Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (RS MMC) membuka layanan Cardiovascular Centre One Stop Service.  Artinya, pasien dapat memperoleh pelayanan konsultasi bersama spesialis, diagnosa secara menyeluruh, pengambilan obat di lantai yang sama hingga terapi penyakit jantung koroner.

Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (RS MMC) membuka layanan Cardiovascular Centre One Stop Service. Artinya, pasien dapat memperoleh pelayanan konsultasi bersama spesialis, diagnosa secara menyeluruh, pengambilan obat di lantai yang sama hingga terapi penyakit jantung koroner.

Kenali Komplikasi Jantung Koroner

Indah Handayani, Kamis, 23 Januari 2020 | 16:26 WIB

JAKARTA, investor.id - Penyakit jantung koroner (PJK) jika tidak tertangani dengan baik dapat memicu beberapa komplikasi yang berakibat fatal. Apa sajakah itu?

Dokter Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah RS Metropolitan Medical Centre (MMC) Dr. dr. Eka Ginanjar, SpPD, KKV, FINASIM, FACP, FICA, MARS mengatakan bahwa PJK merupakan kondisi pembuluh darah jantung (arteri koroner) tersumbat oleh timbunan lemak. Jika lemak semakin menumpuk akan mempersempit arteri dan akibatnya aliran darah ke jantung menjadi berkurang.

Untuk mengenali serangan jantung itu, dr Eka menyebutkan ada beberapa ciri, yakni nyeri dada yang biasanya terasa di bagian tengah atau kanan atau kiri atau ulu hati, dapat terjadi lebih dari 15 menit atau lebih, rasanya seperti tertindih benda berat, atau dada seperti terikat, disertai penjalaran ke lengan kiri atau kadang-kadang kanan, leher, rahang, disertai keringat dingin, mual. Kadang-kadang muntah, juga terjadi komplikasi sesak, lemah, pingsan, dan kejang.

"Selain serangan jantung, PJK memiliki komplikasi berupa gangguan irama jantung (aritmia). Sayangnya, aritmia kerap tidak terdeteksi sebagai penyakit jantung, padahal akibatnya fatal," ungkap Dr Eka di Jakarta, Kamis (23/01).

Prof Dr dr Yoga Yuniadi SpJP (K), Dokter Spesialis Kardiovaskular dari RS MMC menjelaskan normalnya, jantung berdenyut sebanyak 50-90 kali per menit. Saat denyut jantung berdenyut cepat dia akan berdetak hingga 200 kali per menit. Sementara itu, denyut jantung melambat ketika denyut irama jantung terhitung 40 kali per menit. Gangguan irama jantung (aritmia) terjadi akibat pembentukan dan atau penjalaran impuls listrik sehingga memunculkan denyut jantung yang tidak beraturan.

"Denyut jantung berdetak cepat disebut takiaritmia, sebaliknya denyut jantung yang melambat dikenal sebagai bradiaritma. Bila aritmia tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan kerusakan otak secara permanen hingga kematian mendadak," jelas Prof Yoga.

Menurutnya, cara untuk menangani aritmia ini dengan metode pemasangan Left Atrial Appendage (LAA) Closure, strategi penanganan terbaik untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penggumpalan (pembekuan) darah di serambi jantung kiri di serambi jantung kiri (left atrial appendage sac) kantung di kiri jantung di mana sering terjadi pembekuan darah memasuki arteri darah atau pembuluh darah otak dengan melakukan penutupan serambi kantung jantung kiri (left atrial appendage sac) menggunakan alat kecil bernama watchman/amplatzer cardiac plug/lariat.

Di samping menangani kasus aritmia dengan metode LAA Closure, dr Sunu Budhi Raharjo PhD, SpJP (K), Dokter Spesialis Kardiovaskular RS MMC mengatakan bahwa aritmia dapat ditangani dengan metode Ablasi Kateter Elektronis, yang lebih ampuh untuk menyembuhkan total dan tidak hanya meringankan gejala. "Bahkan tingkat keberhasilan sekitar 97%," ucap dr Sunu.

Melihat penyakit jantung ini berujung pada akibat fatal, dr. Roswin R Djafar, MARS Direktur Utama dari Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (RS MMC) menyadari bahwa masyarakat mesti mendapatkan pelayanan penyakit jantung secara komprehensif.

Oleh karena itu, pihaknya membuka layanan Cardiovascular Centre One Stop Service.

Artinya, pasien dapat memperoleh pelayanan konsultasi bersama spesialis, diagnosa secara menyeluruh, pengambilan obat di lantai yang sama hingga terapi penyakit jantung koroner.

"Jika dibutuhkan tindakan lebih lanjut, pasien dapat melakukan terapi penyakit jantung koroner secara langsung, seperti pemasangan ring dan operasi bypass jantung di lokasi yang sama," tutup dr Roswin.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN