Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Siloam Hospitals Manado dr Benny Mulyanto Setiadi SpJP(K) FIHA

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Siloam Hospitals Manado dr Benny Mulyanto Setiadi SpJP(K) FIHA

Henti Jantung Mendadak Dapat Dicegah

Jumat, 24 Juli 2020 | 13:54 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Angka kejadian henti jantung mendadak atau Sudden Cardiac Arrest/SCA di Indonesia tercatat tergolong tinggi. Data Perki (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia), pada 2016 menyebutkan angka kejadian henti jantung mendadak berkisar antara 300 ribu – 350 ribu.

Henti jantung mendadak angka keselamatannya sangat rendah, tak heran apabila sebagian besar berujung pada kematian. Meski demikian, henti jantung mendadak ini dapat dicegah dengan mengetahui penyebab dan faktor resikonya.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Siloam Hospitals Manado dr Benny Mulyanto Setiadi SpJP(K) FIHA mengatakan sebuah laporan di Inggris menyebutkan tingkat keselamatan akibat henti jantung mendadak yang dikarenakan masalah elektrik pada jantung sangatlah kecil, yaitu hanya sekitar 8%. Bahkan, jika dibandingkan serangan jantung yang merupakan masalah saluran jantung angka keselamatannya mampu mencapai 80%.

“Ini menunjukkan bahwa henti jantung itu lebih berbahaya dibandingkan serangan jantung. Mengingat tingkat keselamatannya hanya sepersepuluh dari serangan jantung,” ungkap dr Benny di sela Health Talk Siloam Hospitals Manado bertajuk 'Henti Jantung Tiba-tiba : Apa yang perlu kita ketahui?', Jumat (24/7).

dr Benny menjelaskan henti jantung mendadak bisa terjadi pada orang tua maupun orang muda. Meski demikian, ada sedikit perbedaan henti jantung mendadak pada orang tua dan orang muda.

Pada orang tua, penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama dan sering kali disertai faktor risiko penyakit jantung, seperti hipertensi, diabetes, dan kegemukan.

Henti jantung pada orang tua terjadi pada saat mereka beraktivitas, misalnya saat berolahraga. Sedangkan pada orang muda, gangguan irama dan kelainan struktural merupakan penyebab utama.

Seringkali tanpa faktor risiko penyakit jantung. Pada orang muda, henti jantung mendadak terjadi saat beristirahat dan tidur.

Menurut dr Benny, penyebab pertama dan terbanyak henti jantung mendadak adalah kelainan irama jantung atau disebut aritmia yang merupakan kondisi dimana detak jantung tidak teratur.

Ada tiga kemungkinan membuat jantung tidak teratur, bisa terlalu lambat maupun terlalu cepat dari detak jantung normal sebesar 60-100 detak per menit pada saat istirahat. Jika terlalu lambat itu di bawah dari 60 detak per menit, sedangkan terlalu tinggi di atas 100 per menit.

Ada pula irama tambahan yang terjadi pada 1-4% populasi. Pada detak jantung terlalu lambat angka kejadiannya satu setiap 1.000 orang per tahun, terlalu cepat terjadi pada 3% populasi.

“Sedangkan penyebab henti jantung kedua adalah penyakit jantung koroner, ketiga kelainan struktural pada jantung, dan terakhir genetika. Dengan demikian, yang harus dilakukan adalah pencegahan dan skrining atau pemeriksaan awal merupakan tatalaksana paling penting, kenali tanda dan gejala awal, kenali individu yang termasuk risiko tinggi,” tegasnya.

Gejala

Dalam mengenali adanya risiko henti jantung, dr Benny mengatakan biasanya seseorang akan mengalami beberapa gejala, yaitu pingsan atau hampir pingsan, sesak nafas atau mudah lelah, nyeri dada, dada berdebar, rasa melayang atau sempoyongan, riwayat keluarga meninggal tiba-tiba di bawah usia 50 tahun. Namun, kadang-kadang keluhan pertama berujung kematian. Untuk mendiagnosanya, biasanya akan dilakukan pemeriksaan rekam jantung atau Elektrokardiografi (EKG) adalah pemeriksaan baku emas untuk diagnosis gangguan irama jantung.

Pemeriksaan ini dilakukan kepada mereka yang menunjukan gejala nyeri di dada, pusing, melayang, dada berdebar, detak jantung cepat, sesak nafas, lemah badan, mudah lelah, penurunan kapasitas fisik.

Riwayat keluarga meninggal tiba-tiba tanpa gejala jelas atau riwayat keluarga penyakit jantung pada usia muda, yaitu di bawah usia 45 tahun pada laki-laki atau dibawah 55 tahun pada wanita.

“Pemeriksaan ini juga harus dilakukan pada mereka yang akan melakukan olahraga kompetitif atau olahraga intensitas tinggi. Juga pada mereka yang biasanya tidak pernah melakukan olahraga dan ingin berolahraga,” jelas dr Benny.

Selain itu, tambah dia, ada juga pemeriksaan Holter yaitu alat portable untuk merekam irama jantung dalam rangka waktu panjang, umumnya dipasang selama 1-2 hari.

Ada pula implantable loop recorder, implant untuk memonitor irama jantung, dapat memonitor selama tiga tahun, terutama untuk mendiagnosa aritmia yang sangat jarang muncul tapi diduga berbahaya. Sayangnya, pemeriksaan ini sangatlah mahal.

“Meski demikian, ada cara mudah dan murah mendeteksi gangguan irama jantung, yaitu dengan MENARI, yaitu Meraba Nadi Sendiri. Yang dinilai adalah berapa kali detak jantung dalam 1 menit normal, yaitu 60-100 kali /menit. Serta mengetahui teratur atau tidak normal,” tambahnya.

Dr Benny menegaskan sebagian henti jantung mendadak disebabkan pola hidup. Dengan demikian, disarankan untuk melakukan pencegahan. Paling utama adalah melakukan hidup sehat. Mulai dari makan tinggi serat, rendah lemak jenuh, nutrisi tinggi termasuk buah dan sayuran. Hindari makanan dan minuman yang memicu seperti alkohol, MSG, dan olahraga rutin.

“Stop merokok, dan periksakan diri secara teratur, terutama jika memiliki riwayat keluarga,” tutup dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN