Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Konferenai pers PRAISE yang merupakan gabungan dari enam perusahaan di Indonesia yaitu Coca Cola, Danone, Indofood, Nestle, Tetra Pak dan Unilever kerjasama dengan Mckinsey.org menginisiasikan program Bali Bersih di Jakarta, Kamis (12/9).

Konferenai pers PRAISE yang merupakan gabungan dari enam perusahaan di Indonesia yaitu Coca Cola, Danone, Indofood, Nestle, Tetra Pak dan Unilever kerjasama dengan Mckinsey.org menginisiasikan program Bali Bersih di Jakarta, Kamis (12/9).

Keberhasilan Pengelolaan Sampah dengan Ekonomi Sirkular

Indah Handayani, Kamis, 12 September 2019 | 22:58 WIB

JAKARTA, investor.id - Di Indonesia, usaha daur ulang adalah salah satu wujud sirkular ekonomi secara bertanggung jawab. Namun, usaha daur ulang tersebut akan mengalami kendala tanpa proses pemilihan sampah yang benar.

Hal itu telah dibuktikan oleh Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment atau Asosiasi Kemasan dan Daur Ulang untuk Lingkungan Berkelanjutan di Indonesia (PRAISE) yang merupakan gabungan dari enam perusahaan di Indonesia yaitu Coca Cola, Danone, Indofood, Nestle, Tetra Pak dan Unilever melalui inisiasi program Desa Kedas di Bali sebagai proyek percontohan Bali Bersih.

Sinta Kaniawati, perwakilan PRAISE, mengatakan program Desa Kedas yang bekerjasama dengan Mckinsey.org ini bertujuan untuk membangun program komunitas yang berkelanjutan dalam rangka membantu lingkungan dan perkotaan mengatasi permasalahan sampah kemasan yang mereka hadapi melalui ekonomi sirkular.

Menurut Sinta, metode ekonomi sirkular bisa memungkinkan sampah kemasan memiliki daya guna dan nilai ekonomis. Berdasarkan laporan dari Ellen MacArthur, tanpa pemahaman ekonomi sirkular, 95% nilai ekonomis bahan kemasan termasuk plastik sekali pakai akan hilang. "Sebaliknya dengan landasan ekonomi sirkular, 53% sampah contohnya di Eropa bisa di daur ulang dan menghasilkan uang," ungkap Sinta di Jakarta, Kamis (12/9).

Shannon Bouton, Global Executive Director, Sustainable Communities at McKinsey.org, mengatakan solusi bagi persoalan sampah di Indonesia dapat dimulai dari perbaikan sistem pengangkutan sampah dan pengembangan pasar daur ulang. Bahan daur ulang yang sudah dikumpulkan perlu sebanyak mungkin kembali digunakan untuk tujuan produktif - plastik, sampah organik, dan bahan lainnya yang memiliki nilai jual.

"Itulah sebabnya kami membentuk Desa Kedas, yang merupakan kolaborasi antara program PRAISE Bali Bersih dan program global McKinsey.org, Rethinking Recycling," jelas Buoton.

Konferenai pers PRAISE yang merupakan gabungan dari enam perusahaan di Indonesia yaitu Coca Cola, Danone, Indofood, Nestle, Tetra Pak dan Unilever kerjasama dengan Mckinsey.org menginisiasikan program Bali Bersih di Jakarta, Kamis (12/9). Bertujuan untuk  membangun program komunitas yang berkelanjutan dalam rangka membantu lingkungan dan perkotaan mengatasi permasalahan sampah kemasan yang mereka hadapi melalui ekonomi sirkular
Konferenai pers PRAISE yang merupakan gabungan dari enam perusahaan di Indonesia yaitu Coca Cola, Danone, Indofood, Nestle, Tetra Pak dan Unilever kerjasama dengan Mckinsey.org menginisiasikan program Bali Bersih di Jakarta, Kamis (12/9). Bertujuan untuk membangun program komunitas yang berkelanjutan dalam rangka membantu lingkungan dan perkotaan mengatasi permasalahan sampah kemasan yang mereka hadapi melalui ekonomi sirkular

I Gusti Made Gede selaku Ketua BPD Desa Sanur Kauh mengatakan sebelum mengikuti program Desa Kedas, sistem Tempat Pembuangan Sampah - Reuse, Reduce, Recycle  (TPS3R) yang ada belum berjalan dengan baik. Operasional TPS3R sangat terhambat dan secara ekonomi tidak stabil. Setelah enam bulan program ini berjalan, saat ini semakin banyak warga yang memilah sampah dari rumah. TPS3R di Sanur Kauh telah secara konsisten mendatangkan keuntungan bukan hanya secara ekonomi namun juga memiliki sistem kerja yang baik dan para pekerja yang terlatih.

"Dengan program ini terhadap para petugas kebersihan dan pengangkut sampah, sekarang mereka memiliki seragam, perlengkapan kerja, pelatihan soft skill, serta gaji yang memadai. Saya berharap program ini dapat selalu berkembang dan semakin banyak warga dan komunitas yang turut serta menjalankan program ini," paparnya.

Lebih lanjut Sinta menjelaskan Bali Bersih program, pihaknya telah membuktikan bahwa pengolahan sampah akan berhasil dengan menggunakan sistem ekonomi sirkular apabila ada keterlibatan dari Extended Stakeholder Responsibilit, perubahan perilaku terkait 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang dapat tercapai belalui edukasi berkelanjutan. Serta, keterlibatan pemerintah baik melalui peraturan ataupun penyediaan sarana dan prasarana.

Menurut Sinta, Bali Bersih bisa menjadi percontohan intervensi untuk peningkatan dari TPS3R serta TPS di Indonesia dalam pengelolaan sampah yang lebih baik. Pihaknya berharap berjalannya program ini bisa memberikan pandangan baru bagi masyarakat dalam hal kemasan paska konsumsi yang bisa memiliki nilai ekonomi apabila bisa dikelola dengan baik.

"Untuk itu, diperlukan kolaborasi yang lebih menyeluruh dari semua pihak agar kita bisa mendukung target Jakstranas yang sudah dicanangkan pemerintah," tutup Sinta.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA