Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Stunting. Ilustrasi: wartadesa.net

Stunting. Ilustrasi: wartadesa.net

Cegah Anak Stunting Lewat Buku KIA

Minggu, 1 Agustus 2021 | 13:50 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

Orang tua bisa mencegah anak menderita berbagai penyakit termasuk stunting dengan memantau kondisi kesehatan anak yang tercatat di buku Kesehaan Ibu dan Anak (KIA). Sayangnya masih sedikit yang mengisi dan menggunakan buku KIA.

“Kami melihat ternyata pemanfaatan Buku KIA di masyarakat hingga saat ini masih belum sesuai harapan. Persoalan lain, pandemi membuat akses terhadap layanan kesehatan seperti puskesmas atau klinik, rumah bersalin, klinik kesehatan keliling, dan pusat pengobatan tradisional kurang memadai.

Untuk itulah, kami melakukan kerja sama dengan berbagai pihak agar edukasi pemanfaatan Buku KIA sesuai sasaran, sehingga orang tua dapat memantau perkembangan anak balita dengan baik,” kata Plt Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Drg. Kartini Rustandi, M. Kes saat jumpa pers yang diikuti Investor Daily, Kamis (29/7/2021).

Buku KIA merupakan alat pencatatan kesehatan ibu dan anak di tingkat keluarga. Buku KIA juga digunakan sebagai media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) bagi ibu hamil dan balita untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara rutin. Karena itu, meski tidak ke posyadu karena pandemi, orang tua harus mencatatnya secara mandiri serta bisa menggunakan aplikasi M-KIA.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 75,2% ibu hamil dan 65,9% balita (0-59 bulan) memiliki Buku KIA. Walaupun kepemilikan Buku KIA cukup tinggi, sayangnya penggunaan dan pengisiannya masih belum optimal.

Sementara itu, di masa pandemi, lanjut Kartini, pelayanan gizi dan kesehatan lebih diprioritaskan kepada kelompok balita dan ibu hamil serta menyusui yang berisiko. Pada sasaran berisiko, dilakukan dengan janji temu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Pemantauan pertumbuhan di posyandu menyesuaikan dengan kebijakan setempat.

“Jika posyandu tidak buka, orang tua dianjurkan untuk melakukan pemantauan secara mandiri dengan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA),” tambah

Kartini.  Berangkat dari hal tersebut, dalam momen Hari Anak Nasional 2021 dan guna mendukung upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak di masa pandemi, Direktorat Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI bekerja sama dengan PT Tirta Investama, perusahaan yang tergabung dalam grup Danone di Indonesia, menggelar edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat pentingnya Buku KIA untuk membantu orang tua memantau kesehatan dantumbuh kembang anak.

 Seperti diketahui, situasi Indonesia belum sepenuhnya lepas dari masalah kekurangan gizi anak, khususnya yang berusia di bawah lima tahun (balita). Hal itu tercermin dari prevalensi stunting masih sebesar 27,7% sampai 2019, meskipun telah turun dari 30,8% pada tahun sebelumnya. Angka tersebut mengindikasikan masih ada 3 dari 10 anak balita menderita stunting.

Angka itu jauh dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni maksimal 20% dari jumlah total anak balita dalam satu negara. Untuk menekan angka stunting pada balita sebesar 14% pada 2024 sesuai yang diamanatkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, intervensi percepatan penurunan stunting yang terintegrasi harus terus dioptimalkan.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Poksi Kesehatan Balita dan Anak Usia Prasekolah dr. Ni Made Diah, P.L.D., MKM mengatakan, agar kapasitas keluarga dalam memonitor perkembangan kesehatan ibu dan anak secara mandiri dapat berlangsung optimal, perlu penguatan edukasi untuk mendukung pemanfaatan Buku KIA terutama dalam kelengkapan pengisiannya oleh orang tua selama masa pandemi agar kesehatan dan tumbuh kembang anak tetap terpantau.

“Setiap informasi tentang kesehatan dan catatan khusus adanya kelainan pada ibu serta anak harus dicatat di dalam Buku KIA. Apabila mengalami kesulitan, orang tua bisa berkonsultasi kepada tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan didahului telekonsultasi sebelum janji temu.” kata Ni Made.

Periode Emas

Stunting atau kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang tidak mencukupi khususnya pada anak berusia di bawah 5 tahun. Foto ilustrasi: IST
Stunting atau kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang tidak mencukupi khususnya pada anak berusia di bawah 5 tahun. Foto ilustrasi: IST

Pentingnya buku KIA ini tentu tak lepas dari pentingnya tahun-tahun pertama kehidupan anak, terutama periode sejak janin dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun.Ini merupakan periode yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat pada otak manusia.

“Mengingat periode 2 tahun pertama ini merupakan masa yang relative pendek dan tidak akan terulang kembali, orang tua harus memanfaatkan periode yang singkat ini untuk membentuk anak ke arah yang positif dengan cara memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun dengan pengenalan makanan pendamping ASI yang tepat dan sesuai mulai usia 6 bulan, memberikan stimulasi yang tepat serta memberikan pelayanan kesehatanyang terbaik,” kata Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang Dr. dr. Fitri Hartanto, Sp.A(K).

Dia menambahkan, pemantauan tumbuh kembang dilakukan kepada anak rentang usia 0-2 tahun dan 2-6 tahun dengan memperhatikan beberapa aspek sesuai tingkat perkembangan usianya. Pemantauan tumbuh kembang harus dilakukan secara rutin karena merupakan suatu proses yang terus berlangsung dan dalam perjalanannya dapat mengalami gangguan atau penyimpangan.

“Orang tua sebaiknya memiliki catatan khusus tentang perkembangan anak karena waktu pencapaian perkembangan motorik dan mental setiap anak tidak akan sama persis,” ujar dr. Fitri.

Untuk memperluas dampak edukasi, Direktorat Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI dan PT Tirta Investama mengajak keterlibatan berbagai pihak untuk turut aktif mengedukasi para orang tua agar dapat menggunakan Buku KIA.

“Kami harapkan para ibu memahami isi buku KIA, memanfaatkan untuk pemantauan tumbuh kembang anak, dan memastikan kelengkapan layanan kesehatan yang didapatkan oleh ibu dan anak,” kata VP General Secretary Danone Indonesia Vera Galuh Sugijanto.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN