Menu
Sign in
@ Contact
Search
Negara-negara yang melaporkan kasus cacar monyet yang dikonfirmasi pada manusia 1970 - 2021. (Sumber: who.int)

Negara-negara yang melaporkan kasus cacar monyet yang dikonfirmasi pada manusia 1970 - 2021. (Sumber: who.int)

IDI Minta Dokter Waspadai Gejala Cacar Monyet pada Pasien

Rabu, 27 Juli 2022 | 10:43 WIB
Lenny Tristia Tambun (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) meminta semua dokter untuk mewaspadai gejala cacar monyet pada pasien. Hal ini merespons keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan status darurat untuk kasus cacar monyet.

Meski masih belum terdeteksi di Indonesia, namun kasus cacar monyet atau monkey pox sudah ditemukan di Singapura. Ketua Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular PB IDI Agus Dwi Susanto mengatakan, pemahaman yang baik terhadap infeksi cacar monyet dan kewaspadaan dini terhadap kejadian luar biasa atau outbreak menjadi modal utama dalam aspek pencegahan.

"Upaya untuk menghindari kontak dengan pasien yang diduga terinfeksi merupakan kunci pencegahan yang dinilai paling efektif pada saat outbreak diiringi dengan upaya surveilans dan deteksi dini kasus aktif guna melakukan karantina untuk mencegah penyebaran yang lebih luas," kata Agus dalam keterangan pers tertulis, Rabu (27/8/2022).

Baca juga: Antisipasi Cacar Monyet, Berikut Strategi Pemerintah

Agus juga meminta tenaga kesehatan (nakes), baik dokter maupun perawat, yang menemukan gejala cacar monyet pada pasien agar segera melakukan tindak lanjut dengan tes polymerase chain reaction (PCR), yakni metode pemeriksaan virus cacar monyet dengan mendeteksi DNA virus tersebut, dan segera melaporkan ke Dinas Kesehatan setempat agar bisa segera dilakukan surveilans dan tindakan lebih lanjut lainnya

Sementara itu, dr Adityo Susilo dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) mengatakan, penyakit cacar monyet sedianya adalah bersifat zoonosis yang penularan utamanya melalui kontak manusia dengan darah, cairan tubuh atau lesi pada mukosa maupun kulit hewan yang terinfeksi.

Dia menerangkan bahwa di Afrika, laporan kasus infeksi cacar monyet pada manusia berhubungan dengan riwayat kontak dengan hewan yang terinfeksi, seperti monyet, tupai, tikus dan rodents lainnya. Memakan daging hewan terinfeksi yang tidak dimasak dengan matang juga dikatakan dapat menjadi metode penularan yang lainnya.

Adapun penularan antar manusia, diduga dapat terjadi sebagai akibat dari kontak erat dengan pasien yang terinfeksi secara langsung melalui paparan terhadap sekresi saluran napas yang terinfeksi, kontak dengan lesi kulit pasien secara langsung, maupun berkontak dengan objek yang telah tercemar oleh cairan tubuh pasien.

Selain itu, transmisi secara vertikal dari ibu ke janin melalui plasental atau infeksi cacar monyet kongenital juga dimungkinkan.

Periode Penularan

Adityo menyebutkan bahwa periode inkubasi cacar monyet berkisar antara 5-21 hari dengan rata- rata 6-16 hari. Setelah melewati fase inkubasi, pasien akan mengalami gejala klinis berupa demam tinggi dengan nyeri kepala hebat, limfadenopati, nyeri punggung, nyeri otot dan rasa lemah yang prominen.

Baca juga: WHO: Wabah Cacar Monyet Berstatus Darurat Kesehatan Global

Dalam 1-3 hari setelah demam muncul, pasien akan mendapati bercak-bercak pada kulit, dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh. Bercak tersebut terutama akan ditemukan pada wajah, telapak tangan dan telapak kaki.

Seiring waktu bercak akan berubah menjadi lesi kulit makulopapuler, vesikel dan pustule yang dalam 10 hari akan berubah menjadi koreng.

Adityo, yang juga merupakan pengurus pusat PETRI  menerangkan bahwa hingga saat ini masih belum ada pengobatan yang spesifik untuk infeksi cacar monyet.

Meski demikian, di masa lalu, vaksinasi terhadap penyakit cacar/smallpox yang disebabkan oleh karena infeksi virus Variola yang dinyatakan telah tereradikasi secara global sejak tahun 1980, dikatakan dapat memberikan efektivitas proteksi sebesar 85% untuk mencegah infeksi cacar monyet.

Adityo kembali mengingatkan bahwa dengan ditemukannya kasus cacar monyet di Singapura, maka masyarakat juga perlu mewaspadai terhadap kemungkinan masuknya virus ini di Indonesia.

Hingga 25 Juli 2022 terdapat 18.905 kasus konfirmasi monkeypox di seluruh dunia, dengan 17.852 kasus terjadi di negara tanpa riwayat kasus konfirmasi sebelumnya. Amerika Serikat (AS) melaporkan kasus monkeypox sebesar 3.846 kasus. Sementara di ASEAN, Singapura telah melaporkan 9 kasus konfirmasi dan Thailand melaporkan 1 kasus konfirmasi.
 

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com