Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Webinar bertajuk Mengenal Jamu Nusantara: Ekspolorasi Obat Tradisional Berbahan Alami Indonesia

Webinar bertajuk Mengenal Jamu Nusantara: Ekspolorasi Obat Tradisional Berbahan Alami Indonesia

BPOM Dorong Pengumpulan Bukti Empiris Khasiat Jamu Nusantara

Jumat, 10 September 2021 | 11:48 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia termasuk memiliki beragam ramuan jamu dan tanaman obat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Sayangnya, pengenalan masyarakat akan jamu masih terbatas dari Pulau Jawa, padahal setiap daerah di nusantara memiliki kearifan lokal (traditional knowledge) masing-masing sebagai alternatif pengobatan alami.

Kearifan lokal dalam rangka pengobatan berdasarkan etnis atau budaya masyarakat yang dikenal sebagai etnomedisin, perlu untuk dijaga dan dilestarikan. Itu sebabnya, penting untuk melakukan pengumpulan atau dokumentasi bukti empiris atas khasiat jamu nusantara.

Hal itu disampaikan oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Reri Indriani dalam webinar bertajuk "Mengenal Jamu Nusantara: Ekspolorasi Obat Tradisional Berbahan Alami Indonesia".

"Dokumentasi ramuan etnomedisin adalah hal penting sebagai data bukti keamanan jamu nusantara secara empiris. Kelemahan dari keanekaragaman sumber daya alam adalah dokumentasi atau pembuktian empiris," kata Reri.

Webinar menghadirkan sejumlah narasumber terkemuka dalam bidang obat tradisional berbahan alam Indonesia yaitu akademisi dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. Dr. Suwijiyo Pramono, pakar etnomedisin dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) Prof. Dr. Marina Silalahi , akademisi dari FMIPA dan Gizi Universitas Cendrawasih (Uncen) Papua, Dr. I Made Budi, serta artis Darius Sinathrya dan Puteri Indonesia Lingkungan 2020 asal Bali, Putu Ayu Saraswati.

Webinar yang digelar secara hibrid (daring dan luring) tersebut diikuti sektiar 1.800 peserta termasuk para pemangku kepentingan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Gabungan Pengusaha Jamu, dan sejumlah praktisi jamu digital. Webinar dipandu oleh pembawa acara Ario Astungkoro.

Reri menjelaskan BPOM ingin sekali mengawal potensi kearifan lokal setiap daerah di Indonesia. Di sisi lain, BPOM juga memiliki tanggung jawab kepada masyarakat untuk menjamin keamanan produk obat dan makanan. Dia mengatakan webinar tentang jamu nusantara hari ini adalah bagian dari rangkaian napak tilas jejak empiris obat tradisional yang diinisasi BPOM untuk mendapatkan data dukung empiris atau bukti keamanan jamu nusantara.

"Kami kadang-kadang dilematis di BPOM, kadang UMKM mendaftarkan produk dengan klaim memelihara kesehatan pencernaan, tetapi setelah kami telusuri ternyata data dukung empiris tidak ada.

Padahal di wilayah tertentu, ramuan tersebut sudah sangat dikenal, digunakan, dan dipercaya masyarakat," kata Reri.

Reri mengatakan BPOM mulai awal 2021 berfokus kembali untuk mengumpulkan berbagai dokumen empiris dari kearifan lokal Indonesia lewat seluruh 33 balai dan 40 loka. Dari hasil penelusuran, setiap wilayah di Indonesia memiliki kekhasan kearifan lokal, misalnya Pulau Jawa yang sangat kental dengan ramuan jamu dari rempah-rempah seperti jahe, temulawak, sambiloto, kunyit, dan lainnya. Semua rempah tersebut telah menjadi kebutuhan masyarakat mulai dari masa kehamilan, bayi, balita, remaja, sampai usia dewasa.

Di wilayah Sumatera, banyak diproduksi aneka minyak gosok dari tanaman lokal. Senada dengan itu, Pulau Bali juga memiliki sangat banyak jamu serta berbagai minyak aromaterapi, minyak balur, lulur tradisional, boreh, minumah loloh, dan sebagainya. Sedangkan, wilayah Papua juga mengenal aneka tanaman obat seperti buah merah, sarang semut, atau rimpang Papua (empon-empon).

Kekayaan kearifan lokal Indonesia juga didukung data Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) Kementerian Kesehatan pada 2017 yaitu tercatat 23.000 ramuan pengobatan tradisional dan didukung oleh 2.848 spesies tumbuhan yang sudah teridentifikasi sebagai tumbuhan obat tradisional.

"Kita tahu bahwa jamu adalah salah satu transformasi nilai tambah rempah untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Ditambah, aspek positif back to nature pada kondisi pandemi Covid-19 menyebabkan ledakan permintaan masyarakat pada jamu. Melihat kecenderungan peningkatan kebutuhan yang terjadi di seluruh dunia, tentu kita menangkap potensi ekspornya," lanjut Reri.

Akademisi dari Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Suwijiyo Pramono, membenarkan bahwa data empiris adalah bukti dari keamanan jamu nusantara. Menurutnya, empiris mengandung pengertian antara lain digunakan lebih dari 3 generasi, telah digunakan masyarakat selama >50 tahun (WHO), dan tercantum dalam buku-buku kuno tentang obat tradisional seperti Primbon Serat Jampi Jawi, buku Heyne, Serat Centini, Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, Obat Asli Indonesia, Buku Kloppenburg, Usada Bali.

"Banyak ramuan telah terdaftar di BPOM sejak tahun 1977 artiya sekitar 44 tahun atau lebih dari 30 tahun. Jadi tinggal melakukan inovasi," katanya.

Sementara itu, pakar etnomedisin dari UKI Prof. Dr. Marina Silalahi, S.Pd. M.Si. telah meneliti potensi jamu dari wilayah Sumatera. Dia mengakui tanaman obat dan ramuan dari Sumatera belum memiliki bukti-bukti ilmiah yang memadai seperti ramuan dari Pulau Jawa.

"Pengemasan, bukti ilmiah belum semaju di Jawa, oleh karena itu butuh sinergi antara akademisi, masyarakat, maupun pengambil kebijakan sehingga ada hilirisasi dari jamu-jamu di luar Jawa bisa bersaing dengan jamu di Jawa karena penghasilan dari jamu ini menjadi salah satu sumber perekonomian masyarakat," kata Marina.

Marina melakukan riset di 3 pasar di Sumatera Utara yaitu Pasar Kabanjahe, Pasar Berastagi, dan Pasar Pancur Batu, dimana menemukan beragam jenis tanaman obat dan jamu seperti tawar, minyak gosok, parem, rempah-rempah untuk sauna tradisional (oukup), dan minuman kesehatan (rum-rumen) yang terdiri dari bawang batak, rumbane, tulasih, terbangun rata, kumangi, dan sereh.

"Ketika pengobatan-pengobatan modern dianggap tidak mampu, saat sakit parah mereka kembali mencari bahan alam," kata Marina.

Senada dengan itu, akademisi dari FMIPA dan Gizi Uncen Papua, Dr. I Made Budi, mengatakan Papua memiliki kekayaan bahan baku obat herbal seperti buah merah, crocodile oil, sarang semut, daun gatal, sengiber, daun sampare, coklat, dan daun jilat. Berdasarkan survei, 75% masyarakat Papua masih memanfaatkan jamu atau herbal khas Papua dibandingkan obat farmasi.

"Herbal Papua perlu dikembangkan secara mendalam dengan kajian ilmiah untuk mencapai mutu, kualitas, dan keamanan," kata I Made Budi.

Artis Darius Sinathrya yang juga menjadi salah satu narasumber, mengaku sejak kecil sudah akrab dengan produk jamu meskipun ibunya bukan asli warga negara Indonesia. Di tengah situasi pandemi saat ini, Darius menyadari potensi jamu semakin besar karena tren masyarakat back to nature (kembali ke alam).

"Ibu saya walaupun bukan orang asli Indonesia tapi dia belajar berbagai macam kuliner temasuk mengolah jamu. Waktu kecil saya suka dibikinin brotowali, kunyit asem dan beras kencur. Sekarang ada lebih praktis lagi karena inovasi teknologi dalam bentuk kapsul sehingga kita bisa mengonsumsi setiap hari," ujarnya.

Darius mengatakan jamu atau herbal bisa menjadi "the new espreso", apalagi dengan kreativitas penjual jamu modern saat ini yang mengemasnya sebagai jamu kekinian.

"Jamu, herbal bisa menjadi the new espreso. Pagi-pagi orang biasanya ngopi, tapi ini kita dorong supaya bagaimana generasi muda mau minum jamu," ujarnya.

Darius mengaku memiliki keluhan masalah pencernaan karena sering terlambat makan karena kesibukan. Oleh karena itu, dia mengatasi dengan rutin minum kunyit dalam bentuk kapsul lunak.

"Pasti kita menjaga pola hidup sehat dengan suplemen yang natural, ya itu jamu. Saya mengonsumsi kunyit dalam bentuk soft capsule. Pekerjaan membuat waktu makan telat, kepikiran pekerjaan besok, akhirnya lari ke perut, maag. Dengan minum soft kapsul kunyit itu membantu meredakan gejala yang timbul di lambung saya dan bisa menjaga daya tahan tubuh di era pandemi," katanya.

Puteri Indonesia Lingkungan 2020 asal Bali, Putu Ayu Saraswati, S.Ked. juga telah mengenal jamu sejak kecil yaitu biasa mengonsumsi seduhan jahe merah. Dia juga sangat menyukai ramuan asal Bali bernama loloh cemcem. Dia mengatakan daun loloh bisa dipakai untuk menurunkan suhu tubuh.

"Bali identik dengan udara panas, terik matahari. Ini jamu luar biasa dan membantu cooling down, membuat tubuh adem. Semoga ini bisa banyak dipasarkan di Bali," kata Putu.

Putu menambahkan jamu nusantara diperoleh dari kekayaan alam asli Indonesia. Oleh karena itu, pengembangan jamu harus diupayakan sehingga bisa menjadi salah satu alternatif pariwisata kesehatan (medical tourism) sebagai daya tarik turis. Diharapkan lewat promosi jamu nusantara, turis mancanegara bisa diajak lebih dekat mengenal proses pengolahan jamu sehingga mempunyai pengalaman dan kesan luar biasa tentang kekayaan alam Indonesia.

 

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN