Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
kiri ke kanan: dr Yoska Yasahardja - Medical & Technical Affairs Manager Consumer Health, P&G Health, Wens Arpandy - Group Brand Manager, P&G Consumer Health Indonesia, dr. Endang Sri Wahyuningsih, MKM, Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular, Kesehatan Jiwa dan NAPZA (PTMKJN) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Prof. Dr. dr. Mardi Santoso, DTM&H, SpPD-KEMD, FINASIM, FACE, Ketua Pesatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi dan Depok,  dr Rudy Kurniawan - Founder Komunitas Sobat Diabet dalam bincang-bincang bertema Neuropati Diabetes di Jakarta, Senn (18/11/2019)

kiri ke kanan: dr Yoska Yasahardja - Medical & Technical Affairs Manager Consumer Health, P&G Health, Wens Arpandy - Group Brand Manager, P&G Consumer Health Indonesia, dr. Endang Sri Wahyuningsih, MKM, Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular, Kesehatan Jiwa dan NAPZA (PTMKJN) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Prof. Dr. dr. Mardi Santoso, DTM&H, SpPD-KEMD, FINASIM, FACE, Ketua Pesatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi dan Depok, dr Rudy Kurniawan - Founder Komunitas Sobat Diabet dalam bincang-bincang bertema Neuropati Diabetes di Jakarta, Senn (18/11/2019)

Kebas dan Kesemutan pada Penderita Diabetes dapat Dicegah dengan Suplementasi Vitamin B

Mardiana Makmun, Senin, 18 November 2019 | 19:43 WIB

JAKARTA, Investor.id - Kesemutan, kebas (baal), dan nyeri, umumnya dialami oleh penderita diabetes melitus. Dalam medis, gejala-gejala yang dialami penderita diabetes tersebut disebut penyakit Diabetic peripheral neuropathy atau neuropati diabetes.

“Neuropati adalah penyakit karena kerusakan sel syaraf tepi sehingga menyebabkan rasa kebas atau baal, kesemutan, dan nyeri. Sebanyak 64,6% penderita diabetes melitus menunjukkan gejala neuropati. Ini gejala terbanyak pada penderita diabetes,” kata Prof. Dr. dr. Mardi Santoso, DTM&H, SpPD-KEMD, FINASIM, FACE, Ketua Pesatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi dan Depok, dalam bincang-bincang yang digelar Neurobion di Jakarta, Senin (18/11/2019).

Bagaimana komplikasi ini bisa terjadi? “Pada penderita diabetes, kadar gula dalam tubuh yang tinggi dalam kurun waktu yang lama akan melemahkan dinding pembuluh darah yang memberikan nutrisi ke sel saraf, sehingga dapat merusak sel saraf. Hal itu yang menyebabkan penderita diabetes memiliki risiko tinggi terkena kerusakan saraf tepi atau neuropati perifer. Jika diabetes dan kerusakan saraf tidak segera ditangani sedini mungkin, maka akan mencapai tahap krusial, sehingga kelainan saraf tersebut  makin sulit untuk dapat pulih seperti semula,” jelas Prof.Mardi.

Ya, pada tingkat lanjut, kerusakan syaraf tepi menyebabkan penderita diabetes tidak dapat merasakan rasa sakit di kulitnya. “Akibatnya, ketika tergores atau luka, umumnya penderita tidak mengetahuinya, tahu-tahu sudah luka dan sulit sembuh karena pembuluh darah rusak sehingga tidak cukup membawa nutrisi untuk kulit yang luka tersebut,” terang Prof.Mardi.

Data International Federation (IDF) Tahun 2017 menunjukkan bahwa 50 persen penderita diabetes berisiko terkena gejala neuropati. Di Indonesia sendiri, terdapat lebih dari 10 juta kasus diabetes dan data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi Diabetes Melitus (DM) pada tahun 2018 sebesar 10,9% yang menggunakan konsensus PERKENI 2015. Hal ini tentu perlu mendapatkan perhatian lebih karena neuropati merupakan concealed disease, yang bila tidak diobati
akan berkembang dan dapat memiliki dampak signifikan pada kualitas hidup.

“Sebanyak 50% penderita diabetes melitus menderita komplikasi neuropati. Maka dari itu, keluarga berperan penting untuk membantu mencegah dan mendeteksi risiko gejala neuropati agar penderita dapat segera mendapatkan diagnosa akurat sedini mungkin,” tegas Wens Arpandy, grup brand manage, P&G Consumer Health Indonesia.

Sebetulnya, kata dr. Yoska Yasahardja – Medical & Technical Affairs Manager Consumer Health, P&G Health, neuropati pada penderita diabetes dapat dicegah dengan memberikan suplementasi vitamin B yaitu B1, B6, dan B12. “Penderita diabetes melitus biasanya diterapi dengan obat metformin untuk menurunkan kadar gula darah menjadi normal. Sayangnya, metformin memiliki efek samping menghambat penyerapan vitamin B sehingga memperparah terjadinya komplikasi neuropati. Nah, ini dapat dicegah dengan memberikan suplemen vitamin B1, B6, dan B12,” terang dr.Yoska.

Bagaimana efektivitas penyerapan vitamin B tersebut dan hasilnya? dr.Yoska menegaskan sejumlah penelitian mengungkap hasilnya menggembirakan.  “Salah satu kelompok responden penelitian NENOIN adalah 104 pasien diabetes yang mengalami gejala ringan dan sedang. Selama masa penelitian, responden mengonsumsi satu tablet vitamin neurotropik sekali sehari setelah makan. Kombinasi vitamin neurotropik yang digunakan adalah vitamin B1 (100mg), B6 (100mg), dan B12 (5000μg) dari Neurobion Forte. Setelah monitoring berkala pada Hari ke-1, ke-14, ke-30, ke-60, dan ke-90, gejala neuropati pada pasien berkurang signifikan hingga 66%,” ungkap dr.Yoska.(nan)

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA