Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Stop pornografi. Foto ilustrasi: elshinta.com

Stop pornografi. Foto ilustrasi: elshinta.com

KKI Gelar Edukasi Seks pada Remaja Cegah Pornografi

Emral Firdiansyah, Minggu, 8 Desember 2019 | 22:29 WIB

JAKARTA, investor.id - Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah akan masalah sosial yang perlu perhatian berkaitan dengan pornografi. Menurut Kepala Pusat Pengabdian Pada Masyarakat Universitas Mercu Buana Dr Inge Hutagalung MSi, pornografi mengakibatkan kerusakan pada lima bagian otak, terutama pada pre frontal corteks (bagian otak yang tepat berada di belakang dahi ß otak logika).

Akibatnya bagian otak yang bertanggung jawab untuk logika akan mengalami cacat karena hiperstimulasi tanpa filter (otak hanya mencari kesenangan tanpa adanya konsekuensi). Rusaknya otak akan mengakibatkan korban akan mudah mengalami bosan, merasa sendiri, marah, tertekan dan lelah. Selain itu, dampak yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan prestasi akademik dan kemampuan belajar, serta berkurangnya kemampuan pengambilan keputusan.

Menyadari akibat negatif yang ditimbulkan oleh pornografi, Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Provinsi DKI Jakarta mengadakan seminar sehari Pencegahan Kecanduan Pornografi Remaja, Jakarta, Minggu (8/12/2019). Seminar yang diresmikan oleh Ketua KKI DKI Jakarta, Dr Margani ini memberikan pembekalan pencegahan dan penanggulangan kecanduan pornografi di kalangan remaja.

Melalui seminar ini diharapkan peserta yang terdiri dari lebih kurang 100 orang Guru Bimbingan Konseling  (BK) dan Kepala/Wakil Kepala Sekolah di DKI Jakarta lebih menyadari bahaya pornografi, memahami tingkat adiksi pada diri sendiri terkait pornografi, dan upaya pencegahan dini.

Dr Inge Hutagalung lebih lanjut menjelaskan bahwa edukasi seks bagi remaja hingga saat ini masih merupakan masalah yang tidak henti-hentinya diperdebatkan. Argumen pertama memandang perbincangan tentang topik seks dianggap tabu atau tidak lazim untuk dibicarakan dalam budaya bangsa, karena seks adalah masalah yang terlalu pribadi atau dianggap sebagai persoalan “dalam selimut”. Ada asumsi bahwa bila remaja mendapat edukasi tentang seks, khususnya masalah pelayanan kesehatan reproduksi, justru akan mendorong remaja melakukan aktivitas seksual dan promiskuitas lebih dini.

Sementara itu, argumentasi kedua menyatakan, remaja membutuhkan ilmu tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya dan implikasi pada perilaku seksual dalam rangka menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran terhadap kesehatannya.

Pembekalan edukasi seks secara umum merupakan suatu proses mendidik yang bersifat kognitif, yang memiliki dampak yang luas terhadap konatif dan perilaku seseorang.

Lebih lanjut, Inge Hutagalung yang juga merupakan Wakil Ketua I KKI DKI Jakarta menyarankan sudah saatnya untuk dipikirkan dan dipertimbangkan kebijakan pemerintah terkait pemberian pendidikan kesehatan reproduksi dalam kurikulum pendidikan sekolah sebagai solusi pemberian pengetahuan yang lebih memadai tentang seks pada remaja.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA