Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aparatur sipil negara (ASN) Kabupaten Bekasi menerima vaksin Covid-19 dosis pertama di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang Timur, Senin (1/3/2021). Foto: BeritasatuPhoto/Mikael Niman

Aparatur sipil negara (ASN) Kabupaten Bekasi menerima vaksin Covid-19 dosis pertama di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang Timur, Senin (1/3/2021). Foto: BeritasatuPhoto/Mikael Niman

Jangan Ragu Divaksin, Ini Alasan Vaksin Covid-19 Cepat Ditemukan dan Aman

Sabtu, 6 Maret 2021 | 21:21 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Masyarakat Indonesia semakin banyak yang sudah melakukan vaksin Covid-19. Setelah petugas kesehatan (nakes), petugas pelayanan umum, dan wartawan, kini bergilir ke orang lanjut usia dan para guru. Meski begitu, masih banyak masyarakat yang meragukan keamanan dan efektivitasnya.

 

Apoteker apt Drs Djoharsjah memaparkan bagaimana proses pembuatan vaksin Covid-19 dilakukan, sehingga dalam waktu satu tahun sudah dapat digunakan, termasuk di Indonesia. Djoharsjah menjelaskan, Covid-19 disebabkan oleh virus SARSCov-2, Severe Acute Respiratory Sindrom. Jenis virus ini masuk dalam kelompk corona yang beberapa tahun lalu sudah pernah ada yaitu MERS (Midle East Respiratory Sindrome), yang muncul dimulai dari Timur Tengah dan SARS. Pada waktu itu sudah ada kekhawatiran bahwa infeksi itu akan menjadi pandemi, meluas, sehingga pakar dari segala penjuru dunia sudah mulai mencari vaksinnya.

 

‘’Alhamdulillah kedua penyakit tersebut mereda, sehingga dasar mencari vaksin kedua penyakit itu disimpan dulu. Sekarang muncul penyakit yang disebabkan SARSCov-2, dalam banyak hal sangat mirip dengan SARS dan MERS yang awalnya vaksinnya sudah mulai dicari. Keilmuan dan informasi awal saat mencari vaksin MERS dan SARS itu sangat berguna untuk langsung digunakan dalam mencari vaksin Covid-19,’’ jelas Djoharsjah dalam bincang-bincang di acara Nina Nugroho Solution, baru-baru ini

 

Kemajuan teknologi

 

Djoharsjah menjelaskan, bahwa vaksin Covid bisa ditemukan lebih cepat, karena sebagian ilmu awal sudah ada di kantong peneliti, ilmuwan. “Karena itu, saat mulai mencari vaksin Covid-19 ini sudah bukan dari titik nol lagi.

Itu yang pertama. Kedua, dalam dua tiga tahun terakhir, telah terjadi begitu banyak kemajuan teknologi di bidang komputer yang dapat digunakan di dalam proses pencarian vaksin ini. Teknologi komputer ini sangat membantu mempercepat penemuan vaksin Covid-19,’’ tutur mantan direksi Bio Farma yang kini menjadi dosen di Fakultas Farmasi Universitas Pancasila.

 

Ketiga adalah dengan pendekatan manajerial. Dalam proses normal, upaya pencarian sebuah vaksin baru, tahapan awalnya adalah memastikan bahwa vaksin tersebut aman. Keamanan adalah syarat mutlak. Setelah aman baru kemudian ditinjau efektifitasnya. Untuk memastikan keamanan tersebut, maka dilakukan uji pra klinis kepada hewan percobaan.

 

“Dari hasil uji pra klinis itu, akan dapat dipastikan, keamanannya bila diujicobakan kepada manusia, melalui uji klinis fase 1, fase 2 dan fase 3. Sejak uji klinis fase 1, pesertanya adalah manusia, tidak boleh ada peserta uji klinis yang nanti menjadi korban. Karena itu uji pra klinis kepada hewan percobaan sangat penting,” tegas dia.

 

 

 

Pada uji klinis fase 1, diujicobakan kepada manusia dalam jumlah sedikit. Dalam fase ini, fokus penelitian adalah pada faktor keamanan. Bila terbukti aman, kemudian dilanjutkan ke uji klinis fase 2 dengan jumlah orang yang terlibat lebih banyak. Arah yang dicari bukan hanya memperdalam soal keamanan, tetapi sudah mulai melebar kepada masalah kemanjuran vaksin.

 

Pada uji klinis fase 3 sudah mulai dengan jumlah yang lebih besar dengan tempat penelitian harus lebih dari 1, atau disebut multicenter. Dalam hal vaksin Sinovac, uji coba dilakukan Turki, Brasil, dan Indonesia dengan sasaran populasi yang berbeda-beda.

 

Dalam keadaan bukan pandemi, hasil uji klinis fase 1 itu harus dianalisa terlebih dulu, dan bisa membutuhkan waktu beberapa bulan, sebelum bisa melanjutkan ke uji klinis fase 2. Begitu juga dari fase 2 ke fase 3. Tapi dalam kondisi pandemi ini dilakukan perubahan manajemen, uji fase 1 dan fase 2 dilakukan secara serentak di tempat yang berbeda. Di satu tempat uji dengan protokol fase 1, lalu dilakukan secara paralel dan independent di tempat lain untuk uji fase 2.

 

‘’Tapi risikonya adalah kalau dalam uji fase klinik fase 1 ternyata dinyatakan gagal, maka uji klinik fase 2 ini dianggap tidak berlaku. Tidak bisa dipakai. Jadi perubahan manajemen itu sudah mempersingkat waktu, karena dia bisa jalan paralel tidak harus saling menunggu. Jadi itu kenapa vaksin Covid kok bisa ditemukan lebih cepat, dibanding vaksin lain yang justru lama sekali tidak ketemu,’’ ungkap Djoharsjah.

 

Ia kemudian menceritakan pengalamannya saat memperkenalkan vaksin Hepatitis B di Indonesia. Penyakitnya sendiri sudah ditemukan sejak belasan tahun, tapi mencari vaksinnya ternyata tidak mudah, dengan keilmuan yang ada pada waktu itu.

 

‘’Vaksin Hepatitis B akhirnya ditemukan di pertengahan tahun 1980an, ketika para ilmuwan mau mengubah pola pikirnya dalam upaya menemukan vaksin ini. Sejak itu, ilmu pengetahuan terus berkembang. Sekarang sudah tahun 2021, perkembangan sains sudah luar biasa, ditambah perkembangan teknologi komputer yang sangat mendukung, sehingga alhamdulillah, vaksin Covid-19 bisa segera ditemukan. Semoga pandemi Covid-19 ini bisa segera diatasi,’’ tutur Djoharsjah.

Editor : Mardiana Makmun (nana_makmun@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN