Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nyamuk Aedes Aegypti pembawa berbagai virus termasuk DBD, cikungunya hingga virus zika. Foto ilustrasi: bbc.com

Nyamuk Aedes Aegypti pembawa berbagai virus termasuk DBD, cikungunya hingga virus zika. Foto ilustrasi: bbc.com

DBD Mengancam di Tengah Pendemi Covid-19

Sabtu, 28 Maret 2020 | 14:40 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Di tengah pendemi virus korona atau Covid-19 yang melanda, pada saat hampir bersamaan Demam Berdarah Dengue (DBD) juga mengancam masyarakat Indonesia.

Per 15 Maret 2020, jumlah kasus DBD tercatat sebanyak 25.693 orang dan telah merenggut 164 jiwa. DBD memiliki kasus di Indonesia setiap tahunnya, menurut catatan Kementerian Kesehatan RI terdapat 110.921 kasus DBD di Indonesia pada  2019. Angka ini meningkat dari 2018 dengan jumlah kasus sebanyak 65.602.

Louis Sumantadiredja, Product Manager Soffell, menjelaskan virus korona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut Covid-19. Virus korona merupakan virus baru yang muncul pada akhir tahun 2019 di Wuhan, Tiongkok.

Sedangkan DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang disebarkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti.

DBD. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST
DBD. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST

Menurut Louis, DBD merupakan penyakit berbasis lingkungan dimana penyakit ini ditularkan nyamuk Aedes aegypti dan banyak ditemukan saat musim hujan karena nyamuk akan menetaskan telurnya di air.

Perubahan iklim seperti hujan yang diselingi panas hingga beberapa hari membuat nyamuk Aedes aegypti leluasa berkembangbiak. "Karena nyamuk ini suka hidup pada daerah dengan kelembaban tinggi dan cuaca yang cukup hangat," ungkapnya dalam keterangan pers.

Namun, lanjut dia, ada perubahan perilaku nyamuk Aedes aegypti yang dahulunya menggigit hanya pagi dan sore hari kini bisa menggigit saat malam hari hingga subuh serta berkembangbiak di atas ketinggian 1.000 mdpl yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Cara efektif dalam memberantas penyakit ini hanya dengan menjaga kebersihan lingkungan melalui gerakan 3M Plus dan memberikan perlindungan diri terhadap gigitan nyamuk yang kini sudah hidup di luar rumah atau di luar ruangan.

"Salah satu provinsi di Indonesia yaitu di Nusa Tenggara Timur telah dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) demam berdarah dikarenakan kekurangannya lotion anti nyamuk sebagai perlindungan diri," paparnya.

Untuk itu, tambah dia, pihaknya terus berinovasi dalam menciptakan produk yang bermanfaat merupakan komitmen dari Enesis Group, melalui salah satu brand nya yaitu Soffell. Terlebih, masyarakat Indonesia lebih suka sesuatu yang alami, seperti menggunakan ekstrak daun.

"Kami mengeluarkan varian baru yaitu, Soffel Alamia yang mengandung bahan alami yaitu menggunakan ekstrak daun Cymbopogon atau serai sehingga lebih nyaman untuk dipakai di kulit," tutupnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN