hari mangrove sedunia pada 26 Juli. Periode pendaftaran dibuka selama 15 Juli hingga 26 Agustus 2019 melalui bit.ly/mangroverun,” kata Rizal di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

CEO Sandimas Group Linda Tan yang juga menjadi Leadership Council YKAN I TNC. “Menurut saya, platform konservasi dan olah raga ini sangat bisa menggerakkan banyak orang dan menjadi cara untuk menyebarkan pesan yang amat penting bagi generasi mendatang. Dan pastinya saya juga ingin menjaga mangrove Indonesia, yang mencakup 23 persen mangrove seluruh dunia. Jadi this is a highly reccomended activity untuk diikuti semua kalangan,” ujar Linda.

Mengapa mangrove? Melalui ajang lari ini, YKAN, kata Rizal, mengajak setiap elemen masyarakat untuk peduli tentang keberadaan ekosistem mangrove yang amat penting bagi kawasan pesisir.

“Hutan mangrove berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap risiko bencana maupun sebagai mata pencaharian alternatif melalui pengembangan industri pariwisata. Di samping itu, lahan mangrove juga memegang peranan dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan kemampuan menyimpan karbon 3-5 kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis,” kata Rizal yang menggandeng komunitas lari Indorunners dan platform virtual run Cause.id.

Sebagai penyimpan karbon, hutan mangrove adalah jagonya. Hutan mangrove di Indonesia, kata Rizal, menyimpan 3,14 miliar ton karbon, yang setara dengan sepertiga karbon yang tersimpan di dunia. “Meski lebih dari 50 persen lahan hutan mangrove di Indonesia hancur, Indonesia masih menduduki posisi pertama sebagai negara dengan tutupan mangrove terbesar di dunia yaitu dengan total seluas 3,556 juta ha (KLHK, 2019) saat ini. Namun, sekitar 30 persen di antaranya tergolong dalam kategori kritis,” papar Rizal.

Untuk menyelamatkan dan melestarikan hutan mangrove, terutama di Jakarta, Semarang, Riau, dan Kalimantan Timur, YKAN | TNC menginisiasi sebuah platform yang disebut Mangrove Ecosystem Restoration Alliance atau Aliansi Restorasi Ekosistem Mangrove (MERA). Aliansi kemitraan ini bertujuan untuk mengembangkan, mengenalkan, dan mengimplementasikan pengelolaan kawasan pesisir yang terpadu dan berkelanjutan. Di dalamnya mencakup aspek ekologi, sosial, dan ekonomi. Saat ini MERA telah menjalin mitra dengan Asia Pulp & Paper (APP/Sinar Mas), Indofood Sukses Makmur, Chevron Pacific Indonesia, Djarum Foundation, dan Yayasan Tahija.  

Kolaborasi kemitraan amatlah penting dalam menjalankan misi konservasi dewasa ini. Muhammad Ilman dari YKAN/TNC mengungkapkan konservasi dan restorasi mangrove membutuhkan biaya yang sangat besar. “Untuk pantai dengan kondisi tanah tidak turun atau masih normal, butuh biaya Rp40 juta untuk merestorasi 1 hektar tanah. Namun ntuk hutan mangrove di Teluk Jakarta, biayanya bisa meningkat 10 kali lipat karena kondisi tanahnya yang turun,” ungkap Ilman.

Rizal juga mengingatkan, untuk merestorasi mangrove yang sudah rusak, tidak bisa sembarangan. “Hutan mangrove di wilayah tertentu memiliki ekosistem tertentu. Misal, di Kalimantan Timur, dibutuhkan jenis tanaman mangrove tertentu yang buahnya sangat disukai oleh monyet bekantan. Bila di wilayah itu ditanam mangrove jenis lain, ini akan mengancam ekosistem yang ada di sana, seperti punahnya bekantan karena hewan ini sangat tergantung dengan hutan mangrove dengan jenis tertentu,” jelas Rizal yang membutuhkan satu tahun untuk menganalisis ekosistem dan hidrologi Teluk Jakarta, sebelum dilakukan restorasi di masa mendatang

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN