Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tim dokter Siloam Heart Institute (SHI) Siloam Hospitals Kebon Jeruk di sela visual media gathering SHKJ bertajuk The New Paradigm of Cardiac Care During Pandemic, Senin (28/9).

Tim dokter Siloam Heart Institute (SHI) Siloam Hospitals Kebon Jeruk di sela visual media gathering SHKJ bertajuk The New Paradigm of Cardiac Care During Pandemic, Senin (28/9).

Ini Beda Sesak Nafas Akibat Covid-19 dan Serangan Jantung

Senin, 28 September 2020 | 23:03 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Sesak nafas tidak hanya menjadi salah satu gejala penyakit Covid-19, tapi juga serangan jantung. Namun, terkadang masyarakat umum tidak dapat membedakannya dan takut memberikan pertolongan apabila menemukan orang mengalami sesak nafas.

Alhasil, banyak yang terlambat mendapatkan pertolongan sehingga membahayakan nyawa seseorang. Padahal, sesak nafas yang dialami oleh penderita Covid-19 dan serangan jantung berbeda. Apa saja yang membedakannya?

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dan wakil ketua Siloam Heart Institute Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ) dr Antono Sutandar SpJP-K mengatakan perbedaan pasien sesak nafas yang dialami oleh penderita Covid-19 didahului dan disertai demam atau panas dan keluhan pada saluran pernafasan atas, seperti batuk, pilek, dan lainnya.

Namun, gejala-gejala tersebut tidak membatasi aktivitas fungsional, sehingga masih bisa melakukan berbagai kegiatan. Misalnya saja seperti saat mengalami pilek, sesak, dan panas tapi masih bisa beraktivitas. Ditambah lagi, apabila si penderita sesak ini mengalami lidah tidak bisa membedakan rasa dan penciuman tidak mencium bau-bauan, sesak nafas yang dialami bisa dicurigai Covid-19.

Sedangkan pada sesak serangan jantung, dr Antono menjelaskan biasanya terjadi pada saluran bagian bawah, terutama paru-paru. Sebab, ketika jantung tidak bekerja cairan akan terkumpul di paru-paru. Selain itu, apabila melakukan aktivitas malah akan bertambah berat sesaknya. Hal ini membutuhkan segera penanganan dan perawatan dokter.

“Namun, selama pandemi Covid-19 banyak yang takut untuk mencari dan mendapatkan perawatan dokter ke rumah sakit,” ungkapnya di sela media gathering virtual SHKJ bertajuk 'The New Paradigm of Cardiac Care During Pandemic', Senin (28/9).

Tim dokter Siloam Heart Institute (SHI) Siloam Hospitals Kebon Jeruk di sela visual media gathering SHKJ bertajuk The New Paradigm of Cardiac Care During Pandemic, Senin (28/9).
Tim dokter Siloam Heart Institute (SHI) Siloam Hospitals Kebon Jeruk di sela visual media gathering SHKJ bertajuk The New Paradigm of Cardiac Care During Pandemic, Senin (28/9).

Dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular Siloam Hospitals Kebon Jeruk yang merupakan pimpinan Siloam Heart Institute (SHI) dr Maizul Anwar SpBTKV menambahkan dengan masih diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pasien-pasien masih banyak yang takut ke rumah sakit. Padahal, seseorang dengan Penyakit Kardiovaskular bukan hanya berisiko lebih parah ketika terkena Covid-19, namun juga berisiko dari Penyakit Kardiovaskular karena takut mencari perawatan ke rumah sakit.

Untuk itu, setelah Siloam Group melakukan alokasi perawatan Covid-19 di dua rumah sakit milik Siloam Group, yaitu RS Siloam Kelapa Dua di Tangerang dan RS Siloam Mampang, maka semua harus dirujuk kesana dan SHKJ pun mulai menata fasilitas yang ada untuk kegiatan pasien umum.

“Timbul ide yang menyatakan SHKJ merupakan clean hospitals yang bebas Covid-19. Walaupun demikian karena masih Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Maka pasien-pasien masih takut ke rumah sakit,” paparnya.

Untuk memperkuat program tersebut, lanjut dr Maizul, semua pengunjung rumah sakit harus melakukan rapid test Covid-19, termasuk pasien mau berobat, atau pendamping pasien. Semua tenaga kesehatan, baik dokter perawat dan tenaga pelayanan harus menjalani rapid test.

Sedangkan pasien yang mau dirawat atau tindakan operasi harus melakukan swab tenggorokan sebelum dirawat. Sehingga pasien yang dirawat bebas dari Covid-19. Apabila pasien ditemukan hasil rapid test dan swab positif, makan pasien harus dirujuk dahulu. Sedangkan pada mereka yang akan menjadi bedah jantung, selain persiapan seperti sebelumnya yaitu perawatan vokal infeksi laboratorium, semua pasien dilakukan rapid tes disaat konsul di poliklinik dan diteruskan swab tenggorokan 4 hari sebelum jadwal operasi, karena hasil swab selesai kurang lebih 3 hari.

“Jika Anda memerlukan pelayanan medis lanjutan, janganlah menunda. Di SHKJ serangkaian protokol kesehatan dilakukan untuk memastikan keselamatan Anda dan kami,” terang dr. Maizul.

Tidak hanya itu, dr Maizul menambahkan semua pasien yang mau operasi harus aranina diri di rumah atau di rumah sakit. Satu hari sebelum operasi, dilakukan CT Lung Low Dose untuk melihat adanya tanda-tanda infeksi virus di paru-paru yang berupa Ground Glass Opacity. Bia hasilnya positif, operasi ditunda dan dilakukan pengobatan Covid terlebih dahulu. Bagi pasien rujukan dari daerah luar Jakarta, harus dilakukan rapid test di daerah asalnya dan datang ke Jakarta 1 minggu sebelum operasi untuk persiapan dan screening Covid-19. Bagi tenaga kesehatan di kamar operasi memakai APD level 3. 

“Dengan kebijakan ini diharapkan bedah jantung akan bisa dilakukan seperti biasa. Sejak Mei 2020 hingga saat ini, kami sudah kembali melakukan operasi total sebanyak 33 operasi. Kebanyakan adalah kasus gawat darurat dan kasus yang mempunyai risiko tinggi,” tutupnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN